Pasien Covid-19 yang Isoman, Penting Cek Oksigen Pakai Oximeter

Reporter : Cynthia Amanda Male
Senin, 5 Juli 2021 09:12
Pasien Covid-19 yang Isoman, Penting Cek Oksigen Pakai Oximeter
Ketahui fungsi dan cara penggunaannya.

Dream - Terjadi antrean pembeli dan pengisian tabung oksigen di berbagai daerah karena lonjakan kasus Covid-19. Hal ini dikarenakan menurunnya saturasi oksigen yang sering terjadi pada pasien Covid-19.

Kondisi ini sangat berbahaya bagi kondisi pasien. Oleh karena itu, sangat penting untuk memiliki oximeter atau alat pengukur saturasi oksigen atau kadar oksigen dalam darah.

Selain Covid-19, pasien pengidap penyakit paru obstruktif kronik, radang paru-paru, kanker paru-paru, asma, anemia, penyakit jantung, serta asfiksia juga bisa mengalami perubahan saturasi oksigen.

Maka dari itu, pasien yang mengidap penyakit tersebut harus menyediakan oximeter. Dilansir dari Sehatq.com, berikut beberapa fungsi lain oximeter.

1. Menilai efektivitas obat paru-paru.
2. Mengetahui kondisi pasien jika membutuhkan bantuan pernapasan.
3. Menilai efektivitas ventilator
4. Mengetahui kadar oksigen saat atau setelah pembedahan.
5. Menilai efektivitas terapi oksigen.
6. Mengetahui kondisi pasien ketika aktivitasnya ditingkatkan.
7. Mengetahui kondisi napas pasien ketika tertidur.

1 dari 5 halaman

Cara kerja dan pentingnya memiliki oximeter

Menggunakan Oximeter

Untuk menggunakannya, kamu hanya perlu menjepit satu jari tangan dengan oximeter. Ketika berhasil diukur, kamu akan mengetahui saturasi oksigen dalam ukuran %SpO2 dan detak jantung dalam ukuran PRbpm.

Jika hasilnya 95% atau lebih, berarti saturasi oksigenmu normal. Tapi jika kurang seperti 92%, kamu berpotensi mengidap hipoksia atau kekurangan oksigen yang bisa berujung gangguan fungsi organ, bahkan kematian.

Sedangkan jika detak jantungmu berada di kisaran angka 60-100 PRbpm, berarti kondisimu normal.

Berhati-hatilah ketika mengalami penyakit yang disebutkan sebelumnya. Kamu harus sering menggunakan oximeter untuk mengecek saturasi oksigen karena bisa menurun tanpa gejala atau disebut happy hypoxia.

Selain menggunakan oximeter, kamu juga bisa mengetahui saturasi oksigen dengan melakukan analisis gas darah di fasilitas kesehatan.

2 dari 5 halaman

Panduan Membaca Pulse Oximeter Saat Isolasi Mandiri di Rumah

Dream - Pasien Covid-19 dengan gejala ringan, dianjurkan untuk melakukan isolasi mandiri di rumah. Selama di rumah, pasien harus menjaga imunitas tetap baik agar bisa 'mengalahkan' virus.

Mengonsumsi vitamin C, suplemen zinc, berjemur dan cukup istirahat adalah yang selalu dianjurkan demi sembuh dari Covid-19. Salah satu yang juga direkomendasikan untuk mereka yang melakukan isolasi mandiri adalah mengukur saturasi oksigen dalam darah menggunakan Pulse Oximeter.

Panduan Membaca Pulse Oximeter Saat Isolasi Mandiri di Rumah

Hal ini disampaikan oleh dr. Adam, PhD Candidate  Medical Science di Kobe University lewat akun Instagramnya. Ia menjelaskan, kalau Pulse oximeter digunakan untuk memantau pasien Covid-19 dengan kriteria tertentu.

Antara lain yang usianya 65 tahun ke atas, yang memiliki komorbid atau yang kondisinya lemah. Tentunya penggunaan Pulse Oximeter di rumah harus disertai pengetahuan tentang cara penggunaannya agar hasilnya akurat.

" Pertama pasang di jari, kedua baca hasil pengukuran, yang tersiti dari saturasi oksigen dan denyut nadi," ungkap dr Adam.

 

3 dari 5 halaman

Lihat Tabel Panduannya

Saturasi oksigen yang normal yaitu angkanya 95 ke atas. Bila angka menunjukkan 94 atau 93 terus menerus segera lakukan konsultasi online.

Lalu jika angka menunjukkan 92 ke bawah, pasien harus segera ke IGD. Berikut grafik panduan yang digambarkan oleh dr. Adam.

Panduan Oximeter

 

Sumber: Instagram @adamprabata

 

4 dari 5 halaman

Catat, Pakai Masker Tak Turunkan Level Oksigen dalam Darah

Dream - Memakai masker saat keluar rumah merupakan hal kini tak bisa ditawar. Bukan hanya untuk melindungi diri dari penularan virus Covid-19, tapi juga melindungi orang lain.

Sayangnya masih banyak orang yang malas atau bahkan menolak mengenakan masker dengan alasan bisa berdampak buruk pada pernapasan. Ada juga berpendapat memakai masker mengurangi pasokan oksigen dalam darah, menyebabkan " keracunan" karbondioksida dan melemahkan sistem kekebalan tubuh.

Faktanya tak demikian. Simak saja penelitian tim dari McMaster University di Kanada. Mereka menguji 25 manula (rata-rata usia: 76,5) dengan oksimeter alat pengukur kadar oksigen dalam darah saat memakai masker, serta sebelum dan sesudah.

Para peneliti tidak menemukan tanda-tanda hipoksia, atau berkurangnya level oksigen salam darah. Jadi, pakai masker tak mengurangi sedikit pun level oksigen dalam darah. Awalnya memang terasa sedikit tak nyaman atau sesak.

" Saya melihat masker seperti sabuk pengaman. Memang belum tentu nyaman, tapi melindungi," kata dr. Aaron Glatt, seorang spesialis penyakit menular, dikutip dari WebMD.

 

5 dari 5 halaman

Beberapa orang mungkin merasa tidak nyaman memakai masker, tapi itu bukan alasan untuk tidak melakukannya. Secara keseluruhan hasil dari uji oksimeter adalah tidak ada penurunan yang mengkhawatirkan dalam saturasi oksigen darah. Rata-rata, saturasi oksigen adalah 96,1% sebelum bermasker, dan kemudian sedikit lebih tinggi saat mereka mengenakan masker dan setelahnya, masing-masing 96,5% dan 96,3%.

Masker Medis dan Kacamata

Penemuan ini dipublikasikan secara online sebagai surat penelitian dalam Journal of American Medical Association edisi 30 Oktober. Penelitian ini dilakukan pada mereka yang berusia lanjut yang mungkin akan lebih rentan terhadap penurunan kadar oksigen dari pemakaian masker.

Beri Komentar