JK di NIU: Transisi Energi Hijau Tak Mudah, Butuh Koloborasi Pemerintah dan Dunia Usaha
Jarang Minum Air Putih Setelah Bangun Tidur? Ini 6 Dampaknya bagi Tubuh
Cara Menyiapkan Mental Sebelum Melakukan Downsizing atau Downgrading, Hal Apa yang Harus Jadi Prioritas?
5 Latihan Tanpa Beban yang Bisa Membantu Membentuk Otot Setelah Usia 50 Tahun
6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang
Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
Ilustrasi (Pexels.oom)
Dream - Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA) merilis analisis baru yang menunjukkan kerusakan kondisi pada perjalanan udara akibat Covid-19 bakal terjadi hingga 2023. Kondisi ini juga memberikan dampak terparah bagi perjalanan jarak jauh.
Dikutip dari Lonely Planet, ketika pemulihan akibat pandemi dimulai diharapkan penerbangan domestik akan cepat diperbaiki. IATA juga memperkirakan lalu lintas penumpang tidak akan pulih ke tingkat sebelum krisis sampai setidaknya 2023.
Menurut rilis IATA, permintaan penumpang global pada 2021 akan menjadi 24 persen di bawah level 2019 dan 32 persen lebih rendah dari perkiraan yang dibuat pada Oktober 2019.
Analisa ini didasarkan pada lambatnya perkembangan ekonomi dan pelonggaran pembatasan perjalanan jika lockdown terus diperpanjang hingga kuartal ketiga tahun ini.
© Ilustrasi Travelling dengan Pesawat (Sumber:Pexels.com)
IATA juga memperkirakan tindakan karantina pada saat kedatangan akan semakin memperkecil peluang seseorang berniat melakukan perjalanan udara dengan pesawat.
Dalam sebuah survei baru-baru ini, sekitar 69 persen pelancong menyatakan tidak akan mempertimbangkan bepergian jika mereka diwajibkan karantina 14 hari.
Kondisi ini mendesak pemerintah untuk menemukan alternatif untuk mempertahankan atau memperkenalkan tindakan karantina kedatangan sebagai bagian dari pembatasan perjalanan pasca-pandemi.
Dengan pendekatan berlapis berbasis risiko dan langkah-langkah pengawasan secara global, akan sangat penting untuk memulai kembali perjalanan udara.
Setelah pandemi berakhir, tentu memakan waktu lebih lama untuk membangun kembali kepercayaan penumpang dalam bepergian dengan pesawat.
Menurut direktur jenderal dan CEO IATA, Alexandre de Juniac, dia percaya pelancong individu dan perusahaan cenderung akan lebih berhati-hati mengelola pengeluaran perjalanan mereka dan berusaha tinggal lebih dekat dengan rumah.
" Untuk melindungi kemampuan penerbangan bagi pemulihan ekonomi, kita tidak boleh membuat kesan perjalanan lebih buruk dengan membuat tindakan tidak praktis karantina," katanya.
" Kami membutuhkan solusi untuk perjalanan aman yang mengatasi dua tantangan. Untuk memberikan kepercayaan penumpang melakukan perjalanan dengan aman dan tanpa kerumitan yang tidak semestinya. Pemerintah harus bisa menjamin mereka dilindungi dari tertularnya virus," tambah de Juniac.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

JK di NIU: Transisi Energi Hijau Tak Mudah, Butuh Koloborasi Pemerintah dan Dunia Usaha

Jarang Minum Air Putih Setelah Bangun Tidur? Ini 6 Dampaknya bagi Tubuh
