5 Dugaan di Balik Munculnya Dentuman Misterius di Jabodetabek

Reporter : Razdkanya Ramadhanty
Selasa, 14 April 2020 17:07
5 Dugaan di Balik Munculnya Dentuman Misterius di Jabodetabek
Apa saja?

Dream - Masyarakat Jabodetabek dihebohkan bunyi dentuman yang muncul pada Sabtu dini hari, 11 April 2020. Banyak yang mengaitkan kemunculan suara tersebut dengan sejumlah fenomena alam, salah satunya erupsi Anak Gunung Krakatau meski akhirnya dibantah oleh BMKG.

Kepala Bidang Mitisgasi Gempa Bumi dan Tsunami (BMKG), Daryono, mengatakan dentuman yang membuat resah masyaraat tidak bersumber dari aktivitas gempa tektonik.

" Hasil monitoring BMKG menunjukkan tidak terjadi aktivitas gempa tektonik yang kekuatannya signifikan di wilayah Jawa Barat, DKI Jakarta, dan Provinsi Banten," jelas Daryono.

Hingga saat ini, bunyi dentuman tersebut masih misterius. Belum ada pihak yang dapat menjelaskan secara ilmiah penyebab kemunculan dentuman tersebut.

" Untuk sementara, dugaan sumber suara dentuman dari beberapa pihak sudah dikemukan meskipun memiliki kelemahan," jelas Daryono.

Setidaknya ada lima pendapat yang mengungkapkan asumsi tentang penyebab kemunculan dentuman tersebut.

 

1 dari 5 halaman

Gempa Tektonik

Pertama, diakibatkan adanya gempa tektonik. Dikatakan gempa tektonik dapat mengeluarkan bunyi ledakan jika magnitudonya cukup signifikan dengan hiposenter sangat dangkal.

Suara ledakan yang timbul saat gempa biasanya hanya sekali muncul saat terjadi deformasi batuan utama, tidak seperti dentuman yang beruntun terus menerus seperti 11 April pagi. Bahkan ada yang mengaitkan suara dentuman pagi itu mirip peristiwa dentuman gempa Bantul, Yogyakarta 2006.

" Dalam beberapa kasus, gempa Bantul memang menyebabkan timbulnya suara dentuman, tetapi bunyi dentumannya tidak terus menerus, di mana satu gempa menghasilkan satu detuman. Gempa Bantul dapat mengeluarkan bunyi karena sumbernya dangkal dan dekat zona karst yang bawah permukaannya berongga sehingga dapat menjadi sumber bunyi jika ada pukulan gelombang seismik," jelas Daryono.

 

2 dari 5 halaman

Longsoran

Kedua, peristiwa longsor. Longsoran yang dipicu oleh adanya deformasi batuan yang melampaui batas elastisitasnya akan menimbulkan pelepasan energi secara tiba-tiba hingga dapat mengeluarkan suara dentuman.

Terkait hal ini, Daryono menjelaskan, bahwa peristiwa longsoran tidak mungkin terjadi secara berulang-ulang dan terus menerus sebanyak dentuman yang didengarkan masyarakat pagi itu.

Ketiga, Skyquake. Skyquake adalah istilah diciptakan oleh sekelompok komunitas untuk menyebut suara-suara yang datang dari langit. Masyarakat awam pun kini banyak yang mengunakan istilah ini meski belum memahami konsep ilmiahnya.

3 dari 5 halaman

Bunyi Petir

Keempat, adanya aktivitas petir. Dalam beberapa literatur disebutkan bahwa pada kondisi atmosfer ideal, suara petir paling jauh dapat terdengar 16-25 km.

" Dengan jarak jangkauan dengar tersebut, sulit diterima jika dikatakan petir yang sama dapat didengar oleh warga di Bogor, Tangerang, Bekasi, dan Pelabuhanratu," ucap Daryono.

