Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Path Resmi Ditutup (path.com)
Dream - Laman jejaring sosial Path resmi tutup usia. Hari ini, secara resmi Path mengumumkan tidak lagi beroperasi.
Seluruh fasilitas layanan Path akan dinonaktifkan dalam kurun waktu satu bulan usai pengumuman yaitu hingga 18 Oktober nanti. Tetapi, aplikasi jejaring sosial ini akan ditarik dari App Store dan Google Play pada 1 Oktober, dikutip dari Techcrunch.com, Senin 17 September 2018.
Para pengguna masih dapat mengunduh salinan data mereka hingga 18 Oktober. Pengumuman tentang penutupan ini dibuat Path di laman resminya, juga pada beberapa akun media sosialnya.
Path dirancang oleh manager produk Facebook, Dave Morrin bersama dua eks pengembang aplikasi Napster, Dustin Moerau dan Shawn Fanning. Muncul pada 2010, Path langsung digandrungi.
Dream - Banyak yang suka dengan aplikasi jejaring Path karena membatasi 50 orang rekanan untuk tiap pengguna. Ini memberikan alternatif berjejaring sosial yang lebih pribadi dibandingkan Facebook.
Selain itu, tampilan Path cukup menarik dengan gambar menu lonceng dan peluit. Sayangnya, pembatasan pertemanan itu akhirnya dicabut dan dihapus sama sekali.
Path pernah mencatatkan sudah diakses 15 juta pengguna dan mengumpulkan pendapatan mencapai US$500 juta, setara Rp7,4 triliun. Google sempat berencana membeli aplikasi ini senilai US$100 juta, setara Rp1,4 triliun, saat Path baru berusia beberapa bulan.
Secara keseluruhan, startup ini berhasil mengumpulkan pendapatan sebesar US$55 juta, setara Rp819 miliar, dari sejumlah investor terkemuka di Silicon Valley. Beberapa di antaranya seperti Index, Kleiner Perkins, dan Redpoint.
Dream - Kejayaan Path rupanya tidak berjalan lama. Path sempat berusaha meluncurkan aplikasi untuk menghubungkan pengguna dengan dunia bisnis, Path Talk, namun tidak berhasil dan akhirnya dijual ke Kakao Talk pada 2015.
Platform percakapan asal Korea itu membeli Path Talk karena populer di Indonesia. Di Indonesia, Path memiliki empat juta pengguna aktif.
Kakao Talk ingin menjadi pemain besar di pasar Indonesia dengan Path Talk. Sayangnya, dalam tiga tahun Path tidak menunjukkan perkembangan dan akhirnya Kakao membuangnya.
" Dengan penuh penyesalan kami mengumumkan kami akan menghentikan penyediaan layanan kebanggaan kami, Path. Kami memulai Path pada 2010 dalam tim kecil yang terdiri dari desainer dan insinyur yang bersemangat dan berpengalaman," demikian pernyataan resmi Path.
" Selama beberapa tahun kami berusaha menetapkan misi kami: melalui teknologi dan desain, kami ingin menjadi sumber kebahagiaan, makna, dan terhubung dengan pengguna kami," lanjut pernyataan tersebut. (ism)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya