Kasus TBC Indonesia Terbanyak Ketiga Dunia, Yuk Kenali Gejala dan Cara Mencegahnya

Reporter : Okti Nur Alifia
Minggu, 26 Juni 2022 09:20
Kasus TBC Indonesia Terbanyak Ketiga Dunia, Yuk Kenali Gejala dan Cara Mencegahnya
Indonesia berada di posisi ketiga setelah India dan China.

Dream - Selain virus Covid-19 yang menyebabkan pandemi, masyarakat tetap harus mewaspadai penyakit menular lainnya yang tak kalah ganas. Tahukah Sahabat Dream jika Indonesia ternyata merupakan negara ketika dengan jumlah kasus Tuberkulosis (TBC) terbanyak di dunia.   

Pengelola Program Tuberkulosis (TBC) atau Wakil Supervisor (Wasor) TB Dinas Kesehatan (Dinkes) DKI Jakarta, dr. Victor, menjelaskan posisi Indonesia berada di bawah India dan China untuk kasus TBC.

" Jadi sedikit info bahwa Indonesia sendiri untuk kasus TB nya itu lumayan ya. Kita berada di tingkat ketiga pada 2021 setelah India dan China. Makanya Indonesia sendiri jadi poin penting untuk mencegah penularan TBC," kata Victor dalam Sosialisasi Penyakit TBC, Jakarta, baru-baru ini

Dinas Komunikasi, Informatika dan Statistik (Diskomfotik) Provinsi DKI Jakarta juga melaporkan data Global Tuberculosis Report 2021 memperkiraka estimasi beban TBC di Indonesia mencapai 824 ribu kasus baru per tahun. 

Akibat pandemi Covid-19, temuan kasus pada 2020 menurun dari tahun sebelumnya, yakni 384.025 kasus atau sekitar 47 persen dari estimasi kasus.

1 dari 6 halaman

Victor menjelaskan gejala TBC yang sering diperlihatkan penderita di antaranyamengalami batuk berdahak lebih kurang atau sama dengan dua minggu. Terkadang dahak para pasien juga sudah bercampur darah.

Gejala lainnya seperti sesak napas, badan lemas, nafsu makan menurun, demam meriang lebih kurang atau sama dengan satu bulan, berkeringat malam hari tanpa kegiatan fisik, serta berat badan yang menurun.

Namun dia memastikan TBC bisa sembuh dengan cara diobati. Apalagi kata dia, sudah tersedianya fasilitas yang memadai bahkan gratis untuk masyarakat.

" Intinya, konsepnya kita yakinkan TBC itu bisa sembuh dan bisa diobati. Di DKI Jakarta banyak fasilitas yang melayani salah satunya tersedia di Puskesmas dan tersedia secara gratis," kata dia.

Sumber: Liputan6.com

 

 

 

2 dari 6 halaman

Jadi Generasi Muda yang Keren, Ini yang Bisa Dilakukan Jika Ada yang Bergejala TBC

Generasi kekinian dikenal sebagai sosok yang paling update dengan perkembangan informasi dan tren terbaru. Terlebih di era perkembangan teknologi seperti sekarang ini, berbagai hal bisa dengan mudah diakses lewat genggaman saja. Tapi, selain tren fashion dan lifestyle, sudahkah kamu update juga dengan risiko penyakit yang bisa mengancam kesehatanmu, seperti TBC?

TBC atau tuberkulosis adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium Tuberculosis yang umumnya menginfeksi paru-paru. Namun, bakteri ini ternyata juga bisa menyerang kelenjar getah bening dan tulang, lho. Gejala TBC yang paling umum adalah batuk berkepanjangan jika yang diserang adalah paru-paru. Gejala lain antara lain nyeri dada, demam, berkeringat di malam hari, hingga penurunan berat badan secara tiba-tiba.

3 dari 6 halaman

Menurut data dari Kementerian Kesehatan RI (Kemenkes RI) tahun 2022, Indonesia menempati posisi ketiga untuk kasus TBC setelah India dan Cina dengan jumlah kasus 824 ribu dan angka kematian hingga 93 ribu per tahun.

