Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya
AXIS Nation Cup 2026 Hadirkan Grand Final Futsal Pelajar, Laga Para Juara dengan Panggung Musik di Istora Senayan
Anak Ditinggal Sendirian saat Masih Kecil, Di Mana Batas Kebebasan dalam Pola Asuh?
Benarkah Sarden Kalengan Bukan Makanan Olahan? Ini Penjelasannya
Kalau Semua Informasi Ada di Socmed, Apa Alasan Kita Membaca?
Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%
Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan
Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?
Foto: Ilustrasi/Shutterstock
Dream - Menu satu ini tampak jadi idola sejuta umat. Rasanya yang gurih dan lezat bikin lidah terus ingin dimanjakan dengan aneka menu yang disajikan.
Yes, menu ini adalah Nasi Padang.
Nggak cuma nasi saja seperti namanya, tapi di tempat makan ini juga berisi aneka sayur dan lauk yang memiliki rasa khas Ibu Kota Sumatera Barat.
Didominasi dengan kuah santan yang penuh rempah-rempah dan cita rasa pedas membuat restoran Padang selalu jadi incaran masyarakat Indonesia dari Sabang sampai Merauke.
Di Indonesia sendiri, rumah makan atau restoran Padang tersebar merata sampai tidak bisa dihitung pakai jari. Mulai dari warung rumahan sampai restoran yang berani menawarkan harga selangit.
Tapi ada satu hal yang jadi misteri buat para penikmat Nasi Padang yaitu jumlah porsi Nasi Padang antara makan di tempat dan dibawa pulang berbeda.
© Ilustrasi/Shutterstock
Jika makan di tempat, biasanya pembeli bisa langsung memilih menu-menu yang ingin disantap di atas piring.
Di atas piring itu terdapat nasi, sayur, lauk-pauk, dan sambal hijau atau merah yang nggak boleh terlewat.
Atau disajikan dengan dihidang, yaitu pembeli bisa langsung duduk di meja makan dan pelayan menghidangkan semua menu yang tersedia di meja dengan piring masing-masing.
Tapi jika kamu memilih untuk membawa pulang Nasi Padang, menu yang kamu beli akan dicampur menjadi satu dan dibungkus menggunakan pembungkus kertas, mulai dari nasi, sayur-mayur, lauk-pauk, sampai aneka sambal favorit mu.
Tapi apakah kamu sadar kalau porsi Nasi Padang dibungkus lebih banyak dibanding dihidang di tempat?
Akun Instagram @pesona.indonesia dan @kemenparekraf.ri membeberkan penjelasannya lewat postingan di galeri online miliknya.
Menurut mereka terdapat beberapa fakta dan alasan porsi Nasi Padang berbeda. Simak lengkapnya!
© Ilustrasi/Shutterstock
Konon di zaman penjajahan, cuma orang Belanda yang bisa makan Nasi Padang di rumah makan. Jadi, hal tersebut mendorong para penjual untuk memberikan porsi Nasi Padang lebih banyak buat masyarakat lokal.

2. Biar bisa dinikmati bareng keluarga
Karena porsinya yang banyak, Nasi Padang dibungkus bisa dinikmati bareng anggota keluarga di rumah. Ya memang porsinya bisa untuk dua atau tiga orang, sih!
© Ilustrasi/Shutterstock
Rupanya hal ini juga jadi faktor yang menentukan porsi Nasi Padang lebih banyak ketika dibungkus. Para penjual jadi nggak perlu cuci piring, Sahabat Dream.

4. Estetika bungkus makanan
Masyarakata Sumatera Baarat percaya kalau makanan yang dibungkus berdiri dianggap bagus. Oleh karena itu, isi Nasi Padang biasanya sangat padat sehingga bisa berdiri tegak.
Jadi, apakah misteri itu sudah terjawab?
Sumber: Instagram @pesona.indonesia
Advertisement
Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Dua Petani Indonesia Masuk Daftar 100 Pahlawan Perempuan FAO

Sepucuk Surat MSCI Bikin Rontok Bursa Saham RI


5 Kebiasaan Setelah Makan Malam yang Bisa Membantu Menjaga Gula Darah Semalaman

8 Kombinasi Makanan yang Bisa Membantu Tubuh Menyerap Lebih Banyak Nutrisi

5 Negara Paling Beragam Secara Etnis di Dunia, Nomor 1 Punya Lebih dari 800 Bahasa

8 Kebiasaan yang Diam-Diam Bisa Merusak Kesehatan Jantung Menurut Ahli

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Anak Ditinggal Sendirian saat Masih Kecil, Di Mana Batas Kebebasan dalam Pola Asuh?