Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Bunga Sakura Di Prefektur Kyoto (Shutterstock.com)
Dream - Mekarnya bunga sakura di Jepang selalu menjadi daya tarik musim semi yang banyak dinanti banyak orang. Tetapi yang mengejutkan, setelah berabad-abad, bunga ini mekar lebih awal.
Dikutip dari Lonely Planet, sejumlah ahli menyebut hal ini mungkin disebabkan oleh perubahan iklim. Cuaca yang lebih hangat di Jepang membuat bunga-bunga di kota Kyoto mekar lebih awal dan mencapai puncaknya pada tanggal 26 Maret.
Menurut data yang dikumpulkan oleh Yasuyuki Aono di Universitas Prefektur Osaka, waktu ini merupakan tanggal paling awal yang pernah ada menurut pencatatan sejak tahun 812 M dalam dokumen dan buku harian istana kekaisaran.
Setiap tahun, Badan Meteorologi Jepang memperbarui ramalan Bunga Sakura serta memperkirakan tanggal berkuncup dan mekarnya pohon Someiyoshino di sekitar 1.000 lokasi pengamatan.
Tanggal mekarnya bunga sakura diketahui dari pola suhu musim gugur tahun sebelumnya. Daun pada pohon sakura biasanya akan mengeluarkan hormon untuk mencegah berbunga lebih awal, tetapi kondisi cuaca juga dapat mempengaruhi proses ini dan membuatnya mekar lebih awal.
© Bunga Sakura mekar (Shutterstock.com)
Benjamin Cook yang merupakan seorang asisten ilmuwan peneliti di Institut Bumi di Universitas Columbia menyatakan penyebab lebih awal mekarnya bunga sakura di Kyoto setelah 200 tahun tersebut disebabkan oleh dua hal.
" Yang pertama adalah perubahan iklim dari pembakaran bahan bakar fosil, yang umumnya dapat membuat seluruh dunia segalanya terasa lebih hangat. Yang kedua adalah efek pulau panas perkotaan yang meningkat,terkait dengan peningkatan urbanisasi di Kyoto, yang juga membuat suhu lokal menjadi lebih hangat," ujar Cook.
Karena mengagumi Sakura adalah kebiasaan orang Jepang, pemerintah di Tokyo dan prefektur sekitarnya menjadi khawatir akan potensi kerumunan orang untuk melihat sakura. Mereka mendesak warga untuk berhati-hati karena masih dalam situasi pandemi Covid-19.
Laporan: Yuni Puspita Dewi
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya