Kabar Terbaru Joanna Palani, Sniper Perempuan Tembak Mati 100 Anggota ISIS

Reporter : Maulana Kautsar
Rabu, 26 Juni 2019 14:00
Kabar Terbaru Joanna Palani, Sniper Perempuan Tembak Mati 100 Anggota ISIS
Dalam buku itu dia menceritakan kisah hidupnya.

Dream - Perempuan pejuang pemburu ISIS, Joanna Palani sempat menjadi perbincangan pada 2017 silam. Dia mengklaim telah membunuh 100 orang militan ISIS dengan senapan miliknya.

Dia mengklaim, aksinya bergabung dengan pemburu ISIS demi keamanan Eropa.

Awal tahun ini, Joanna mengeluarkan buku mengenai perjuangannya melawan ISIS dan ketidakadilan gender.

Kisah itu tertuang dalam buku berjudul Freedom Fighter, Perangku Melawan Isis di Garis Terdepan Suriah.

Dalam ulasan Evening Standard, buku tersebut menceritakan latar belakang keluarganya. Joanna mengatakan, setiap perempuan di keluarganya terobsesi dengan `rasa malu`.

 Buku karya Joana Palani

Buku karya Joana Palani

Para perempuan tertekan karena perundungan kaum pria. Setelah memutuskan pendidikan di Denmark dan serangkaian kekerasan di rumah, Palani berlatih perang di Kobani, sebelah utara Suriah.

Dia bergabung dengan battalion YPJ pada 2014.

Selama berada di garis terdepan perang dan berburu anggota ISIS, dia mendapat pengalaman menyenangkan. Dia mengatakan, meski sempat memakan serangga dan teman-temannya mati di hadapannya, dia mendapat tantangan baru.

Menjinakkan bom dan sabotase menjadi daya tarik tersendiri baginya.

 

1 dari 6 halaman

Sniper Cantik Mematikan, Tembak Mati 100 Militan ISIS

Dream - Perempuan cantik bernama Joanna Palani tidak bisa dipandang sebelah mata. Di balik kecantikannya, perempuan berusia 22 tahun ternyata punya pengalaman yang bisa membikin nyali jadi menciut.

Joana selama ini ternyata telah membunuh 100 orang militan ISIS. Ya, perempuan ini ternyata salah satu anggota pejuang anti ISIS.

" Pejuang ISIS sangat mudah untuk dibunuh," kata Joanna, dilansir dari Mirror, Rabu, 8 Februari 2017.

Joanna yang meninggalkan studinya di Denmark memutuskan bergabung dengan pejuang anti-ISIS di pertempuran Irak dan Suriah dengan menjadi penembak jitu (sniper).

" Saya bersedia menyerahkan hidup saya dan kebebasan saya untuk menghentikan ISIS sehingga semua orang di Eropa bisa aman," ucap dia.

Selain menjadi penembak jitu, dia juga ikut membebaskan perempuan dan anak-anak yang ditahan dan dijadikan budak nafsu militan ISIS. Usai dibebaskan, mereka diajari untuk menjadi tentara dan melawan ISIS.

2 dari 6 halaman

Mantan Pengungsi

Joanna merupakan keturunan Iran-Kurdi dan ayah dan kakeknya adalah pejuang Peshmerga. Dia lahir di sebuah kamp pengungsi PBB sebelum pindah ke Kopenhagen. Dia belajar mengokang senjata sejak usia sembilan tahun.

Tapi, dia mengatakan, kehidupan berubah setelah berjuang di Iraq. Dia dianggap seorang teroris oleh negaranya tempat dia tinggal, Denmark.

" Tapi saya melihat sebagai teroris oleh negara saya sendiri," ucap dia.

" Saya tinggal di salah satu negara terbaik di dunia, namun saya mengalami kelaparan, menjadi tunawisma, meskipun saya bekerja, saya tidak mendapat kepercayaan siapa pun," kata dia menambahkan.

3 dari 6 halaman

Detik-detik Komandan ISIS Ditinggal Kabur Anak Buah Berperang Sendirian

Dream - Seorang komandan ISIS merekam kematiannya di medan perang setelah anak buahnya meninggalkannya sendirian menghadapi pasukan tentara Kurdi.

