Rontok 1,88%, IHSG Terkulai Lemas ke Level 6.031,28
Kenalan dengan 'Neon Moon II', Kapal Sampah dari Coldplay di Cisadane
Suara-Suara di DPR Soal Ijazah Gibran
Huawei Gandeng LinkAja, Pembayaran QRIS Bisa Lewat Smartwatch HUAWEI WATCH GT 7 Series
Gandeng Bilal Indrajaya, Lyodra Beri Pesan Tak Menyerah pada Album Terkunci Di Kamu
7 Jenis Tanaman yang Bisa Mengundang Ular ke Halaman Rumah, Bukan karena Baunya
Kenapa Tikus Suka Bersarang di Mesin Mobil, dan Cara Mengusirnya untuk Selamanya
Dua Seniman Indonesia Raih Grand Prize MR.D.I.Y. Regional Art Competition 2026
© Pexels.com/olly
DREAM.CO.ID - Menua merupakan proses yang tidak dapat dihindari, tetapi cara tubuh mengalami penuaan dapat berbeda pada setiap orang. Ada orang yang tetap aktif, kuat, dan mampu melakukan berbagai aktivitas sehari-hari hingga usia lanjut. Sebaliknya, sebagian orang mulai mengalami penurunan keseimbangan, kekuatan otot, dan kemampuan bergerak sejak usia yang lebih muda.
Menariknya, kondisi tersebut tidak selalu membutuhkan pemeriksaan rumit untuk mendapatkan gambaran awal. Sejumlah tes sederhana dapat digunakan untuk melihat fungsi fisik, mulai dari kemampuan berdiri hingga kecepatan berjalan. Dilansir dari Verywell Health, beberapa indikator berikut dapat membantu melihat bagaimana tubuh mengalami proses penuaan.
1. Tes Duduk-Berdiri
Tes pertama mengukur kemampuan tubuh untuk berpindah dari posisi berdiri ke duduk di lantai dan kembali berdiri tanpa menggunakan tangan sebagai tumpuan.
Cara lain yang bisa dilakukan adalah dengan berdiri kemudian menyilangkan kaki pada bagian pergelangan kaki, turun hingga duduk di lantai, lalu kembali berdiri. Tes ini menggunakan skala 10 poin, masing-masing lima poin untuk gerakan turun dan naik. Poin dapat dikurangi ketika seseorang menggunakan tangan, lutut, lengan bawah, atau bagian tubuh lainnya sebagai penopang.
Kemampuan melakukan gerakan tersebut berkaitan dengan kekuatan otot, keseimbangan, dan koordinasi tubuh. Sebuah penelitian pada 2025 terhadap 4.282 orang berusia 46-75 tahun juga menemukan adanya hubungan antara skor tes yang lebih rendah dan tingkat kematian yang lebih tinggi selama masa pemantauan.
Meski demikian, tes ini bukan alat untuk memprediksi berapa lama seseorang akan hidup. Hasilnya lebih tepat digunakan sebagai gambaran kemampuan fisik secara umum.
Berdirilah dengan satu kaki selama 30 detik dan usahakan tidak kehilangan keseimbangan. Kaki yang tidak menjadi tumpuan dapat sedikit ditekuk.
Keseimbangan membutuhkan kerja sama berbagai sistem tubuh, termasuk informasi sensorik, kekuatan otot, dan kontrol neuromuskular. Penelitian yang diterbitkan dalam PLOS ONE pada 2024 menunjukkan bahwa kemampuan keseimbangan juga mengalami perubahan seiring bertambahnya usia.
Kemampuan berdiri dengan satu kaki dapat menjadi gambaran sederhana mengenai stabilitas tubuh. Keseimbangan yang buruk juga berkaitan dengan risiko jatuh yang lebih tinggi sehingga latihan keseimbangan penting, terutama ketika usia bertambah.
Jika memiliki masalah keseimbangan atau pernah jatuh, sebaiknya jangan melakukan tes ini sendirian tanpa pengawasan.
Cara berjalan ternyata dapat memberikan informasi mengenai kondisi tubuh. Kecepatan berjalan bahkan kerap disebut sebagai " tanda vital keenam" karena dapat memberikan gambaran mengenai mobilitas dan fungsi fisik.
Salah satu pengukuran dilakukan dengan menghitung waktu yang dibutuhkan untuk berjalan sejauh 10 meter. Pada orang dewasa sehat usia 20-an hingga 70-an, rata-rata waktu yang disebutkan dalam bahan tersebut sekitar 7-8 detik, atau kecepatan sekitar 1,2-1,4 meter per detik.
Kecepatan berjalan yang lebih lambat dikaitkan dengan berbagai risiko kesehatan. Penelitian juga menemukan hubungan antara kecepatan berjalan di bawah 1 meter per detik dan peningkatan risiko jatuh. Karena itu, perubahan kecepatan berjalan dari waktu ke waktu layak diperhatikan.
Kekuatan genggaman tangan bukan hanya menunjukkan seberapa kuat tangan seseorang. Dokter juga dapat menggunakannya sebagai salah satu indikator fungsi otot dan kemampuan fisik secara keseluruhan.
Pengukurannya menggunakan alat bernama dynamometer, yang digenggam dan ditekan selama beberapa detik. Penelitian menunjukkan bahwa kekuatan genggaman yang rendah berkaitan dengan risiko lebih tinggi terhadap penyakit kronis, rawat inap, dan kematian dini.
Sebagai alternatif sederhana di rumah, seseorang dapat mencoba farmer's carry, yaitu membawa beban seperti dumbbell dengan kedua tangan sambil berjalan dalam jarak tertentu. Namun, latihan ini bukan pengganti pengukuran medis dengan dynamometer.
Keempat tes tersebut menunjukkan bahwa penuaan tidak hanya dapat dilihat dari usia pada kartu identitas. Kemampuan bergerak, menjaga keseimbangan, mempertahankan kekuatan otot, dan berjalan dengan baik juga menjadi bagian penting dari proses penuaan yang sehat.
Tetap aktif secara fisik dapat membantu mempertahankan kekuatan otot sekaligus mendukung kesehatan kognitif. Namun, hasil tes sederhana tersebut sebaiknya tidak digunakan untuk mendiagnosis penyakit atau menentukan harapan hidup seseorang.
Yang lebih penting adalah memperhatikan perubahan kemampuan tubuh dari waktu ke waktu. Jika kemampuan berjalan semakin lambat, keseimbangan memburuk, atau kekuatan tubuh menurun secara nyata, konsultasikan kondisi tersebut kepada tenaga kesehatan untuk mendapatkan penilaian yang lebih tepat.
Advertisement
Rontok 1,88%, IHSG Terkulai Lemas ke Level 6.031,28

Kenalan dengan 'Neon Moon II', Kapal Sampah dari Coldplay di Cisadane

Kasus Ijazah Gibran, Sudah Selesai atau Belum?

Menilik 5 Green Movement Seru di Synchronize Festival

Deal Lepas 10,08 Miliar, Low Tuck Kwong Tambah Porsi Lego Saham Bayan Resources ke Jhonlin Baratama