Fakta inilah yang perlu diperhatikan para generasi muda agar lebih peduli dengan penyakit yang satu ini. Jadi, penting buat menggandeng generasi muda agar lebih peduli dengan TBC demi langkah penanganan yang lebih efektif. Kondisi saat ini adalah banyaknya kasus TBC yang belum terdeteksi karena kurangnya kesadaran masyarakat akan penyakit yang satu ini. Saat ini PT. Johnson & Johnson Indonesia kembali bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan RI menggalakkan kampanye pencegahan TBC dengan melibatkan generasi muda sebagai katalisnya.

Apa saja sih yang bisa dilakukan saat ada orang di sekitar yang menunjukkan gejala TBC?

4 dari 6 halaman

Meningkatkan Kesadaran tentang TBC

Sebagai generasi muda yang melek teknologi, bisa banget memanfaatkan hal tersebut untuk meningkatkan kesadaran tentang bahaya TBC yang mengancam kesehatan masyarakat di Indonesia. Kamu bisa mengawalinya dengan membagikan informasi tentang apa itu TBC, gejala, dan risikonya.

Biar lebih mudah dipahami dan menarik perhatian, kamu bisa membuatnya dalam bentuk postingan Instagram Reels atau TikTok yang kreatif dan estetik. The power of social media nggak bisa disepelekan, informasi penting yang dikemas dengan cara kreatif pasti bisa diserap dengan mudah oleh generasi kekinian lainnya.

5 dari 6 halaman

Bagikan Informasi tentang Pengobatan TBC

Jika keluarga, teman, atau orang lain yang kamu kenal menunjukkan gejala TBC seperti batuk berkepanjangan atau gejala lain yang terlihat seperti tanda TBC, saatnya membagikan informasi tentang pengobatan TBC. Ajak mereka untuk melakukan screening kesehatan agar mendapatkan diagnosis yang tepat dari dokter.

Sebagai informasi, proses screening TBC bisa dilakukan di Puskesmas atau fasilitas kesehatan terdekat lainnya. Kabar baiknya, pengobatan TBC digratiskan oleh pemerintah, lho. Jadi, nggak ada alasan menunda untuk memeriksakan diri agar mendapatkan pengobatan yang dibutuhkan. Jangan lupa untuk menyelesaikan pengobatan TBC hingga 6 bulan agar penyakit TBC bisa diatasi secara tuntas.

6 dari 6 halaman

Hilangkan Stigma Bagi Penderitanya

Nggak bisa dipungkiri, penderita TBC sering mendapatkan stigma negatif dari masyarakat. Mereka sering dijauhi bahkan dikucilkan karena dianggap menderita penyakit menular. Hal ini juga yang akhirnya membuat mereka yang bergejala jadi ragu untuk memeriksakan diri karena khawatir akan dijauhi oleh orang-orang di sekitarnya, bahkan keluarga terdekat.

Padahal, terpapar bakteri TBC bukan berarti otomatis akan langsung tertular, karena hal tersebut tergantung daya tahan tubuh masing-masing. Selain itu, 2 bulan setelah pengobatan rutin, bakteri TBC akan in-aktif. Namun, pengobatan tetap perlu dilanjutkan hingga 6 bulan.

Selain itu, hidup berdampingan dengan pasien TBC juga bisa dilakukan dengan memperhatikan kebiasaan dan gaya hidup sehat. Mulai dari membiasakan diri menggunakan masker meskipun di dalam rumah karena bakteri TBC ditularkan lewat droplet yang mengambang di udara. Penting juga untuk mempelajari etika batuk dan membuang dahak yang benar. Dahak bisa dibuang dalam 1 wadah khusus, jika sudah banyak buang di dalam kloset lalu disiram. Jangan lupa perhatikan sirkulasi dan ventilasi udara yang baik di dalam rumah.

Stop diskriminasi dan stigma negatif bagi penderita TBC karena penyakit tersebut bisa sembuh kok, asalkan mendapatkan pengobatan yang tepat. Saatnya jadi generasi muda yang keren dengan mendukung deteksi dini TBC untuk orang-orang sekitar yuk!

 

   

Beri Komentar