5 Latihan Tanpa Beban yang Bisa Membantu Membentuk Otot Setelah Usia 50 Tahun
6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang
Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
Kacamata
Dream - Bersepeda, main bola atau permainan lain di luar rumah memang membuat anak jadi terlihat hitam dan kotor. Tapi dengan membiarkannya banyak bermain di luar rumah, bisa sangat menguntungkan bagi kesehatan matanya.
Siapa sangka kalau bermain panas-panasan ini berdampak positif bagi mata anak. Penelitian tim dari London School of Hygiene and Tropical Medicine, menemukan fakta jika paparan sinar ultraviolet B (Uv B) bisa mengurangi risiko terjadinya miopia (rabun jauh) atau mata minus yang kerap terjadi pada anak-anak usia sekolah.
" Penyerapan sinar matahari di masa kanak-kanak, ternyata berdampak signifikan untuk mengurangi risiko rabun jauh," kata salah satu peneliti, Dr Astrid E. Fletcher.
Penelitian ini melibatkan 4.166 orang yang berusia 65 tahun ke atas, dari 6 pusat penelitian kesehatan mata di Eropa. Pemeriksaan mata (refraksi) dilakukan untuk mengetahui kondisi mata, termasuk sampel darah. Mereka juga diberikan kuesioner seputar kebiasaan bermainnya ketika anak-anak.
Para peneliti menemukan bahwa peningkatan paparan UVB pada usia 14 sampai 19 tahun dan 20 sampai 39 tahun berkaitan dengan kemungkinan penurunan miopia. " Sebagai efek perlindungan dari waktu ke waktu, main di luar rumah bisa digunakan dalam intervensi klinis untuk langkah pencegahan," kata Fletcher.
Miopia adalah sebuah kelainan mata yang membuat penderitanya kesulitan untuk melihat benda jauh. Pemicunya sangat kompleks dan dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk lingkungan dan genetik.
(Sah/Sumber: Daily Mail)
Baca Juga: Bahaya Paksa Anak Kidal Jadi 'Normal' Memberikan Vitamin pada Si Kecil, Perlukah? Bekali Kemampuan Ini Sebelum Anak Masuk TK Dipukuli Anak, Ini Sikap yang Harus Dilakukan Bunda Benarkah Anak Keras Kepala Bakal Jadi Orang Sukses? Ajarkan 4 Hal Ini Agar Anak Aman ke Sekolah Tips Umrah Nyaman Bareng Anak
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

5 Latihan Tanpa Beban yang Bisa Membantu Membentuk Otot Setelah Usia 50 Tahun

6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?