Belajar dari SBY, Begini Cara Ubah Janji Kampanye Menjadi Program Nyata Pemerintahan
Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?
Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?
Kalau Semua Informasi Ada di Socmed, Apa Alasan Kita Membaca?
Bisa Nggak Wahyu Ningsih Jadi CEO Microsoft?
Jika Guru Digaji Lebih Layak, Apakah Kualitas Pendidikan Indonesia Akan Meningkat?
Dunia Endgame Gita Wirjawan
Dunia Endgame Gita Wirjawan
Bakteri Difteri
Bakteri pemicu difteri mampu menyerang saluran pernapasan hingga menyebabkan komplikasi.
Dream - Difteri kembali menjadi epidemik di akhir 2017. Ada sekitar 28 provinsi Indonesia yang diserang oleh difteri, penderitanya kebanyakan anak-anak. Bakteri pemicunya mampu menyerang saluran pernapasan hingga menyebabkan komplikasi.
Bakteri corynebacterium pemicu difteri bersifat racun. Apabila terhirup dan kondisi imunitas tubuh lemah, bakteri akan tumbuh menjadi selaput berwarna putih keabuan di daerah tenggorokan.
Selaput ini menjadi awal mula seseorang dinyatakan sebagai suspect difteri. Segera lakukan pemeriksaan ke rumah sakit terdekat tak perlu menunggu lama.
"Kalau sudah muncul selaput yang mudah berdarah bila dikelupas, bisa jadi dia suspect difteri. Biasanya ini disertai dengan nyeri tenggorokan serta demam yang tidak tinggi," tutur Nina Dwi
Putri, dokter spesialis anak saat ditemui di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Salemba, Jakarta Pusat, Jumat 29 Desember 2017.
Nina menekankan bahwa seseorang yang diduga sebagai suspect difteri harus segera dibawa ke rumah sakit terdekat. Suspect akan ditangani di dalam ruang isolasi untuk mencegah
terjadinya kontaminasi.
Selanjutnya dilakukan pemeriksaan apakah benar terjangkit difteri atau tidak. Kendati demikian, difteri sebenarnya tidak mudah menular seperti virus dan bakteri pada umumnya.
"Difteri bentuk kumannya besar sehingga pergerakannya di udara tidak sebebas ebola atau SARS. Namun penularannya dapat semakin dipicu melalui percikan seperti batuk atau bersin,"
kata dr. Nina.
Untuk mencegah kontaminasi, Nina menyarankan agar tidak melakukan kontak erat dengan pasien selama setidaknya tujuh hari setelah pasien dinyatakan terjangkit difteri. Pencegahan
juga dapat dilakukan dengan vaksinasi, memakai masker bedah serta menjaga jarak kontak sejauh 1,5 meter.
"Pasien difteri tidak perlu dikucilkan. Yang terpenting adalah vaksinasi kepada warga sekitar dan melakukan pembersihan lingkungan memakai disinfektan klorin," ungkap dr. Nina.
Laporan Annisa Mutiara