Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya
AXIS Nation Cup 2026 Hadirkan Grand Final Futsal Pelajar, Laga Para Juara dengan Panggung Musik di Istora Senayan
Anak Ditinggal Sendirian saat Masih Kecil, Di Mana Batas Kebebasan dalam Pola Asuh?
Benarkah Sarden Kalengan Bukan Makanan Olahan? Ini Penjelasannya
Kalau Semua Informasi Ada di Socmed, Apa Alasan Kita Membaca?
Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%
Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan
Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?
Bangun Pembatas Permanen Gara-gara Covid-19 (Facebook/ KUMI Indonesia)
Dream - Masyarakat di Indonesia akan melakukan apapun untuk mencegah wilayahnya menjadi tempat penularan virus corona. Umumnya mereka akan menutup akses dengan memasang portal di kompleknya. Namun warga di Malang, Jawa Timur melakukan upaya pencegahan yang lebih ekstrem.
Viral di media sosial foto warga tengah menutup jalan dengan membangun dinding beton. Bukan akses masuk komplek, beton itu dipasang di tengah jalan yang menghubungkan dua desa.
Foto yang viral tersebut menggambarkan situasi di dua desa di Kecamatan Sumberpucung, Kabupaten Malang. Warga di masing-masing desa memasang portal sebagai pencegahan persebaran Covid-19 di wilayahnya.
Dokumentasi foto saat warga membangun beton itu pertama kali diunggah melalui platfom Facebook. Portal dua desa tersebut saling berhadapan, seakan mereka tengah bersitegang.
Desa yang satu menutup dengan bambu dan yang satunya lagi memasang batako atau seperti membuat benteng.
Penutupan jalan ini dilakukan oleh warga Desa Sambigede dan Desa Senggreng. Kedua desa ini bertetangga, sehingga warganya harus menggunakan akses jalan lain apabila ingin melewati desa tetangga.
" Ada kesalahpahaman, sudah dikoordinasikan untuk dibongkar," ungkap Camat Sumberpucung, Moh Sholeh, dikutip dari Madiunpos.
Sholeh menjelaskan tindakan yang dilakukan para warga tersebut tanpa seizin dan sepengetahuan kepala desa. Sehingga pihak kecamatan memutuskan untuk melakukan pembongkaran paksa.
" Tanpa persetujuan kepala desa, itu tidak benar. Kok saling menutup jalan, kasihan warga lain tidak bisa lewat nanti," tegas Sholeh dengan nada kesal.
Sejak pandemi Covid-19, terjadi kesalahpahaman terkait physical distancing. Warga desa banyak yang mengartikan kebijakan tersebut sebagai physical distancing village di mana dilakukan penyekatan akses keluar masuk desa dengan tujuan memutus mata rantai penyebaran virus corona covid-19.
" Hal itulah yang juga dilakukan oleh Desa Sambigede dan Senggreng itu. Tapi kenapa kok portal saling berhadapan, itu tidak benar. Sudah diperintahkan untuk dibongkar," terang Sholeh.
Sholeh berharap, masyarakat tetap menjaga kesehatan agar terhindar dari Covid-19 tanpa memunculkan polemik antar desa. " Ayo bersama melawan corona, saling gotong royong menjaga wilayah masing-masing," pungkasnya.
Dream - Tidak seperti Indonesia yang melakukan 'lockdown' sebagian, Malaysia menerapkan pembatasan sosial yang disebut Perintah Kawalan Pergerakan (PKP) itu secara menyeluruh dan ketat.
Meski begitu sebagian warga Malaysia yang sebelumnya pulang kampung sudah mulai kembali ke kota tempat mereka beraktivitas setelah pemerintah mulai melonggarkan aturan PKP.
Pulang ke rumah kontrakan yang sudah lama ditinggalkan, seorang warga Malaysia mengalami kejadian yang mungkin tak pernah dilupakan. Dia baru kembali ke tempat kos itu setelah pulang kampung selama dua bulan.
Menurut @adib_ozil, seorang mahasiswa yang kos bersama beberapa teman di rumah kontrakan di Shah Alam, dia memutuskan untuk pulang kampung tepat sebelum PKP secara resmi diberlakukan di seluruh Malaysia.
Lagi pula, saat itu sudah tidak ada kuliah, sehingga tidak banyak lagi hal yang perlu dilakukan di rumah kontrakan.
Tetapi setelah dua bulan mengisolasi diri di rumahnya di Klang, Adib memutuskan untuk kembali ke rumah kontrakan di Shah Alam untuk mengambil beberapa barang miliknya yang dia tinggalkan di sana.
Saat sampai di rumah kontrakannya, Adib baru sadar bahwa listriknya telah padam. Kemungkinan besar karena badai petir yang menyebabkan sekring putus.
Adib mungkin menganggap listrik padam adalah hal yang biasa. Tetapi bagaimana dengan lemari es yang mungkin sudah dua bulan tak menyala?
Ketika membuka kulkas, Adib sangat terkejut. Tempat menyimpan makanan dan minuman itu sekarang dipenuhi dengan belatung.
2 bulan tak balik rumah, balik rumah perasan suis letrik utama rumah off. Barangkali kene tendang masa kilat. Hasilnya peti ais rumah .. ???????? pic.twitter.com/vSbvTiB75m
— Kinsey :) (@adib_ozil)May 4, 2020
Ratusan ribu belatung merayap di bagian dalam pintu lemari es sehingga Adib tak mengetahuinya sejak datang lagi ke rumah kontrakannya itu.
Advertisement
Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Dua Petani Indonesia Masuk Daftar 100 Pahlawan Perempuan FAO

Sepucuk Surat MSCI Bikin Rontok Bursa Saham RI


5 Kebiasaan Setelah Makan Malam yang Bisa Membantu Menjaga Gula Darah Semalaman

8 Kombinasi Makanan yang Bisa Membantu Tubuh Menyerap Lebih Banyak Nutrisi

5 Negara Paling Beragam Secara Etnis di Dunia, Nomor 1 Punya Lebih dari 800 Bahasa

8 Kebiasaan yang Diam-Diam Bisa Merusak Kesehatan Jantung Menurut Ahli

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Anak Ditinggal Sendirian saat Masih Kecil, Di Mana Batas Kebebasan dalam Pola Asuh?