Sebagai contoh jika petir terjadi di Kota Bogor, maka tempat terjauh di utara yang dapat mendengar hanya sampai Kota Depok dan tidak sampai ke Jakarta, Tangerang, dan Bekasi.

Untuk arah tenggara dan selatan, maka tempat terjauh yang masih dapat mendengar petir tersebut adalah daerah Gunung Gede-Pangrango dan tidak sampai ke Sukabumi dan Pelabuhanratu.

" Bunyi petir juga sangat khas di mana orang awam dengan mudah mengenalinya. Sementara, suara pagi itu lebih mirip dentuman yang " anatominya" berbeda dengan suara petir," bebernya lagi.

Kelima, akibat erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK). Jika mengingat peristiwa 2 tahun silam, warga Jawa Barat dan Sumatera Selatan sempat digegerkan suara dentuman pada akhir Desember 2018.

Namun, adanya dugaan dentuman bersumber dari GAK dibantah dengan alasan suara dentuman tidak terdengar di Pasauran (Banten) dan Kalianda (Lampung).

Sumber: Liputan6.com

4 dari 5 halaman

Ini Sumber Dentuman Misterius yang Gegerkan Jakarta Menurut Vulkanolog ITB

Dream - Sumber dentuman yang terdengar di wilayah Jakarta, Bogor, dan Depok, pada Sabtu dinihari, 11 April 2020, masih menjadi misteri. Namun, ahli vulkanologi Institut Teknologi Bandung, Mirzam Abdurrachman, punya penjelasan tentang dugaan sumber dentuman yang mengegerkan tersebut.

Menurut dia, suara dentuman bisa terjadi salah satunya karena aktivitas magma dari suatu gunung api. Dentuman bisa muncul akibat perpindahan magma secara tiba-tiba dari dapur magma ke lokasi yang lebih dangkal.

Proses itu, kata dia, mengakibatkan terjadinya kekosongan dan ambruknya dapur magma dalam, sehingga menghasilkan dentuman dan getaran di daerah sekitarnya. Fenomena yang sering juga disebut underground explosion tersebut bisa dan tidak selalu diikuti oleh suatu erupsi gunung api.

" Namun hal tersebut masih perlu mendapat dikaji terlebih dahulu dengan data kegempaan serta perubahan temperatur dan pelepasan gas dari gunung-gunung di sekitar Jabodetabek dan juga Gunung Anak Krakatau," ujar Mirzam dikutip laman itb.ac.id.

Suara dentuman itu memang dikait-kaitkan dengan erupsi Gunung Anak Krakatau pada Jumat, 10 April 2020. Gunung di Selat Sunda itu memang meletus sebanyak dua kali pada hari tersebut, yaitu pada pukul 21.58 WIB dan pukul 22.35 WIB. Letusan itu bertipe strombolian dengan tinggi kolom letusan kurang lebih 500 meter.

5 dari 5 halaman

Peristiwa Serupa

Dugaan Mirzam didasarkan pada pada peristiwa serupa yang terjadi di tiga gunung api di tiga negara yaitu, Gunung Api Miyakejima Jepang pada tahun 2000, Gunung Piton de La Fournaise Pulau Reunion pada 2007, dan gunung di Kepulauan Mayotte Prancis pada 2018.

Namun, Dosen Program Studi Teknik Geologi, Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian ITB itu menegaskan bahwa dugaan tersebut masih perlu dikaji dan dibuktikan apakah dentuman keras misterius tersebut berhubungan dengan erupsi Gunung Anak Krakatau pada Jumat lalu.

Letusan gunung yang terletak di antara Pulau Panjang, Sertung, dan Pulau Rakata, di Selat Sunda itu bertipe strombolian dan vulkanian yang memiliki energi letusan tergolong rendah hingga sedang. Berdasarkan data Volcanic Explosivity Index (VEI), Gunung Anak Krakatau miliki nilai VEI 2-3, artinya tergolong rendah hingga sedang.

Beri Komentar