Kenapa Belum Ada Korban Lion Air JT610 yang Teridentifikasi?

Reporter : Maulana Kautsar
Rabu, 31 Oktober 2018 13:02
Kenapa Belum Ada Korban Lion Air JT610 yang Teridentifikasi?
Padahal, ada kesamaan ciri yang disampaikan keluarga dengan bagian organ tubuh yang ditemukan.

Dream - Rekonsiliasi yang dilakukan tim Disaster Victim Identification (DVI) Selasa sore, 30 Oktober 2018 sempat berdiskusi panas.
 
Kondisi itu lantaran adanya kesamaan ciri yang disampaikan keluarga dengan bagian organ tubuh yang ditemukan. 
 
Kepala RS Polri, Kombes Pol Musyafak mengatakan, hasil rontgen yang dilakukan menunjukkan organ tubuh itu diperkirakan bagian dari anak berusia 3-4 tahun dan dua bayi. 
 
“ Rekonsiliasi juga sudah, tapi belum ada satu pun yang teridentifikasi. Meskipun sudah ada masukan dan kurang lebih ada tiga korban dalam pembicaraan yang ketat dari aspek pemeriksaan tanda medis ada tato, kemudian didapatkan korban yang berumur 3-4 tahun dan dua bayi,” ujar Musyafak di RS Polri, Kramatjati, Jakarta Timur, Rabu, 31 Oktober 2018.
 
Untuk memastikan organ tubuh itu, tim DVI akan melakukan pencocokan DNA yang telah diberikan pihak keluarga. Alasan itu yang juga menjadi salah satu alasan sampai saat ini pihak RS Polri belum berhasil mengidentifikasikan satu jenazah pun.
 
Sampai dengan pagi ini sudah 191 data antemortem yang diberikan keluarga ke RS Polri. Sementara itu, dari jumlah tersebut, 147 keluarga telah diambel sampel DNA-nya.
 
Musyafak meminta agar orang tua atau anak korban segera menyerahkan sampel DNA agar proses identifikasi dapat berjalan lebih cepat. 
 
Hingga berita ini dibuat, sebanyak 48 kantong jenazah sudah dikirimkan ke RS Polri. Di luar jumlah itu, terdapat empat kantong berisi material korban juga telah berada di ruang post mortem RS. Polri.
 
“ Tadi malem 24 kantong jenazah, jadi ada 48 di post mortem kita,” ucapnya.
 
Musyafak mengatakan, 24 kantong jenazah yang datang di hari kedua ini,  akan diidentifikasi hari ini.
 
“ Yang baru dikirim tadi malem sampai saat ini masih di kamar pendingin, pagi ini akan dilaksanakan pemeriksaan,”  ujar dia. (ism)
 
 

1 dari 2 halaman

Mitos Tanjung Pakis, Lokasi Jatuhnya Lion Air JT610

Dream - Pesawat Lion Air JT 610 rute Jakarta-Pangkalpinang yang membawa 189 orang penumpang dan awak jatuh di perairan Tanjung Pakis, Karawang, Jawa Barat, Senin 29 Oktober 2018.

Tanjung Pakis berada di wilayah utara Kabupaten Karawang atau masuk dalam kawasan pantai utara (Pantura) Laut Jawa. Sejak peristiwa jatuhnya pesawat Lion Air, nama Tanjung Pakis atau Tanjung Karawang mulai dikenal.

Tanjung Pakis adalah lokasi yang biasa digunakan nelayan setempat untuk mencari udang serta memancing. Tempat itu dikenal sebagai tempat yang sangat banyak ikan dengan berbagai spesies.

Namun siapa yang menyangka jika keberadaan Tanjung Pakis dahulu adalah tempat yang sangat jarang terjamah orang.

" Dulunya sekitar tahun 90-an di lokasi jatuhnya pesawat , nelayan tidak berani ke titik jatuhnya pesawat karena terbilang angker," kata Dadang, nelayan setempat, Selasa 30 Oktober 2018, seperti dilansir Liputan6.com. 

Lelaki 52 tahun ini mengatakan di lokasi itu merupakan berkumpulnya ikan-ikan besar seperti ikan hiu tutul, dan spesies lain. Sehingga nelayan sekitar tidak berani melintasi lokasi tersebut saking banyaknya ikan besar.

" Area di mana jatuhnya pesawat sering terjadi kejadian aneh, sehingga dianggap area yang berbahaya dan harus dihindari oleh nelayan," katanya.

Hal senada juga dikatakan warga setempat, Boros, memang dulu sering terjadi kapal nelayan terbalik di area jatuhnya pesawat dan korbannya hilang misterius, sehingga dianggap angker oleh warga dan nelayan sekitar .

" Menurut cerita orang tua dulu memang dianggap angker, nelayan tidak berani mencari ikan dilokasi tersebut," tutur Boros.

Seiring waktu berjalan, kata Boros, sekarang lokasi jatuhnya pesawat dengan kedalaman 30 meter itu menjadi tempat mencari ikan para nelayan dan warga untuk memancing di area itu.

Di area tersebut itu menjadi tempat mencari ikan udang bagi nelayan dan warga sekitar juga kerap memancing ikan di lokasi.

" Sekarang banyak warga dan nelayan mencari ikan ke lokasi itu karena ikan udang cukup banyak ditemukan ditempat itu," tambah Boros.

Nelayan sekitar wilayah Tanjung Pakis sering memanfaatkan lokasi itu untuk mencari ikan, karena kesan mistis seperti dulu tidak lagi dirasakan Masayarakat sekitar. Malah jarang ditemukan ikan-ikan besar seperti hiu di lokasi itu, yang ada hanya ikan-ikan kecil.

" Sekarang sudah tidak lagi dianggap angker oleh nelayan, malah sering menjadi tujuan untuk mencari ikan udang dengan sampan-sampan ukuran kecil," pungkasnya.

(ism, sumber: Liputan6.com)

2 dari 2 halaman

Kesaksian Nelayan Lihat Lion Air JT610 Oleng Sebelum Jatuh

Dream - Pesawat Lion Air JT 610 dengan rute Jakarta-Pangkal Pinang 13 menit setelah lepas landas dari Bandara Soekarno-Hatta, Senin 29 Oktober 2018 pagi.

Burung besi tersebut jatuh di perairan perbatasan Karawang dan Bekasi sekitar pukul 6.33 pagi. Tragedi pilu ini rupanya disaksikan sejumlah nelayan setempat.

Seorang nelayan bernama Samin (35 tahun) mengaku melihat langsung detik-detik pesawat tersebut oleng sebelum jatuh ke laut.

“ Jam 7an saya lihatnya,” ucap Samin seperti dikutip Dream dari pojoksatu.id.

Meski melihat pesawat oleng, Samin mengaku tak sempat melihat momen saat pesawat itu menghujam ke lautan. 

“ Pas oleng saya lihat. Pas jatuhnya enggak lihat,” tambah Samin.

Tak lama kemudian, masih dari pengakuan Samin, dia dikagetkan dengan suara ledakan dan gumpalan asap.

“ Ledakan memang mendengar, sama ada gumpalan asap tebal,” lanjutnya.

Beri Komentar
Canggih, Restu Anggraini Desain Mantel dengan Penghangat Elektrik