Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Masjid Guci Rumpong (Foto: Kemenag.go.id)
Dream - Sebuah masjid yang dibangun sekitar abad ke-17 di Kecamatan Peukan Bari, Kabupaten Pidie, Banda Aceh, dianggap keramat oleh warga setempat. Sekilas, tidak ada yang istimewa dari masjid yang dinamakan Masjid Guci Rempong tersebut selain arsitekturnya yang terlihat kuno.
Namun, jika melongok ke bagian dalam, ada dua buah guci besar berwarna hitam yang hingga kini dikeramatkan oleh warga setempat.
Masjid itu dibangun oleh Syekh Abdussalam atau Tengku Cik Di Pashi. Meski usianya sudah ratusan tahun, masjid itu masih berdiri kokoh.
Selain bangunan masjid, Tengku Cik Di Pashi juga meninggalkan beberapa benda bersejarah lain. Konon, benda-benda itu 'hidup' di masanya. Dua benda bersejarah itu adalah Batu Siprok dan dua buah guci.
Batu Siprok kini diletakkan di bagian depan masjid, persisnya di samping tangga pintu utama. Batu itu dikurung dalam kerangkeng, tujuannya agar tidak diambil orang.
Menurut cerita yang sudah dituturkan secara turun temurun, pada zaman dahulu, kedua guci tersebut pernah berkelahi dan membuat salah satunya menjadi rompal atau rumpong atau ompong. Maka dari itu, nama masjid tersebut menggunakan istilah Guci Rumpong.
Di dalam guci tersebut terdapat air yang dapat langsung diminum dan dipercaya oleh masyarakat sekitar dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit.
© Masjid Guci Rumpong (Foto: kemdikbud.go.id)
Dream - Sementara batu siprok digunakan warga untuk sumpah dan melepas nazar. Konon, jika ada orang yang hendak bersumpah, orang itu harus mencuci kepala dan airnya ditumpahkan di atas batu ini. Akibat dari sumpah itu, orang yang bersalah akan mengalami penyakit aneh. Misalnya warna kulit sekujur tubuhnya berubah menjadi belang-belang.
Selain itu, ada sebilah bambu kuno yang diyakini sudah berumur 282 tahun yang tertancap dan berdiri tegak hingga ke atap. Menurut cerita, bambu tersebut dulunya digunakan untuk memperbaiki atap serta membantu muadzin untuk naik ke atas bagian masjid ketika ingin mengumandangkan adzan karena zaman dahulu belum ada alat bantu pengeras suara.
Bambu tersebut dinamakan Purieh. Semua masjid tua di Aceh memiliki Purieh ini. Di masjid tersebut juga terdapat sebuah Alquran yang ditulis dengan tangan (serumbeek).
(Berbagai sumber)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya