JK di NIU: Transisi Energi Hijau Tak Mudah, Butuh Koloborasi Pemerintah dan Dunia Usaha
Jarang Minum Air Putih Setelah Bangun Tidur? Ini 6 Dampaknya bagi Tubuh
Cara Menyiapkan Mental Sebelum Melakukan Downsizing atau Downgrading, Hal Apa yang Harus Jadi Prioritas?
5 Latihan Tanpa Beban yang Bisa Membantu Membentuk Otot Setelah Usia 50 Tahun
6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang
Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
Desa Ko Panyi (Foto: Parshina Marina/Shutterstock)
Dream - Di sebuah teluk di Thailand selatan, di bawah bayang-bayang tebing kapur yang sangat vertikal, ratusan gubuk, restoran, dan rumah berkumpul bersama membentuk Desa Ko Panyi. Laut sekitar yang dangkal dan tenang memungkinkan nelayan untuk membangun rumah panggung yang aman di atas permukaan air.
Di Thailand Selatan, mayoritas penduduk adalah Muslim. Begitupula dengan desa ini yang mayoritas warganya adalah Muslim. Itulah mengapa, Desa Ko Panyi dikenal sebagai Moslem Village. Para wanita di pulau ini juga mengenakan hijab, seperti wanita Muslim pada umumnya.
Dikutip dari Amusing Planet, lebih dari 300 keluarga dan hampir 1.500 orang tinggal di Ko Panyi. Semua warga di sana adalah keturunan Toh Baboo dan keluarga dan teman-temannya, yang berlayar dari Indonesia dan menetap di sini sekitar 200 tahun yang lalu.

(Foto: Karina Lopatina/Shutterstock)
Pada masa itu, orang asing tidak diizinkan memiliki tanah di Thailand, dan karena itu Toh Baboo dan dua keluarga lainnya membangun rumah panggung di teluk. Selama berabad-abad desa itu terus tumbuh, semakin luas dan bertambah kaya. Sekarang mereka memiliki sekolah, masjid, pusat kesehatan, banyak toko suvenir kecil, restoran dan bahkan lapangan sepak bola terapung.
Yang menarik perhatian adalah masjid berkubah emas yang di bangun di atas air. Masjid Panyi bahkan sudah terlihat saat kapal turis mendekati pulau.

(Foto: roadlessandy/instagram)
Kehidupan di Ko Panyi tak jauh dari kegiatan memancing di laut, tetapi sejak beberapa tahun terakhir pemerintah memberikan penghasilan tambahan untuk penduduk setempat. Kini, setengah penduduk setempat setiap harinya bertugas untuk melayani industri pariwisata, namun 40 persen penduduknya masih menjalani pekerjaan mereka sebagai nelayan.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

Jarang Minum Air Putih Setelah Bangun Tidur? Ini 6 Dampaknya bagi Tubuh


5 Latihan Tanpa Beban yang Bisa Membantu Membentuk Otot Setelah Usia 50 Tahun