Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?
Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?
Kalau Semua Informasi Ada di Socmed, Apa Alasan Kita Membaca?
Bisa Nggak Wahyu Ningsih Jadi CEO Microsoft?
Jika Guru Digaji Lebih Layak, Apakah Kualitas Pendidikan Indonesia Akan Meningkat?
Dunia Endgame Gita Wirjawan
Dunia Endgame Gita Wirjawan
Anak Bermain
Dream - Menghadapi sikap balita yang selalu menganggap semua barang di rumah adalah miliknya memang sering memusingkan. Saat barang diminta dan dijelaskan kalau tak boleh dimainkan serta bukan miliknya, si kecil bisa mengamuk tak terkendali.
Apalagi jika saat bermain bersama di taman bermain dengan banyak balita lain. Si kecil bisa langsung menguasai mainan tertentu dan menganggap itu miliknya. Sebenarnya ini merupakan fase yang dialami semua balita, fase posesif.
"Aku dan punya aku, termasuk kata-kata pertama yang digunakan anak. Hal ini selalu diungkapkannya dalam banyak hal. Sikap ingin memiliki dan melindungi apapun miliknya akan sangat menonjol. Termasuk merasa sangat memiliki orangtuanya, jika ada yang mendekat atau mengganggu, anak bisa sangat marah," ujar Peter Blake, Ed.D., seorang psikolog dari Boston University, Amerika Serikat.
Penelitian telah menemukan bahwa anak-anak berusia antara 2 hingga 4 tahun cenderung percaya bahwa siapa pun yang memegang barang pertama kali jadi pemilik yang sah. "Aku memilikinya lebih dulu!" boleh dikatakan merupakan 'hukum' yang berlaku pada balita.
Untuk menghadapi sikap posesifnya, para orangtua memang harus ekstra sabar. Ini merupakan tahapan psikologis di mana mereka belum punya kemampuan untuk mengenali situasi dan lingkungannya. Lalu apa yang harus dilakukan orangtua?
Anak-anak tidak diciptakan menjadi seorang yang egois dan antisosial. Kadang lingkunganlah yang membentuknya karena membiarkan sikap posesifnya. Sikap tersebut muncul karena mereka belum punya kematangan psikologis dan emosi untuk tahu mana yang benar dan mana yang salah.
Tugas orangtua lah yang harus memberi penjelasan, contoh, serta teladan yang baik pada anak. Misalnya jika si kecil bermain bersama teman sebaya dan membawa mainan masing-masih. Jelaskan kalau ada mainan miliknya dan ada juga mainan milik teman yang tak boleh diambilnya. Jika ingin meminjam harus izin terlebih dulu. Lakukan ini terus menerus.
"Anak seperti spons, otaknya begitu luar biasa. Contoh berulang akan dimengertinya dan itu akan berdampak positif bagi kematangan emosi dan psikologisnya," ungkap Blake.
Sumber: Parents
Advertisement

Gen Z, Milenial, Gen X, dan Baby Boomer Punya Standar Berbeda soal Keren, Mengapa Muncul Perbedaan?

Sama-Sama Kurang Tidur, tetapi Ada yang Tetap Segar dan Ada yang Lemas? Studi Ungkap Penyebabnya

Bagaimana Fosil Terbentuk? Proses Jutaan Tahun yang Mengawetkan Jejak Kehidupan Purba

Tidak Punya Saham, Mengapa Tetap Perlu Peduli Saat IHSG Anjlok?

Sudah Rajin ke Gym tapi Hasil Tak Terlihat? Ini 8 Kesalahan yang Menghambat Progres

Shopee 11.11 Big sale Hadir dengan Beragam Keseruan, Ini 5 Cara Menikmatinya
