Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Kondisi Masjid Bibi Khanym Uzbekista, Dahulu Dan Sekarang (RFERL.org)
Dream - Berkelana ke Uzbekistan, tak lengkap rasanya jika tak mendatangi kota terbesar ketiga, Samarkand. Kota yang pernah dilintasi raja muda terkenal Alexander Agung ini meninggalkan jejak sejarah mengagumkan.
Samarkand, adalah salah satu kota hunian tertua di Asia Tengah yang ditemukan di abad ke delapan. Kota ini pernah jatuh dan dikuasai Persia, Yunani, Turki, Mongolia, Cina dan Rusia.
Tulisan-tulisan ahli wisata Cina Faxian dan Xuanzang, wisatawan Maroko Ibnu Batutah, dan Marco Polo pernah mengungkapkan sejarah kota Samarkand. Namun di abad ke-13, Genghis Khan menjadikan kota ini terlunta.

Kota ini mulai kembali hidup di masa pemimpin Timur, pendiri dan penguasa kerajaan Timuriyah yang berhasil merebut kota. Dia memutuskan membangun kembali kota Samarkand. Seniman dan pengrajin terbaik dibawa untuk merekonstruksi Samarkand.
Timur berkomitemen tinggi untuk dunia seni meskipun ia dikenal sebagai orang kejam terhadap musuhnya. Di balik itu, Timur dikenal sebagai penyayang terhadap orang-orang yang memiliki kemampuan artistik khusus. Ia mengampuni kehidupan seniman, pengrajin dan arsitek yang dapat memperindah kotanya.
Darah seni Timur terlihat saat ini secara langsung terlibat dalam proyek-proyek konstruksi. Bahkan kejeliannya terkadang dapat melampaui kemampuan teknis para pekerjaannya.

Suatu ketika, ia memutuskan untuk memberikan makanan lezat berupa daging-dagingan kepada para pekerja saat proses pembangunan Masjid Bibi-Khanym. Hal ini bertukuan agar para pekerja dapat lebih semangat melanjutkan pekerjaannya siang dan malam. Terkadang ia juga akan memberikan uang pada saat hasil pekerjaan mereka sangat memuaskan.
Proses pembangunan berlangsung selama 35 tahun hingga kematian Timur pada 1405 sebelum masehi. Lalu pemulihan dan rekonstruksi bangunan megah ini dilanjutkan kembali sekitar 50 tahun lalu pada masa kekuasaan Soviet.

Peperangan dan gempa humi yang terjadi berabad-abad lampau banyak menyebabkan bangunan runtuh. Selai itu, makam Shah-i-Zinda juga baru dipulihkan sepuluh tahun lalu. Pengerjaan restorasi yang begitu agreaif menimbulkan kontroversi pada sebagaian orang, karena dianggap menghilangkan keaslian monumen.
(Sumber:amusingplanet)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya