Hijaber (3): Asri Yuniar, Hijaber Vokalis Band Metal Hardcore

Reporter : Ahmad Baiquni
Senin, 11 Mei 2015 20:31
Hijaber (3): Asri Yuniar, Hijaber Vokalis Band Metal Hardcore
Inilah dua dunia hijaber asal Bandung ini. Menjadi guru TK sekaligus vokalis band beraliran cadas.

Dream - Musik itu terdengar mengalun keras. Gebukan pada drum bertalu begitu cepat berpadu dengan lengkingan suara senar gitar listrik. Sesekali, tempo permainan melambat barang beberapa detik, lalu berlangsung cepat kembali.

Seorang wanita muda tampak mengenakan setelan celana dan jaket hitam. Memegang mikrofon sambil berteriak, memadu suaranya dengan alunan musik keras yang kerap disebut aliran metal hardcore. Tapi, penampilannya unik dan begitu menyedot perhatian publik. Ya, wanita ini mengenakan hijab.

Dialah Asri Yuniar. Wanita asal Bandung ini dikenal sebagai vokalis grup band cadas, Gugat. Meski kerap membawakan lagu-lagu keras, Asri tidak pernah sekalipun melepas hijabnya.

Awal perkenalan Asri dengan musik aliran hardcore terjadi saat ia duduk di bangku SMP. Ia merasa tidak menemukan musik yang sesuai dengan dirinya kala itu. Ia mencari musik yang bisa menjadi sarana menyalurkan uneg-uneg.

Suatu hari, ia pergi ke Gelanggang Olah Raga (GOR) Saparua, Bandung. Sengaja ke sana, Asri ingin melihat langsung konser musik yang baru baginya. Seketika, ia seperti menemukan dirinya dalam tiap alunan musik di konser itu, yang merupakan konser grup band aliran hardcore.

Kok beda dengan musik umumnya. Saya tertarik untuk nonton terus sampai selesai. Akhirnya, saya kepikiran untuk selalu menonton konser semacam itu, hanya kepikiran sebagai penikmat, belum sampai terlibat,” ujar Asri ketika berbincang dengan Dream.co.id melalui sambungan telepon.

Minat untuk menjadi penikmat hardcore terus berjalan sampai ia duduk di bangku SMA. Saat kelas I SMA, ia memutuskan membentuk grup band aliran grunge bernama 'Capability.' Grup ini memiliki anggota yang kesemuanya adalah wanita, tepatnya gadis SMA. Di grup ini, Asri dipercaya memegang alat musik bass.

“ Tapi karena saya kira masih kurang serius, akhirnya bubar,” kata dia.

Selang beberapa lama, ada grup band aliran hardcore 'Dining Out' akan berdiri. Mereka mencari vokalis yang pas melalui audisi tertutup. Mendapat kabar itu, Asri lantas memutuskan untuk mengikuti audisi itu, dengan dasar hanya sekadar iseng.

“ Saya iseng-iseng coba. Awalnya saya coba bisa enggak sih, ternyata bisa. Dari keisengan itu, akhirnya jadi vokalis,” terang dia.

Band itu ternyata juga tidak bertahan lama. Tetapi, kiprah Asri di dunia musik hardcore sudah cukup dikenal. Ia kemudian ditawari menjadi vokalis grup band 'Gugat.' Profesi itu ia jalani hingga saat ini. Ia telah berpuluh kali menggelar konser di kota-kota di Jawa dan Sumatera.

“ Paling jauh konser di Medan. Pernah juga di Solo, Surabaya, Banjar, Tasikmalaya, Subang,” ungkapnya.

Selain karakter musik, Asri memiliki alasan lain untuk menyukai hardcore. Baginya, hardcore bukan musik. Ia menganggap hardcore merupakan media melayangkan kritik terhadap fenomena sosial yang kerap terjadi di masyarakat.

Bersama grupnya dan beberapa pelaku musik hardcore lainnya, Asri kerap berdiskusi. Dari situ, ia mendapat pelajaran, musik tidak hanya sekadar berteriak. Harus ada misi yang tersirat di tiap liriknya.

“ Saya belajar bagaimana caranya bikin sesuatu yang enggak asal. Di musik itu kita jadi lebih kritis,” tuturnya.

Alhasil, terciptalah beberapa lagu, yang menjadi buah pikirannya. Seluruh lagu yang termuat dalam album pertama band 'Gugat' merupakan hasil ciptaan Asri. Meski demikian, ia mengaku tidak sendirian dalam menjalani proses kreatif mencipta lagu. Ia selalu berdiskusi dengan timnya. Hingga lahir sebuah album dengan lagu terfavorit ‘Kelam’.

Saat ditayangkan di Youtube, video itu hingga kemarin sudah ditonton ratusan ribu  netizen. Berikut lirik lagu ‘Kelam’:

Kelam menyerukan lamunan
hati binar tergoyah
biar kelam membusuk
bakar hati tertusuk
diam ku hanya diam
sgala cermin hasutan
terkubur dalam kelam
mengiring dalam kegelapan
diam, diam, diam, kelam

Aku bakar dengan dendam
dan harapan kosong
harapan kepalsuan
aku mati dalam kelam
kelam, kelam, kelam  kelam



***

Seperti kebanyakan gadis SMA...

1 dari 2 halaman

Keputusan Memakai Hijab


Seperti kebanyakan gadis SMA, awalnya Asri tidak berhijab. Ia pun kerap berpenampilan seperti remaja lainnya. Kebiasaan itu berubah total usai ia mengikuti pesantren kilat di Pondok Pesantren Daarut Tauhid yang diasuh oleh KH Abdullah Gymnastiar atau Aa Gym.

