JK di NIU: Transisi Energi Hijau Tak Mudah, Butuh Koloborasi Pemerintah dan Dunia Usaha
Jarang Minum Air Putih Setelah Bangun Tidur? Ini 6 Dampaknya bagi Tubuh
Cara Menyiapkan Mental Sebelum Melakukan Downsizing atau Downgrading, Hal Apa yang Harus Jadi Prioritas?
5 Latihan Tanpa Beban yang Bisa Membantu Membentuk Otot Setelah Usia 50 Tahun
6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang
Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
(Foto: Mantas Matekaitis/boredpanda.com)
Dream - Banyak desa pedalaman yang menyimpan keunikannya sendiri. Tak hanya memukau, budaya di dalamnya terkadang bisa membuat orang tercengang. Seperti pengalaman yang dialami oleh pelancong ini.
Olga Stavrakis, seorang profesor dari Universitas Minnesota, Amerika Serikat, baru saja menjelajah ke Desa Tiebele di pedalaman Afrika Barat. Desa itu sebenarnya bukan merupakan daerah turis karena sifatnya yang tertutup. Olga bisa memasukinya karena telah melakukan proses negosiasi dari tahun sebelumnya.
Tiebele didominasi oleh masyarakat Muslim dan Animisme. Untuk dapat masuk ke dalamnya, Olga dihimbau agar tidak membawa payung serta mengenakan barang apapun yang berwarna merah. Sebab, hanya keluarga kepala suku yang boleh memilikinya.
Desa terdiri dari banyak bangunan yang terbuat dari lumpur. Setiap rumah memiliki motif geometris yang berbeda-beda. Jalan masuknya pun unik, yakni hanya berupa lubang kecil seperti pintu masuk hewan peliharaan.
'Istana Lumpur' itu dikuasai oleh keluarga kepala suku. Sang pemimpin telah lama meninggal, namun jasadnya masih belum dikebumikan. Di desa ini, pemakaman merupakan upacara sakral yang terdiri dari banyak tahapan.
Ada beberapa tarian khusus yang harus dilakukan ketika hendak memakamkan seseorang. Penarinya mengenakan atribut khusus dengan nuansa merah sebagai tanda penghormatan pada kepala suku.
Ritual ini tentunya memakan banyak biaya. Itulah mengapa, ada beberapa jasad yang 'ditidurkan' di tempat yang sama dengan orang hidup. Mereka akan menunggu sampai biaya pemakaman keluarganya telah tercukupi.
(Sumber: boredpanda.com/Annisa Mutiara Asharini)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

JK di NIU: Transisi Energi Hijau Tak Mudah, Butuh Koloborasi Pemerintah dan Dunia Usaha

Jarang Minum Air Putih Setelah Bangun Tidur? Ini 6 Dampaknya bagi Tubuh
