JK di NIU: Transisi Energi Hijau Tak Mudah, Butuh Koloborasi Pemerintah dan Dunia Usaha
Jarang Minum Air Putih Setelah Bangun Tidur? Ini 6 Dampaknya bagi Tubuh
Cara Menyiapkan Mental Sebelum Melakukan Downsizing atau Downgrading, Hal Apa yang Harus Jadi Prioritas?
5 Latihan Tanpa Beban yang Bisa Membantu Membentuk Otot Setelah Usia 50 Tahun
6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang
Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
George Town (Shutterstock.com)
Dream - Berkunjung ke Penang, Malaysia, tak lengkap rasanya tanpa singgah sejenak ke George Town. Nama kota ini memang terdengar sangat Inggris, beda dengan kota lain yang bernuansa Melayu.
Nama George Town tersemat karena kota ini dibangun di masa kolonial Inggris. Alhasil, terjadi percampuran budaya yang kompleks antara Melayu, Arab, China, Eropa, dan India yang menjadikan kota ini cukup kaya.
UNESCO pun menetapkan George Town sebagai situs Warisan Budaya Dunia. Bangunan dengan arsitektur yang merupakan unsur perpaduan sejumlah unsur budaya dengan mudah ditemukan.
Dari kota kolonial, George Town menjelma jadi destinasi wisata modern dan favorit. Banyak turis tertarik datang ke kota ini karena keunikannya, yaitu banyaknya mural di hampir sebagian besar dinding bangunannya.

Shutterstock.com
Dalam sejarahnya, George Town dulunya merupakan pusat bangunan dengan arsitektur yang terpengaruh Melayu, India, China dan Eropa. Bangunan-bangunan tersebut berdiri kokoh selama ratusan tahun.
Setelah dinobatkan sebagai Warisan Budaya Dunia, Pemerintah Negara Bagian Penang mempercantik wajah George Town. Banyak sekali seniman lokal yang dilibatkan lewat projek kompetisi bertajuk Marking of George Town.
Para seniman dan desainer tersebut diminta membuat ide pengembangan George Town untuk menarik lebih banyak pelancong. Kompetisi tersebut dimenangkan studio Sculpture at Work, yang lalu mendesain karikatur menggunakan 52 kerangka baja dan dipajang di salah satu dinding bangunan.

Shutterstock.com
Karikatur atau lebih dikenal dengan mural tersebut menjadi awal lahirnya karya seni jalanan yang menghiasi George Town. Berangsur-angsur, jumlah mural di kota tua tersebut semakin banyak dan beragam.
Sebagian besar mural dibuat dengan kandungan nilai lokal, terutama dalam konsepnya. Seperti instalasi mural dengan konsep anak kecil mengendarai sepeda, sepasang muda mudi bercanda di gerobak mantau, nenek penjual susu kedelai dan masih banyak lagi.
Berkat mural itulah, George Town menjadi incaran traveler. Mereka ramai-ramai mengabadikan momen indah tersebut dengan berfoto dan mengunggahnya di Instagram
Sumber: Merdeka.com
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

JK di NIU: Transisi Energi Hijau Tak Mudah, Butuh Koloborasi Pemerintah dan Dunia Usaha

Jarang Minum Air Putih Setelah Bangun Tidur? Ini 6 Dampaknya bagi Tubuh
