Selasa, 20 Oktober 2026 Cari

Masih Diujicoba untuk Obati Covid-19, Obat Maag Ludes Diborong Warga

Reporter : Sugiono
Kamis, 30 April 2020 07:42
Masih Diujicoba untuk Obati Covid-19, Obat Maag Ludes Diborong Warga
Meski masih dalam tahap percobaan, berbagai merek obat maag lenyap di pasaran.

Dream - Berbagai penelitian terus dilakukan untuk menemukan obat yang mampu mengatasi Covid-19 yang disebabkan virus corona.

Baru-baru ini, para peneliti di Amerika Serikat melakukan penelitian terhadap bahan aktif yang terdapat pada obat maag.

Bahan aktif bernama Famotidine itu dipelajari untuk diujicoba sebagai obat Covid-19 oleh para peneliti di Northwell Health, New York.

Dr. Kevin Tracey dari Northwell Health mengatakan Famotidine terdiri dari dua bahan yaitu antasid dan antihistamin. Bahan aktif tersebut banyak ditemukan pada obat maag generik maupun yang bermerek.

1 dari 4 halaman

Sudah Habis Diborong Warga

Meski masih dalam tahap percobaan, berbagai merek obat maag yang mengandung Famotidine lenyap di pasaran karena diborong warga masyarakat.

Bukan hanya di apotek dan toko obat, beberapa toko online seperti Amazon dan Walgreens juga kehabisan persediaan obat maag yang mengandung Famotidine.

2 dari 4 halaman

Belum Terbukti Berkhasiat

" Masih terlalu dini untuk mengatakan bahwa Famotidine berguna dalam merawat pasien Covid-19," kata Tracey.

Jika memang ada manfaatnya, pasien Covid-19 harus mengonsumsi Famotidine dalam dosis yang sangat tinggi. Jauh melebihi dosis ketika mengobati maag biasa.

" Anda tidak seharusnya pergi membeli obat sakit maag di toko obat dan kemudian meminumnya begitu saja," tambah Tracey.

3 dari 4 halaman

Persediaan Obat Bisa Hilang

Majalah Science melaporkan pada hari Minggu bahwa para peneliti telah berusaha untuk menjaga kerahasiaan penelitian mereka, karena takut akan penyalahgunaannya.

" Jika kita membicarakan masalah ini terlalu dini atau kepada orang yang salah, persediaan obat maag akan hilang," kata Tracey.

Situasi yang melibatkan Famotidine saat ini tidak berbeda dengan yang terjadi pada awal tahun ini.

4 dari 4 halaman

Mengulang Kasus yang Sama

Saat itu, beberapa pemimpin dunia, seperti Presiden Donald Trump dan CEO Tesla Elon Musk, mengklaim bahwa obat malaria Hidroksiklorokuin disebut-sebut bisa mengobati Covid-19.

Padahal, masih belum ada data klinis yang bisa mendukung bahwa obat generik produksi tahun 1940-an ini bisa melawan COVID-19.

" Ketakutan, kekacauan, dan kepanikan adalah ancaman yang jauh lebih besar bagi kemanusiaan daripada virus itu sendiri," kata Michael Rea, CEO Rx Savings Solutions.

(Sah, Sumber: Business Insider)

Beri Komentar