Hoaks! Virus Corona di Buah Kurma Impor

Reporter : Maulana Kautsar
Selasa, 7 Mei 2019 13:01
Hoaks! Virus Corona di Buah Kurma Impor
WHO tak mengeluarkan rekomendasi.

Dream - Informasi hoaks mengenai virus Corona tersebar di media sosial dan perpesanan WhatsApp. Hoaks itu disebutkan, banyaknya kelelawar yang hidup di pohon kurma membawa serta virus Corona.

Informasi itu menggunakan anjuran dari para dokter dan Menteri Kesehatan di Timur Tengah.

" Karena tahun ini banyak kelelawar hidup di pohon-pohon kurma dan memakannya. Kelelawar ini membawa virus Corona," tertulis di informasi itu.

" Cucilah bersih-bersih kurma dari negara manapun sebelum dimakan."

 Isu mengenai kurma yang mengandung virus Corona (Foto: TurnBackHoax)

Isu mengenai kurma yang mengandung virus Corona (Foto: TurnBackHoax)

Informasi itu dianggap hoaks karena kabar palsu itu muncul di berbagai media sosial dan aplikasi percakapan di Malaysia 2017.

Dilaporkan, Dokter Sehat, pakar kesehatan, dr. Eko Budiharmaja menyebut tips mencuci kurma sebelum mengonsumsinya juga tidak akan mampu mensterilkan virus.

Eko menyebut, virus corona cenderung ditularkan lewat udara. Khususnya, dari orang yang sudah terpapar virus melalui bersin dan batuk.

Dilaporkan laman berita Malaysia, The Star, pada 21 Mei 2017, Dirjen Kementerian Kesehatan Malaysia, Datuk Dr Noor Hisham, telah meminta klarifikasi ke Badan Kesehatan Dunia (WHO) atau Kementerian Kesehatan negara-negara Timur Tengah tidak mengeluarkan saran dan peringatan apapun mengenai kontaminasi virus corona. (ism) 

1 dari 2 halaman

Kenali Gejala `Virus Kelelawar` yang Mematikan

Dream - Kedutaan Besar RI di Riyadh, Arab Saudi mengingatkan warga Indonesia yang akan menunaikan ibadah umroh ataupun haji untuk mewaspadai merebaknya virus Middle East Respiratory Syndrome Coronavirus (MERS-CoV). Apa sebenarnya virus yang sudah menewaskan 100 orang lebih sejak ditemukan pada 2012 itu?

Virus yang ditemukan pertama kali di Arab Saudi itu ditemukan pada kelelawar. Peneliti menguji sampel kelelawar yang tinggal 11 km dari pasien pertama yang terinfeksi MERS di Arab Saudi. Hasilnya, ada kemiripan 100 persen dengan virus MERS yang menyerang manusia.

Gejala umum penyakit ini sama dengan flu pada umumnya yakni demam, batuk disertai kesulitan bernafas. Meskipun sudah menyebabkan banyak korban tewas, sampai kini belum diketahui pasti bagaimana manusia bisa terinfeksi virus ini. Diduga penularan penyakit ini sama dengan corona virus lainnya. Seperti apa ciri khas penularan corona? Berikut rinciannya:

1. Penularan langsung lewat cairan penderita yang batuk atau bersin
2. Penularan tidak langsung melalui sentuhan benda-benda yang terkontiminasi virus
3. Kontak langsung dengan penderita

Gejala penyakit MERS-CoV ditandai dengan demam lebih ≥38°C. Bisa juga dialami pasien yang memiliki riwayat demam, batuk, pneumonia berdasarkan gejala klinis atau gambaran radiologis yang membutuhkan perawatan di rumah sakit dan bahkan di Intensive Care Unit (ICU).

Gejala juga bisa terlihat dari orang yang terinfeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) ringan sampai berat, yang memiliki riwayat kontak erat dengan kasus konfirmasi atau kasus probable infeksi MERS-CoV dalam waktu 14 hari sebelum sakit.

Bagaimana pencegahannya? Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Kementerian Kesehatan Tjandra Yoga Aditama memaparkan, para jamaah untuk selalu menjalankan pola hidup sehat.

" Menjaga higienis perorangan, rajin-rajin cuci tangan pakai sabun. Bila tangan tidak tampak kelihatan kotor gunakan antiseptik. Bila diperlukan gunakan masker," kata Tjandra saat berbincang dengan Dream.

Para jamaah juga harus mematuhi praktik-praktik pengamanan makanan. Seperti menghindari daging yang tidak dimasak atau penyediaan makanan dengan kondisi sanitasi yang baik. Bisa juga dengan mencuci buah dan sayuran dengan benar. Serta menghindari kontak yang tidak perlu dengan hewan-hewan yang diternakkan, hewan peliharaan dan hewan liar.

2 dari 2 halaman

Peneliti: Kelelawar Kunci Dunia Selamat dari Ebola

Dream - Peneliti Commonwealth Scientific and Industrial Research Organization (CSIRO) Australia, Michelle Baker, menduga menduga sistem kekebalan tubuh kelelawar bisa menjadi kunci masyarakat dunia untuk menangani krisis virus Ebola.

Sebagaimana dikutip ABC International, Selasa 28 Oktober 2014, selama ini kelelawar diduga sebagai pembawa virus Ebola secara alamiah. Baker mengatakan, kelelawar memiliki kemampuan membawa virus dalam jumlah besar tanpa mengalami dampak sampingnya.

" Virus yang tujuan hidupnya adalah untuk bereproduksi, tentu secara alamiah tidak akan membunuh wadah tempat hidupnya secara cepat. Dalam konteks ini, virus Ebola dan kelelawar menemukan ekuilibriumnya," jelas Baker.

Menurut dia, kelelawar hidup dengan Ebola dengan cara mengaktifkan sistem kekebalan tubuh secara konstan. " Yang perlu kita lakukan pada saat ini adalah mempelajari bagaimana kelelawar bisa mentoleransi pengaktifan sistem kekebalan tubuh mereka secara konstan tanpa mengalami efek buruk," kata dia.

Sebaliknya, tambah Baker, sistem kekebalan tubuh manusia baru bisa diaktifkan secara alamiah setelah mengalami kontak dengan virus tertentu. Karena itu, begitu sistim kekebalan tubuh manusia aktif, virus tersebut biasanya sudah menyebar.

" Fungsi utama sistim kekebalan tubuh adalah memusnahkan virus, namun dalam kasus virus Ebola, saat kekebalan tubuh manusia diaktifkan ke tingkat tinggi, justru yang terjadi adalah merusak wadah virus tersebut, yaitu tubuh manusia," tutur Baker.

" Terjadinya pendarahan internal dan eksternal dalam kasus ini, merupakan akibat dari sistem kekebalan tubuh manusia yang merespon virus Ebola secara sangat tinggi," tambah dia.

Karena itu, kata Baker, cara kelelawar merespons virus bisa menjadi kunci solusi mengatasi krisis Ebola saat ini. " Saya menduga masih cukup lama sebelum kita menemukan solusi terapi Ebola," ujar dia.

Sementrara itu peneliti CSIRO lainnya, Dr Kurt Zuelke, menjelaskan penyebaran Ebola dan virus lainnya seperti Hendra, Avian Influenza, dan SARS, merupakan akibat dari kian meningkatnya interaksi manusia dan hewan liar. " Tiga perempat dari jenis penyakit baru saat ini berasal dari hewan liar," jelas Zuelke. (Ism)

Beri Komentar
Yenny Wahid Rilis Produk Kecantikan Halal