Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Masjid Perak Kotagede (Sumber: Marlindwinastiti.wordpress.com)
Dream - Kotagede, menjadi incaran wisatawan yang ingin berburu perhiasan perak di Yogyakarta. Bangunan-banguanan tempo dulu menjadikan kawasan ini selalu menarik untuk dikunjungi.
Bahkan nuansa peninggalan kerajaan Islam Mataram masih terasa kental di tempat ini. Salah satu buktinya yaitu Masjid Perak Kotagede, yang menjadi tempat bersimpuh sebagian besar pengrajin perak sejak zaman kemerdekaan.
Masjid Perak Kotagede dibangun pada tahun 1940, yang berawal dari ide tiga tokoh pembesar keagamaan di Kotagede yaitu KH Mudakir, KH Amir dan KH Muhsin. Dibangun pada masa perjuangan, membuat halaman Masjid Perak Kotagede menjadi saksi bisu pembekalan dan pelepasan Laskar Hizbullah/Sabilillah menuju medan perang.
Masjid Perak dibangun karena keprihatinan masyarakat sekitar yang melihat penyalahgunaan Masjid Gede.
Pada saat itu, letak Masjid Gede yang berada dalam satu komplek dengan makam raja-raja Mataram, dianggap dapat mengeluarkan hal-hal gaib yang bertentangan dengan ajaran agama Islam. Kemudian, para pengunjung menggunakan komplek masjid sebagai tempat ritual mereka.
Untuk menghindari praktik syirik di tengah masyarakat, maka dibangunlah masjid Perak yang berada di sebelah utara Masjid Agung (Gede) Mataram. Tepatnya, berlokasi di Jalan Mondorakan Kotagede dan berada persis di belakang SMA Muhammadiyah 4 Yogyakarta. Pembangunan masjid juga untuk menandai kesuksesan Muhammadiyah pada saat itu.
Meskipun berada di kawasan pengrajin perak, ternyata nama masjid diambil dari bahasa Arab 'Firoq'. Untuk melambangkan kebebasan umat dari pemikiran kotor, kebekuan berpikir pada masa lalu, dan pemisahan tegas kaum reformis terhadap bentuk ikatan kekuasaan agama dari kerajaan Islam dan adat.
Masjid Perak Kotagede mempunyai ruang utama seluas 100 meter. Berbentuk Joglo dengan empat tiang (soko guru) berbentuk bulat agak runcing yang diletakkan di atas umpak berbentuk bulat panjang dan dikelilingi tembok yang membatasi serambi ruangan bagian utara dan selatan. Sedangkan serambi masjid beratap limasan.
Hiasan kaligrafi terdapat di atas pintu utama. Di bagian lain ada juga hiasan kaligrafi yang dimaksudkan untuk menciptakan suasana khusyuk dalam menjalankan ibadah. Mimbar masjid pun masih menggunakan mimbar pertama saat masjid dibangun.
Untuk mengetahui ketepatan waktu salat, masjid memiliki alat yang sangat sederhana berupa jam matahari yang saat ini sudah jarang dijumpai.
(Dari berbagai sumber)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya