Huawei Gandeng LinkAja, Pembayaran QRIS Bisa Lewat Smartwatch HUAWEI WATCH GT 7 Series
Gandeng Bilal Indrajaya, Lyodra Beri Pesan Tak Menyerah pada Album Terkunci Di Kamu
7 Jenis Tanaman yang Bisa Mengundang Ular ke Halaman Rumah, Bukan karena Baunya
Kenapa Tikus Suka Bersarang di Mesin Mobil, dan Cara Mengusirnya untuk Selamanya
Dua Seniman Indonesia Raih Grand Prize MR.D.I.Y. Regional Art Competition 2026
3 Suplemen yang Diam-Diam Bisa Mengganggu Tidur, Salah Satunya Sering Dikonsumsi
MK Sudah Putus, Drama Ijazah Gibran Belum Tamat
Kasus Ijazah Gibran, Sudah Selesai atau Belum?
© Pexels.com/RDNE Stock Project
DREAM.CO.ID - Aroma cokelat ternyata mungkin memiliki efek yang tidak terduga saat seseorang berolahraga. Penelitian terbaru menemukan bahwa mencium aroma cokelat sebelum dan di antara set latihan dapat membuat pria mampu melakukan lebih banyak repetisi latihan kaki, tanpa peningkatan rasa lelah atau persepsi bahwa latihan menjadi lebih berat.
Temuan tersebut berasal dari penelitian yang diterbitkan dalam Frontiers in Physiology. Dalam eksperimen ini, aroma cokelat hitam memberikan efek paling kuat dibandingkan aroma cokelat susu maupun air sebagai kontrol.
Penelitian melibatkan 23 pria sehat berusia awal hingga pertengahan 20-an yang memiliki tingkat kebugaran sedang. Para peserta dibagi menjadi tiga kelompok dan masing-masing terpapar salah satu dari tiga sampel: cokelat hitam cair dengan kandungan kakao 90 persen, cokelat susu cair dengan kandungan kakao 60 persen, atau air.
Sebelum menjalani latihan, peserta tidak makan selama sedikitnya 10 jam. Mereka kemudian melakukan leg extension, latihan dengan posisi duduk sambil meluruskan kaki bagian bawah untuk mengangkat beban.
Sebelum berolahraga, peneliti mengukur tingkat lapar, rasa kenyang, keinginan makan, serta keinginan untuk makan dalam waktu dekat. Selama latihan berlangsung, peserta kembali dinilai setelah mendapatkan paparan aroma selama 30 detik.
Hasilnya cukup menarik. Aroma cokelat hitam secara konsisten dikaitkan dengan rasa lapar yang lebih rendah, keinginan makan yang lebih kecil, serta rasa kenyang yang lebih tinggi dibandingkan air dan aroma cokelat susu.
Sementara itu, aroma cokelat susu dinilai lebih menyenangkan oleh peserta dibandingkan aroma cokelat hitam maupun air. Namun, aroma tersebut tidak menghasilkan perubahan signifikan pada rasa lapar atau nafsu makan.
Perbedaan juga terlihat pada kemampuan melakukan latihan. Menurut Mohamed Nashrudin bin Naharudin, penulis senior penelitian dari Faculty of Sports and Exercise Science, University of Malaya, peserta yang mencium aroma cokelat hitam 90 persen mampu melakukan sekitar 18 repetisi lebih banyak pada latihan leg extension dibandingkan kelompok kontrol. Aroma cokelat susu menghasilkan tambahan sekitar sembilan repetisi.
Yang membuat hasil ini menarik adalah tambahan repetisi tersebut tidak disertai peningkatan perceived exertion, yakni seberapa berat latihan dirasakan oleh peserta.
Para peneliti menduga efek tersebut berkaitan dengan cara otak memproses aroma makanan. Sejak kecil, manusia berulang kali mengalami aroma makanan bersamaan dengan aktivitas makan. Pengalaman tersebut dapat membentuk hubungan antara aroma tertentu dan kondisi setelah makan.
Ketika mencium aroma yang sudah dikenal, otak mungkin kemudian mengantisipasi makanan yang akan dikonsumsi. Pada cokelat hitam, aroma tersebut diduga berfungsi sebagai semacam isyarat yang berkaitan dengan makanan kaya rasa dan mengenyangkan. Sementara aroma cokelat susu yang lebih manis mungkin bekerja terutama melalui rasa menyenangkan dan sistem penghargaan.
Meski demikian, peneliti belum mengetahui secara pasti mekanisme biologis di balik temuan tersebut. Mereka tidak mengukur hormon dalam darah maupun aktivitas otak, sehingga belum dapat memastikan jalur fisiologis yang menyebabkan peningkatan performa.
Penelitian ini juga memiliki keterbatasan karena jumlah pesertanya kecil dan seluruhnya merupakan pria muda yang sehat dan cukup terlatih. Karena itu, hasilnya belum tentu berlaku pada perempuan, kelompok usia lain, atau orang dengan tingkat kebugaran berbeda.
Para peneliti juga belum mengetahui apakah aroma makanan lain dapat menghasilkan efek serupa. Menurut mereka, cokelat mungkin tidak sepenuhnya unik. Aroma makanan yang sudah familiar dan disukai seseorang berpotensi memberikan respons psikologis serupa, meski hal tersebut masih perlu diuji melalui penelitian berikutnya.
Advertisement
Kasus Ijazah Gibran, Sudah Selesai atau Belum?

Menilik 5 Green Movement Seru di Synchronize Festival

Deal Lepas 10,08 Miliar, Low Tuck Kwong Tambah Porsi Lego Saham Bayan Resources ke Jhonlin Baratama

IHSG Dibuka Menguat, Investor Pantau Laporan Cadev RI

MK Tak Temukan Bukti Gibran Punya Ijazah Setara SMA, Tapi Tak Bisa Batalkan Status Wapres


Kenapa Pekerjaan Baru di Usia 30-an Bisa Membuat Kita Merasa Bodoh Lagi?

Setir Mobil Tiba-Tiba Berat Diputar? Ini 4 Penyebab dan Cara Mengeceknya


Pepaya vs Mangga, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah dan Pencernaan?

Huawei Gandeng LinkAja, Pembayaran QRIS Bisa Lewat Smartwatch HUAWEI WATCH GT 7 Series

Gandeng Bilal Indrajaya, Lyodra Beri Pesan Tak Menyerah pada Album Terkunci Di Kamu

7 Jenis Tanaman yang Bisa Mengundang Ular ke Halaman Rumah, Bukan karena Baunya