Pesantren kilat itu berlangsung selama dua minggu. Selama itu pula, Asri berpenampilan tertutup dan mengenakan hijab. Dari sana, ia mendapat pelajaran, hijab merupakan kewajiban bagi setiap muslimah.

“ Itu perintah Allah di dalam Alquran. Saya putuskan berhijab,” tuturnya.

Keputusan itu sontak membuat seluruh orang yang mengenalnya terkejut. Mereka tak menyangka Asri dapat berubah dengan begitu cepat. Respon itu ia dapat dari teman-teman di sekolahnya. 

Meski berhijab, Asri menceritakan ia juga merasakan adanya pergolakan batin. Sebab, penampilannya tidak mendukung untuk terus menjalani kegemarannya bermain musik cadas. 

“ Ada pergulatan batin apakah saya masih bisa ngeband. Apakah masih bisa mengenakan pakaian yang sekarang saya kenakan untuk ngeband,” katanya.

Tetapi, Asri memilih tidak mau dipusingkan dengan keraguan itu. Ia mantap mengenakan hijab sambil terus bermain musik. Sejak saat itu, setiap 'Gugat' tampil, bagian kepala hingga leher Asri selalu terbungkus hijab.

Hal itu tidak berarti menghindarkan Asri dari komentar buruk. Banyak yang mencemooh dia, lantaran bermain musik cadas tetapi berhijab. Cemoohan itu datang dari mana saja, baik dari penikmat musik cadas maupun dari masyarakat biasa. Tetapi, Asri sama sekali tidak terpengaruh.

“ Karena jangankan perempuan berhijab, perempuan biasa saja jarang yang mau berkecimpung dengan musik ini. Bahkan pernah di suatu konser ada yang bilang, ‘Kalau mau ngaji mah di rumah saja’,” terangnya.

“ Saya jalan saja terus. Karena saya yakin tidak ada yang salah dengan apa yang saya lakukan,” lanjutnya.

***
Ada keunikan lain...

2 dari 2 halaman

Menjadi Guru TK


Ada keunikan lain yang juga melekat pada diri Asri. Selain menjadi vokalis, Asri ternyata juga merupakan guru Taman Kanak-kanak (TK). Dunia yang sangat bertolak belakang dengan hobinya. Tetapi, ia sanggup membagi peran di dua lingkungan tersebut.

“ Ketika saya menjadi vokalis, saya tampil maksimal. Ketika jadi guru TK, saya juga berperilaku lazimnya guru TK,” ungkapnya.

Asri punya pandangan sendiri mengenai musik hardcore. Pandangan itu yang membuatnya mampu berperan di dua lingkungan dan tidak saling mempengaruhi.

“ Yang keras itu hanya musiknya. Liriknya semuanya humanis,” terangnya.

Sebelum menjadi guru TK, Asri sempat magang di sebuah bank swasta nasional. Ia mengaku tidak betah dengan cara kerja orang bank. Ia menjalani magang selama enam bulan di balik meja, usai lulus D3 Bahasa Jepang Universitas Padjadjaran (Unpad).

“ Saya sering masuk angin, tidak tahan dengan AC. Bawaannya ingin istirahat melulu dan selalu pegang minyak angin,” terangnya.

Kondisi yang dialami Asri cukup dimengerti oleh sang ayah. Suatu hari, ketika ayahnya mengantarkan Asri berangkat kerja, ia menawarkan pekerjaan sebagai guru TK. Tawaran itu diterimanya. Dan setelah masa magangnya di bank selesai, Asri menjadi guru di TK yang didirikan almarhumah ibunya.

“ Kaget awalnya, karena gajinya jauh beda. Tapi, anehnya saya merasa dekat dengan anak-anak,” katanya.

Cukup lama ia menjalani profesi sebagai guru TK. Ia pun mendapat kesimpulan masing-masing anak memiliki karakter sendiri. Sehingga, butuh cara yang berbeda untuk menangani masing-masing anak.

Kesadaran itu mendorong Asri untuk kembali  kuliah. Tahun 2006, Asri tercatat sebagai mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia (UPI).

“ Saya membutuhkan ilmu lebih, terutama perkembangan anak,” terangnya.

Tidak sebersit pun terlintas di benaknya untuk pindah profesi. Dia cukup senang dengan dunianya saat ini.

Kini, peran Asri bertambah. Selain sebagai vokalis dan guru TK, Asri kini berperan sebagai ibu bagi kedua anaknya, buah pernikahan dengan Hari Gartika. Satu-satunya kendala yang ia hadapi adalah waktunya yang terbatas.

Alhamdulillah, teman-teman di band sudah berkeluarga. Mereka kerap memberi toleransi, misalnya ketika saya hamil dan tidak bisa manggung, mereka mencari pengganti sementara. Ketika ada konser dekat rumah tapi saya masih sibuk dengan anak-anak, saya ajak anak-anak ke lokasi konser. Teman-teman suka membantu membawa barang-barang,” ungkapnya.

Asri membuktikan hijab bukanlah halangan untuk berekspresi. Justru hal itu memberikan dia ciri pembeda dengan orang kebanyakan. Ia pun berpesan kepada para muslimah untuk tidak ragu mengenakan hijab.

“ Sebagai muslimah, berhijab itu wajib. Perkara nanti tidak bisa bergaya, jalani saja dulu, jangan takut dulu. Karena semua akan berproses,” ungkapnya. 

Dari pengalaman uniknya, Asri Yuniar juga membuktikan hijab bukan halangan berkarya. Termasuk di komunitas musik cadas metal hardcore yang didominasi laki-laki. (eh)

Beri Komentar