Suara-Suara di DPR Soal Ijazah Gibran
Huawei Gandeng LinkAja, Pembayaran QRIS Bisa Lewat Smartwatch HUAWEI WATCH GT 7 Series
Gandeng Bilal Indrajaya, Lyodra Beri Pesan Tak Menyerah pada Album Terkunci Di Kamu
7 Jenis Tanaman yang Bisa Mengundang Ular ke Halaman Rumah, Bukan karena Baunya
Kenapa Tikus Suka Bersarang di Mesin Mobil, dan Cara Mengusirnya untuk Selamanya
Dua Seniman Indonesia Raih Grand Prize MR.D.I.Y. Regional Art Competition 2026
3 Suplemen yang Diam-Diam Bisa Mengganggu Tidur, Salah Satunya Sering Dikonsumsi
MK Sudah Putus, Drama Ijazah Gibran Belum Tamat
© Pexels.com/Jahrat Reza
DREAM.CO.ID - Bayangkan pagi hari ketika seseorang hendak membuat secangkir teh. Air di ketel ternyata sudah pernah direbus sebelumnya. Karena tidak ingin membuangnya, ia kembali menyalakan ketel hingga air mendidih. Namun, muncul kekhawatiran yang cukup sering beredar: benarkah air yang direbus dua kali dapat menjadi berbahaya, bahkan meningkatkan risiko kanker?
Klaim tersebut sudah lama beredar. Air yang direbus berulang kali disebut-sebut dapat mengalami perubahan kimia dan membuat zat seperti nitrat, arsenik, atau fluorida menjadi semakin terkonsentrasi. Dari sini kemudian muncul anggapan bahwa minum teh yang dibuat menggunakan air rebusan kedua atau ketiga dapat membahayakan kesehatan. Namun, bahan yang ditelaah menunjukkan bahwa kesimpulan tersebut terlalu jauh. Selama sumber air sejak awal memang aman diminum, merebusnya kembali tidak otomatis membuat air menjadi beracun.
Meski demikian, ada satu bagian dari kekhawatiran tersebut yang memiliki dasar kimia. Ketika air mendidih, sebagian air berubah menjadi uap, sedangkan sejumlah zat terlarut yang tidak mudah menguap tetap berada di dalam wadah. Jika air terus diuapkan dalam jumlah besar, zat-zat tersebut memang dapat menjadi lebih terkonsentrasi. Dengan kata lain, proses perebusan tidak menciptakan kontaminan baru, tetapi penguapan air dalam jumlah besar dapat meningkatkan konsentrasi zat yang sudah ada sebelumnya.
Persoalannya, membuat secangkir teh biasanya tidak melibatkan penguapan air dalam jumlah ekstrem. Kita umumnya hanya mendidihkan air hingga mencapai titik yang diperlukan, kemudian menuangkannya ke dalam cangkir. Air tidak direbus sampai tersisa seperlima atau sepersepuluh dari volume awal. Karena itu, pada kondisi rumah tangga yang normal, perubahan konsentrasi akibat satu atau dua kali perebusan biasanya sangat kecil.
Namun, ada pengecualian penting: jika sumber air memang sudah mengandung kontaminan dalam kadar tinggi, merebusnya berulang kali bukan solusi untuk membuat air tersebut lebih aman. EPA menjelaskan bahwa perebusan tidak menghilangkan nitrat. Ketika sebagian air menguap sementara nitrat tetap tertinggal, konsentrasinya justru dapat meningkat. WHO juga memperingatkan bahwa perebusan berlebihan atau terus-menerus dapat meningkatkan konsentrasi nitrat sehingga prosedur perebusan untuk keamanan mikrobiologis sebaiknya mengikuti panduan yang tepat.
Hal ini sekaligus menunjukkan bahwa masalah utamanya bukan terletak pada berapa kali air direbus, melainkan seberapa aman air tersebut sejak awal. Perebusan memang efektif untuk menonaktifkan berbagai mikroorganisme penyebab penyakit. WHO merekomendasikan air dipanaskan hingga mendidih untuk tujuan tersebut. Namun, perebusan tidak menghilangkan berbagai kontaminan kimia seperti logam berat, garam, dan sejumlah senyawa lain.
Bagaimana dengan anggapan bahwa air rebusan kedua membuat rasa teh menjadi buruk? Bagian ini jauh lebih subjektif. Bahan sumber menyebut belum ada bukti yang jelas bahwa perebusan kedua atau ketiga dalam kondisi normal secara otomatis mengubah rasa teh secara berarti. Salah satu teori yang sering muncul berkaitan dengan oksigen terlarut. Memang, air panas mengandung lebih sedikit oksigen terlarut dibandingkan air dingin. Namun, setelah air kembali mendingin, oksigen dari udara dapat kembali larut ke dalam air. Ketika air direbus lagi dengan kondisi serupa, perbedaannya tidak sesederhana klaim bahwa air tersebut telah " kehilangan oksigen" secara permanen.
Ada satu hal lain yang justru lebih relevan ketika membicarakan teh dan kesehatan: suhunya saat diminum. Badan Internasional untuk Penelitian Kanker (IARC) menggolongkan konsumsi minuman yang sangat panas, yakni di atas 65°C, sebagai kemungkinan bersifat karsinogenik terhadap manusia karena kaitannya dengan kanker esofagus. Jadi, kekhawatiran kesehatan terhadap teh tidak semestinya diarahkan pada fakta bahwa airnya direbus dua kali, tetapi juga pada kebiasaan meminum minuman dalam keadaan sangat panas.
Dengan demikian, anggapan bahwa air yang direbus dua kali pasti berbahaya atau dapat menyebabkan kanker tidak memiliki dasar yang cukup. Jika air berasal dari sumber yang aman dan tidak mengalami penguapan berlebihan, merebusnya kembali untuk membuat teh bukan persoalan kesehatan yang perlu ditakuti. Yang jauh lebih penting adalah memastikan kualitas air sejak awal dan tidak menggunakan perebusan sebagai cara untuk mengatasi air yang sudah diketahui tercemar. Dalam kasus teh, biarkan minuman sedikit mendingin sebelum diminum. Sebab, persoalan kesehatan yang nyata bukan terletak pada berapa kali air mendidih, melainkan apa yang terkandung di dalam air dan seberapa panas minuman tersebut ketika masuk ke tubuh.
Advertisement
Kasus Ijazah Gibran, Sudah Selesai atau Belum?

Menilik 5 Green Movement Seru di Synchronize Festival

Deal Lepas 10,08 Miliar, Low Tuck Kwong Tambah Porsi Lego Saham Bayan Resources ke Jhonlin Baratama

IHSG Dibuka Menguat, Investor Pantau Laporan Cadev RI

MK Tak Temukan Bukti Gibran Punya Ijazah Setara SMA, Tapi Tak Bisa Batalkan Status Wapres


Kenapa Pekerjaan Baru di Usia 30-an Bisa Membuat Kita Merasa Bodoh Lagi?

Setir Mobil Tiba-Tiba Berat Diputar? Ini 4 Penyebab dan Cara Mengeceknya


Pepaya vs Mangga, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah dan Pencernaan?


Huawei Gandeng LinkAja, Pembayaran QRIS Bisa Lewat Smartwatch HUAWEI WATCH GT 7 Series

Gandeng Bilal Indrajaya, Lyodra Beri Pesan Tak Menyerah pada Album Terkunci Di Kamu