Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?
Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?
Kalau Semua Informasi Ada di Socmed, Apa Alasan Kita Membaca?
Bisa Nggak Wahyu Ningsih Jadi CEO Microsoft?
Jika Guru Digaji Lebih Layak, Apakah Kualitas Pendidikan Indonesia Akan Meningkat?
Dunia Endgame Gita Wirjawan
Dunia Endgame Gita Wirjawan
Bandara I Gusti Ngurah Rai, Denpasar, Bali (Foto: Shutterstock)
Dream - Lembaga pelayanan navigasi penerbangan Indonesia, AirNav akan memperketat jadwal penerbangan di Bandara I Gusti Ngurah Rai, Denpasar, Bali. Kondisi ini karena munculnya siklon tropis Cempaka di perairan selatan Yogyakarta.
Siklon ini, menurut Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) akan menyebabkan sebaran abu vulkanik Gunung Agung, Bali berlangsung selama dua hingga empat hari ke depan.
“Dengan adanya siklon tropis cempaka, maka mengakibatkan angin di atas Bali berbelok ke arah selatan, sehingga abu vulkanik menutupi jalur pemanduan lalu lintas pesawat udara dan ruang udara di atas bandara I Gusti Ngurah Rai,” ujar Direktur Operasi AirNav Indonesia, Wisnu Darjono, Rabu, 28 November 2017.
Untuk menghindari sebaran abu vulkanik, kata Wisnu, status Bandara I Gusti Ngurah Rai pembukaan atau penutupan akan dievaluasi secara berkala. Wisnu mengatakan penutupan bandara akan berdampak pada pembatalan penerbangan baik penerbangan internasional maupun domestik.
“Data yang masuk sementara ini terdapat 419 penerbangan dengan 5 jalur penerbangan domestik dan 6 jalur penerbangan internasional yang terkena dampak dari penutupan ini,” ucap dia.
Adapun rincian 419 penerbangan tersebut antara lain 84 kedatangan penerbangan internasional, 92 keberangkatan penerbangan internasional, 120 kedatangan penerbangan domestik dan 114 keberangkatan penerbangan domestik.
Dengan ditutupnya Bandara I Gusti Ngurah Rai, beberapa bandara alternatif disiapkan untuk pengalihan pendaratan. Berdasarkan ketersediaan parking stand Selasa siang, 28 November 2017, ada delapan bandara yang menjadi pilihan.
Delapan bandara itu antara lain Bandara Sultan Hasanuddin Ujung Pandang, dengan kapasitas 2 Wide Body (WB), 3 Narrow Body (NB); Bandara Praya Lombok dengan kapasitas 4 NB dan 3 Air Regional Transport (ATR); Bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan Balikpapan dengan kapasitas 4 NB; Bandara Adisutjipto Yogyakarta dengan kapasitas 1 NB dan 1 ATR.
Selain itu ada pula Bandara Juanda Surabaya dengan kapasitas 4 WB dan 4 NB; Bandara Ahmad Yani Semarang dengan kapasitas 1 NB dan 2 ATR; Bandara El Tari Kupang 1 NB dan 3 NB; dan Bandara Sam Ratulangi Manado dengan kapasitas 2 NB dan 3 NB.
(Sah)
Advertisement

Benarkah Kecerdasan Manusia Menurun? Studi Ungkap Tren Mengkhawatirkan Sejak 2012

Mengapa Anak Suka Makan Upil? Sains Punya Penjelasan di Balik Kebiasaan Ini

Kurang Tidur Bisa Ganggu Gula Darah dan Kesehatan Jantung, Olahraga 10–15 Menit Ini Bisa Membantu

Sering Buang Angin Tanpa Sebab Jelas? Kebiasaan Mengunyah Permen Karet Bisa Jadi Pemicunya

Berawal dari Penyakit Misterius dan Mayat Membusuk, Begini Sejarah Mitos Vampir yang Mendunia

IHSG Lanjutan Menguat ke Level 5.387, Saham Bank Pelat Merah Bermekaran

Teori Lipstik: Mengapa Penjualan Lipstik Mewah Bisa Meningkat Saat Ekonomi Memburuk?