Diundang Vatikan, Khatib Aam PBNU: Agama Harus Jadi Solusi Atasi Masalah

Reporter : Ahmad Baiquni
Senin, 13 Januari 2020 19:00
Diundang Vatikan, Khatib Aam PBNU: Agama Harus Jadi Solusi Atasi Masalah
Gus Yahya mendorong agar dialog antar-agama terus digalakkan untuk menebarkan pesan damai.

Dream - Khatib Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Yahya Cholil Staquf, akan menghadiri Pertemuan Tingkat Tinggi Agama-agama Ibrahim yang digelar di Vatikan 14 hingga 17 Januari 2020. Dia diminta menyampaikan pandangan untuk membangun gerakan bersama menciptakan perdamaian dunia.

" Kali ini saya harus hadir karena agendanya luar biasa penting,” kata Gus Yahya melalui keterangan tertulis diterima Dream, Senin 13 Januari 2020.

Pria yang akrab disapa Gus Yahya itu mengatakan undangan ini merupakan kali kedua yang diterimanya dari Vatikan. Pada Oktober silam, dia diundang dalam pertemuan dunia membahas isu seputar euthanasia, namun berhalangan hadir.

Menurut Gus Yahya, forum kali ini diinisiasi oleh Multi-Faith Neighbours Network, organisasi antaragama berbasis di Amerika Serikat. Organisasi ini didirikan bersama oleh Imam Eksekutif All Dulles Area Muslim Society (ADAMS) Center, Mohamed Magid, pendiri Gereja Northwood di Keller, Texas, Pastor Bob Roberts, dan Presiden World Union for Progressive Judaism, Rabbi David Saperstein.

1 dari 5 halaman

Saatnya Semua Bergerak Bersama

Dalam pertemuan nanti, Gus Yahya akan mendorong digalakkannya dialog antaragama secara terus menerus. Juga diwujudkan dalam tindakan nyata, tidak hanya sebatas kutipan-kutipan dari Kitab Suci maupun pernyataan para tokoh agama.

" Sudah terlalu lama umat manusia menunggu para tokoh agama bicara sejujur-jujurnya tentang masalah-masalah yang nyata-nyata sedang menimpa umat manusia dewasa ini, termasuk permusuhan dan konflik yang bengis di antara kelompok-kelompok berbeda agama," kata Gus Yahya.

Ulama kelahiran Rembang, Jawa Tengah, itu menegaskan, hakikat agama diturunkan ke bumi untuk menolong manusia mencari jalan keluar dari setiap persoalan. Tetapi karena lemahnya sifat dasar manusia, agama tereduksi sebatas menjadi identitas kelompok dan digunakan untuk bersaing dan bertarung dengan yang berbeda.

" Pada titik itulah, agama menjadi sumber konflik," kata dia.

Dia menambahkan, agama harus dimerdekakaan dari jeratan posisi sebagai sumber masalah. " Mengembalikannya kepada tujuan hakiki sebagai landasan memecahkan masalah," ucap Gus Yahya.

2 dari 5 halaman

PBNU Apresiasi Sikap Anggota Banser yang Tak Terprovokasi

Dream - Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Robikin Emhas, mengapresiasi ketenangan Eko, anggota Badan Ansor Serba Guna (Banser) yang mendapat persekusi di Jakarta Selatan.

" Sikap sahabat Eko patut dipuji. Tenang, sabar, dan tidak terpancing provokasi berupa olokan, cacian, paksaan dan tindakan yang mengesankan diri paling tahu Islam," ujar Robikin dalam keterangan tertulisnya, Rabu 11 Desember 2019.

Dengan bersikap tenang, kata dia, membuktikan bahwa Eko memiliki kedalaman ilmu pemahaman yang lebih baik.

" Respons kader Banser tersebut justru membuktikan kedalaman kualitas pemahaman keagamaan warga nahdliyyin dan keluhuran akhlaknya. Sesuatu sebagaimana diajarkan oleh agama," kata dia.

Robikin mengatakan, Islam melarang pengafiran orang lain, apalagi sesama Muslim.

" Mudahnya menjatuhkan vonis kafir ini boleh jadi disebabkan karena ideologi takfiri yang belakangan berkembang di Indonesia," ujar dia.

3 dari 5 halaman

Dipersekusi, Kader Banser PBNU Lapor Polisi

Dream - Anggota Barisan Ansor Serba Guna (Banser) mengalami persekusi pada Selasa, 10 Desember 2019. Peristiwa itu beredar di dunia Twitter.

Koordinator Jaringan Gusdurian, Alissa Wahid membagikan video tersebut ke akun Twitternya @AlissaWahid.

" Orang-orang ini tidak hanya mengganggu kelompok warga negara yg bukan muslim. Kelompok muslim seperti Banser NU pun diganggunya. Sejatinya, yang mereka perjuangkan bukan kebenaran, tapi kepentingan dirinya sendiri, dengan atas namakan agama,"  tulis Alissa.

 

4 dari 5 halaman

Diserahkan ke Polisi

Dalam video yang beredar, dua anggota Banser dipaksa untuk menunjukkan keislamannya. Dua anggota Banser dimintai kartu identitas dan dipaksa mengucap takbir.

" Lu takbir dulu kalau muslim," kata pria yang mempersekusi.

Dilaporkan NU Online, peristiwa itu terjadi di Jalan Ciputat Raya, Pondok Pinang, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan.

Korban persekusi yaitu berasal dari Satuan Koordinasi Rayon (Satkoryon) Banser salah satu kecamatan di Depok, Jawa Barat.

Banser Jakarta Selatan melaporkan aksi persekusi ini ke kepolisian. " Jangan ambil tindakan sendiri-sendiri," kata Kepala Satuan Koordinator Cabang Banser, Jakarta Selata, Yaya Khoirudin.

5 dari 5 halaman

Ketum PBNU: Cadar, Jenggot, dan Celana Cingkrang Hanya Masalah Kecil

Dream - Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Said Aqil Siradj, mengatakan jenggot, cadar dan celana cingkrang hanya masalah kecil dalam kehidupan keagamaan di Indonesia.

" Soal jenggot atau cingkrang itu masalah kecil lah," ujar Said di gedung PBNU, Jakarta, Selasa 12 November 2019.

Said menegaskan masalah besar yang tengah dihadapi di Indonesia adalah radikalisme dan bagaimana mengatasinya. 

" Yang masalah besar adalah bagaimana menyelesaikan deredikalisme," ucap dia.

Ulama asal Cirebon itu mengingatkan Indonesia jangan sampai seperti negara-negara di Timur Tengah yang hancur karena adanya radikalisme.

" Irak sudah 1,5 juta nyawa menghilang, Afghanistan 40 tahun perang saudara, Suriah sudah 500 ribu (orang tewas), Mesir belum selesai, Libya masih ribut," kata dia.

Said berharap seluruh rakyat Indonesia terus memupuk rasa persatuan dan kesatuan sehingga perpecahan tidak terjadi. Dia juga mendorong agar masyarakat kembali menggalakkan gotong royong.

" Jangan sampai seperti itu, maka yang penting kita mensosialisasikan gotong royong, persaudaraan sebangsa setanah air, kita ini bersaudara," kata dia.

Beri Komentar
5 Kiat Meningkatkan Daya Tahan Tubuh Biar Nggak Gampang Sakit Bersama Tolak Angin