6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang
Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Ilustrasi (Shutterstock.com)
Dream - China cukup serius membangun konektivitas antar negara di Asia. Komitmen itu, salah satunya dengan membangun jalur kereta.
Saat ini, China tengah menyelesaikan jalur kereta 1.000 menghubungkan Laos. Jalur kereta ini diproyeksikan sebagai sarana transportasi yang mampu mendorong pertumbuhan ekonomi, terutama sektor pariwisata.
Dikutip dari CNN Travel, jalur tersebut menghubungkan Vientiane, ibu kota Laos, dengan Kunming, ibu kota dan kota terbesar di provinsi Yunnan China. Jalur itu akan melewati total 45 stasiun antara kedua negara, di mana sekitar 20 di antaranya akan menyediakan layanan penumpang.
Menurut pernyataan dari Grup Kereta Api China, kereta api China-Laos akan membantu mengubah negara yang lebih kecil dari " negara yang terkurung daratan menjadi negara yang terhubung dengan daratan."
Baik penumpang barang maupun manusia akan dapat pergi ke antara kedua negara tersebut dengan kereta api pada akhir 2021.
© Ilustrasi (Shutterstock.com)
Saat ini, jalur kereta api memiliki panjang total lebih dari 1.000 kilometer. Dibutuhkan sekitar tiga jam perjalanan dari Kunming ke kota perbatasan China, Jinghong.
China telah banyak berinvestasi dalam membangun perkeretaapian dalam dekade terakhir. Mereka juga menambahkan 37.900 kilometer jalur kereta cepat sejak 2008.
Tak hanya itu, China berinvestasi dalam proyek perkeretaapian di negara lain, seperti senilai US$3,6 miliar, setara Rp51,7 triliun di Kenya.
Proyek yang dimulai pada Desember 2016 ini diharapkan beroperasi penuh pada Desember 2021. Sementara Asia Tenggara adalah tujuan populer bagi banyak pelancong China, sedangkan Laos tidak terlalu diminati.
Namun, dengan berjalannya proyek besar kali ini dapat mengubah hal tersebut.
Laporan : Syifa Putri Naomi
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
