Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi (Shutterstock.com)
Dream - Tak hanya demam dan batuk kering saja, kehilangan atau terganggunya indra penciuman dan perasa diduga juga menjadi ciri khas orang yang terinfeksi virus corona jenis baru, Covid-19. Tanda itu muncul pada sejumlah pasien positif Covid-19 yang tidak menunjukkan gejala-gejala umum, seperti demam dan batuk.
Menurut laporan yang dimuat laman The Straits Times, Senin 23 Maret 2020, sejumlah pasien yang positif terinfeksi virus corona jenis baru mengeluh indra penciuman mereka terganggu.
Seorang ibu yang terinfeksi mengaku tidak bisa mencium bau popok bayinya yang sudah penuh. Koki yang biasanya mahir mengidentifikasi bumbu berdasarkan aroma, tak lagi bisa mencium kari atau bawang putih, makanpun terasa hambar.
Pasien lain bahkan mengaku tidak bisa mencium aroma wangi sampo atau bau menyengat kotoran kucing.
Atas keluhan-keluhan tersebut, diduga Anosmia atau hilangnya indra penciuman dan ageusia atau hilangnya indra perasa menjadi tanda-tanda khas Covid-19. Dua gejala itu kemungkinan menjadi pertanda adanya infeksi virus.
Pada Jumat 20 Maret 2020, dokter telinga, hidung, dan tenggorokan (THT) Inggris, yang mengutip laporan dari rekan sejawatnya dari penjuru dunia, meminta orang yang kehilangan indra penciuman untuk mengisolasi diri selama tujuh hari, meskipun mereka tidak menunjukkan gejala lain.
Imbauan itu dikeluarkan untuk menekan penyebaran virus corona jenis baru. Data tentang temuan itu memang terbatas, tapi para dokter sangat khawatir dan meningkatkan peringatan kepada masyarakat terkait dugaan tersebut.
" Kami benar-benar ingin meningkatkan kesadaran bahwa ini adalah tanda infeksi dan bahwa siapa pun yang mengalami kehilangan indera penciuman harus mengisolasi diri diri," kata Profesor Claire Hopkins, presiden British Rhinological Society.
" [Isolasi] Itu bisa berkontribusi memperlambat transmisi dan menyelamatkan nyawa," tambah dia.
Hopkins dan Nirmal Kumar, presiden ENT UK, asosiasi dokter telinga, hidung, dan tenggorokan, Inggris, menyerukan para petugas medis menggunakan alat pelindung diri bila merawat pasien dengan keluhan kehilangan indra penciuman.
Selain itu, prtugas medis juga disarankan tidak melakukan prosedur endoskopi sinus yang tidak penting pada siapa pun, karena virus terdapat di hidung dan tenggorokan. Pemeriksaan dapat memicu batuk atau bersin yang membuat dokter sangat rawan terkena virus tersebut.
Menurut Hopkins, dua dokter spesialis THT di Inggris yang terinfeksi virus corona sedang dalam kondisi kritis. Sementara, pada laporan sebelumnya dari Wuhan, China, yang menjadi wilayah asal wabah corona, telah mengingatkan banyaknya spesialis THT dan spesialis mata, yang terinfeksi.
Para dokter Inggris mengutip laporan dari negara lain yang menunjukkan bahwa banyak pasien positif virus corona mengalami anosmia. Di Korea Selatan misalnya, negara yang melakukan raapid test massal, menemukan bahwa 30 persen dari 2.000 orang yang positif terinfeksi mengalami anosmia sebagai gejala utama.
Di Italia, dokter telah menyimpulkan bahwa kehilangan indra perasa dan bau adalah indikasi bahwa seseorang yang meskipun terlihat sehat sebenarnya membawa virus dan mungkin menyebarkannya ke orang lain.
Dokter Marco Metra, kepala departemen kardiologi di rumah sakit Brescia mengatakan bahwa 700 dari 1.200 pasien yang dinyatakan positif terinfeksi virus corona mulanya mengeluh terganggunya indra penciuman dan perasa mereka.
Dokter Hendrik Streeck, ahli virus Jerman dari University of Bonn yang mendatangi pasien corona dari rumah ke rumah di Heinsberg, mengatakan bahwa setidaknya dua pertiga dari seratus pasien menyatakan mereka mengalami gejala ringan berupa terganggunya indra pendiuman dan perasa pada beberapa hari terakhir sebelum dinyatakan positif terinfeksi Covid-19.
The American Academy of Otolaryngology, pada hari Minggu, mengunggah informai melalui situs remi mereka, menyatakan bahwa semakin banyak bukti yang menunjukkan bahwa hilangnya atau berkurangnya indera penciuman adalah gejala signifikan yang terkait dengan Covid-19. Orang-orang dengan keluhan itu dalam tes selanjutnya dinyatakan positif terinfeksi virus corona tanpa ada gejala lainnya.
Gejalanya, tanpa adanya alergi atau sinusitis, dokter harus waspada pasien tersebut kemungkinan telah terinfesi virus dan, " memerlukan pertimbangan serius untuk isolasi diri dan pengujian orang-orang ini."
Rumah sakit telah mengingatkan anggotanya bahwa Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit telah mendesak semua dokter untuk memprioritaskan kunjungan darurat dan darurat untuk beberapa minggu ke depan dan untuk menjadwal ulang prosedur elektif dan rutin.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya