Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Monstore (Instagram @monstore)
Dream - Monstore menjadi salah satu brand lokal yang diikutsertakan dalam pameran khusus streetwear di Amerika, 'Agenda Show'. Meski membawa tema pop culture, Monstore tetap menyelipkan ciri khas Indonesia.
Jika diperhatikan, streetwear atau pop culture kurang selaras ketika disandingkan dengan budaya Indonesia. Tapi, Dita Sri Lestari, Fashion Designer Monstore berhasil menggabungkan unsur Reinassance dan hasil karya pelukis legendaris, Raden Saleh dalam tema 'Co-Extinct'.
" Kami ingin memperlihatkan kepunahan yang terjadi ketika Indonesia dijajah Belanda selama 350 tahun. Makanya, selain mengangkat unsur reinassance dan karya Raden Saleh, di sini ada sentuhan Indie-Dutch," ujar Dita di Pacific Place, Jakarta Selatan, baru-baru ini.

Foto: Instagram @monstore
Koleksi yang akan tampil pada 28-30 Juni adalah lukisan reinassance karya seniman Italia, Caravaggio dan karya Raden Saleh yang disusun kembali menjadi motif baru.
" Disusun kembali seperti konsep re-make, tapi tidak menghilangkan unsur awalnya. Karya Raden Saleh digabungkan menjadi satu motif dan di-print pada bahan," tuturnya.
Ini bukan kali pertama mereka mengangkat unsur seni lokal sebagai inspirasi. Tapi, tahun ini menjadi waktu tepat untuk mengeluarkan koleksi khususnya.

Foto: Instagram @monstore
" Dari awal produksi di tahun 2009, memang selalu mengangkat karya seni Indonesia. Semua karya itu dituangkan ke dalam desain kaos, outer, aksesoris dan lain-lain. Jadi, setiap desain punya cerita," kata Dita.
Cerita itu lah yang membuat sebuah pakaian bernilai lebih walaupun hadir dengan desain minimalis.
" Kalau desainnya hanya berisi tulisan sablon, kan seperti tidak ada maknanya. Jadi, dijual pun cukup sulit. Kalau ada ceritanya, dibeli dengan harga tinggi pun tidak masalah."
(Sah)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya