Ibu Kehilangan Bayi Akibat Harus Rapid Test Covid-19

Reporter : Ahmad Baiquni
Jumat, 21 Agustus 2020 19:00
Ibu Kehilangan Bayi Akibat Harus Rapid Test Covid-19
Si bayi tak segera tertangani.

Dream - Gusti Ayu Arianti, 23 tahun, semestinya merasakan kebahagiaan dengan kelahiran putra pertamanya. Tetapi, yang dia dapatkan justru kepahitan mendalam.

Bayi Arianti meninggal dalam kandungan saat dia menunggu penanganan hendak melahirkan di rumah sakit di Mataram, Nusa Tenggara Barat. Dia tidak juga ditangani akibat harus menjalani tes Covid-19 di rumah sakit tersebut.

Ayah Arianti, Ketut Mahajaya, mengatakan, anaknya datang ke Rumah Sakit Angkatan Darat (RSAD) Mataram pada Selasa, 18 Agustus 2020 untuk persiapan persalinan. Setiba di sana, Arianti diharuskan menjalani tes cepat (rapid test) dulu.

Tetapi, RSAD Mataram tidak memiliki alat untuk tes cepat. Sehingga, Arianti bersama suaminya pergi ke Puskesmas Pagesangan untuk tes cepat.

 

1 dari 4 halaman

Tes Cepat di Puskesmas

Sampai di Puskesmas, Arianti merasa sakit perut dan akan segera melahirkan. Namun, pihak Puskesmas meminta Arianti menunggu hasil tes cepat.

" Anak saya dari sekitar pukul delapan pagi menunggu hasil rapid test di puskesmas namun baru keluar hasilnya sekitar pukul satu siang," kata Mahajaya.

Suami Arianti, Yudi Prasetia, mengungkapkan, istrinya sebenarnya hendak melahirkan di puskesmas. Tetapi, petugas mengaku tidak berani menangani sebelum keluar hasil tes cepat.

" Kata petugas Puskesmas 'tenang saja, tidak mungkin air ketuban habis', itu katanya ke saya," tutur Yudi.

Begitu hasil tes cepat dan menyatakan non-reaktif, Yudi langsung melarikan istrinya ke RS Permata Hati Mataram. Lokasi rumah sakit tersebut tidak terlalu jauh dari Puskesmas.

 

2 dari 4 halaman

Hasil Tes Cepat Tak Diterima

Mahajaya melanjutkan, setiba di RS, hasil tes cepat dari Puskesmas ternyata tidak diterima. Malah Arianti diharuskan menjalani tes cepat lagi di RS Permata Hati.

Dia pun mempertanyakan prosedur tes cepat mana yang berlaku. Juga mengapa tes cepat yang dilakukan anaknya ditolak dan harus diulang.

" Sehingga saya anggap telat ditangani sampai sang bayi kami duga keracunan air ketuban," kata dia.

Mahajaya juga mempertanyakan profesionalitas perawat ketika menangani pasien yang kesakitan namun malah diabaikan hanya karena persoalan hasil tes cepat. Kondisinya juga sudah sangat darurat.

" Bahkan mau istirahat di ruang bersalin saja tidak boleh dan disuruh duduk di luar, sementara pasien sudah mengeluarkan darah dan merasa pecah air ketubannya," kata dia.

Dia juga menyesalkan sikap perawat yang cenderung tidak profesional. " Tidak memiliki jiwa kemanusiaan namanya," tegas Mahajaya.

 

3 dari 4 halaman

Penjelasan RS Permata Hati

Wakil Direktur Medik RS Pertama Hati, Arief Rahman, menyatakan pihaknya sama sekali tidak menolak hasil tes cepat yang dibawa Arianti, apalagi meminta calon ibu muda tersebut untuk tes ulang. Dia menjelaskan Arianti tiba di RS Permata Hati tanggal 18 Agustus 2020 pukul 10.50 WITA diantarkan suami dan keluarganya dalam kondisi sadar.

Pasien yang bersangkutan segera diperiksa dokter jaga, bidan dan perawat yang bertugas di Instalasi Gawat Darurat. Pasien juga membawa hasil tes cepat sendiri yang didapatkan dari Puskesmas Pagesangan.

" Tidak ada kalimat dan pernyataan dari tim dokter hingga perawat IGD yang meminta dilakukan rapid tes ulang ataupun kalimat yang mempertanyakan hasil rapid test yang sudah dibawa pasien atau keluarga," kata Arief.

Perihal kakek korban yang diminta menunggu di luar, Arief mengatakan hal itu sudah menjadi prosedur baku di rumah sakit. Dalam kondisi darurat, penunggu atau keluarga pasien diharuskan menunggu di luar ruangan darurat agar tidak mengganggu tindakan medis yang harus dilakukan.

 

4 dari 4 halaman

Dioperasi

Arief menambahkan, telah dilakukan tindakan medis seperti pemeriksaan darah lengkap, bleeding time, clotthing, hbsag, golongan darah, dan rhesus pasien. Tetapi bukan tes cepat ulang.

Tindakan ini dijalankan sebagai persiapan operasi dan transfusi darah. Operasi dijalankan karena kondisi ibu dan janin darurat sehingga membutuhkan langkah penyelamatan segera atau operasi cito.

" Operasi dilakukan pada pukul 12.00 WITA dan pada pukul 12.55 WITA pasien selesai operasi dan dipindahkan ke ruang pemulihan. Penanganan pasien sudah sigap dilakukan oleh tenaga medis dan paramedis RSIA Permata Hati," kata Arief.

Sumber: Mandalikapost.com

Beri Komentar