6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang
Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
(Foto: Ratih Wulan/Dream.co.id)
Dream - Gubernur Sumatera Barat (Sumbar), Irwan Prayitno resmi membuka Minangkabu Fashion Festival 2016. Acara fesyen ini diharapkan semakin mengukuhkan Sumbar sebagai provinsi bergelar Wisata Halal.
Gelaran pada 22-24 Mei 2016 ini menghadirkan serangkaian acara. Selain berbagai fashion show, Minangkabau Fashion Festival ini juga mengadakan Young Desainer Competition, Lomba Jilbab Kreasi, Minang Fashion Carnival yang akan dilepas dari Pantai Padang.
Di malam puncak akan ditutup dengan persembahan 20 busana karya Desainer Minangkabau.
" Tema tahun ini etnik muslim karena disesuaikan dengan Padang sebagai muslim tourism destination. Dan juga, semoga kesempatan ini dapat membawa desainer busana muslim Indonesia menuju cita-cita sebagai kiblat fesyen di tahun 2020," ungkap Irwan di Padang, Sumatera Barat pada Senin, 23 Mei 2016.
Ke depan, Irwan berharap pariwisata di Sumbar dapat terangkat dengan adanya even semacam ini. Ia juga melihat kecenderungan wisatawan datang tak hanya karena keindahan alamnya, namun juga berwisata kuliner dan kebutuhan mencari kain khas seperti songket dan tenun.
" Acara ini penting dan menarik wisatawan. Minang Fashion Festival dapat dimaksimalkan agar target menggaet wisatawan terpenuhi. Tanggal dan bulan harus pas jadi orang-orang bisa hadir dan wisata kita dikenal," imbuhnya.
Irwan berpesan agar image kain etnik Sumbar dapat diubah, dari pakaian pesta menjadi busana ready to wear yang bisa dikenakan di segala suasana. Namun tetap mempertahankan nilai adat dan budaya yang melekat di dalamnya.
" Dengan menampilkan pakaian ciri khas akan dlihat dan orang datang kemari karena kekhasan kita. Di sini kita lihat orang berkerudung sudah biasa, tapi kalau buat negara lain bisa jadi objek wisata," tuturnya menambahkan.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