Menurut laporan, komandan ISIS yang tak disebutkan namanya itu tewas sendirian dalam penderitaan setelah tertembak di medan perang.

Detik-detik terakhir hidupnya di medan perang jelas-jelas terekam di dalam kamera GoPro-nya yang diikat di kepalanya.

Kamera itu diambil dari kepala komandan ISIS oleh anggota pasukan Kurdi yang tergabung dalam Syrian Defence Force (SDF).

Klip video, yang kemudian diunggah di media sosial, menunjukkan sang komandan ISIS mengisi dan menembakkan senapan secara membabi buta.

Setelah itu dia menoleh ke arah anak buahnya yang mengendarai mobil tempur dan bersiap meninggalkannya sendirian menghadapi SDF.

4 dari 6 halaman

Detik-detik Komandan ISIS Tertembak dan Ditinggal Pasukannya

Usai mendapat tembakan balasan, kamera di kepalanya mengarah ke tanah yang mengindikasikan komandan ISIS itu tertembak.

Menurut IdLib Post, insiden tersebut terjadi di dekat Dier ez-Zuir, kota terbesar di timur Suriah.

Halaman Facebook SDF menjelaskan bahwa militan ISIS terlihat dalam keadaan kebingungan akibat terdesak.

Mereka mengabaikan perintah pemimpin mereka dan meninggalkannya di belakang sendirian.

Pasukan Kurdi berada di ambang kemenangan untuk menguasai kota terakhir di bawah kendali ISIS di daerah itu, The Independent melaporkan pada hari Jumat.

Kota Hajin, di tepi sungai Eufrat di timur Suriah, adalah basis terakhir ISIS di Suriah.

Setelah tiga bulan pertempuran sengit, SDF pimpinan Kurdi mengumumkan telah menguasai sebagian besar kota tersebut.

Sumber: Mirror.co.uk

5 dari 6 halaman

Sekali Tembak, Komandan ISIS Tewas di Tangan Sniper Ini

Dream - Penembak jitu atau sniper anggota pasukan khusus Spesial Air Service (SAS) Inggris berhasil menewaskan komandan ISIS sekali tembak di jarak 1 mil atau 1,6 kilometer dalam operasi rahasia di Afghanistan Utara Juni lalu.

Ini merupakan one shot jarak jauh terbaik dan tepat menembus dada korban.

Dikutip dari Daily Star, Senin 13 Agustus 2018, sniper SAS tersebut berpangkat sersan dan pernah terjun di peperangan Irak serta Suriah. Senjata yang digunakan senapan mesin kaliber 50 milimeter.

Berdasarkan sumber, usai operasi itu berhasil, senapan mesin tersebut dinonaktifkan. Senjata itu dibawa ke Markas SAS, Hereford dan dijadikan sebagai kenang-kenangan.

Sniper tersebut sedang menjalankan patroli rahasia di kawasan yang dikuasai ISIS. Sniper tersebut mendapati komandan gerakan teroris itu berada di pos.

6 dari 6 halaman

Pakai Senapan Mesin Bekas Perang Korea

Rupanya, komandan ISIS yang dimaksud merupakan target militer Inggris dan Amerika Serikat. Meski membawa senjata khusus, si sniper merasa yakin cukup menggunakan senapan mesin yang sudah terpasang di mobil patroli.

Sniper tersebut meminta izin menyerang target. Seorang perwira senior di Markas Komando Operasi Khusus Gabungan di Kabul memberikan izin atas penyerangan tersebut.

Senapan mesin 50 Cal ini pernah digunakan sebagai senjata jarak jauh selama Perang Korea pada 1950-an. Senjata ini pertama kalinya digunakan dalam peran sniping murni oleh resimen elit Angkatan Darat Inggris.

" Penembak jitu itu tahu dia hanya punya satu kesempatan," ujar sumber tersebut.

" Selama beberapa detik (target) tidak ada yang bergerak. Ketika mereka menyadari apa yang terjadi, mereka bangkit dan melarikan diri," lanjut dia.

Laporan: Erisa Riyana

Beri Komentar
Yenny Wahid Rilis Produk Kecantikan Halal