Rabu, 21 Oktober 2026 Cari

Kisruh Twitter, Kekacauan Saat Twitter Coba Memonetisasi Centang Biru

Reporter : Edy Haryadi
Senin, 21 November 2022 21:04
Kisruh Twitter, Kekacauan Saat Twitter Coba Memonetisasi Centang Biru
Yang terjadi adalah maraknya akun palsu penipu.

Dream – Hari-hari ini terasa sesak bagi Uly Siregar, 45 tahun. Mantan jurnalis yang telah menetap hampir 20 tahun di Arizona, Amerika Serikat ini galau dengan kebijakan baru Elon Musk untuk mengenakan biaya U$ 8 dolar atau Rp 124 ribu untuk mereka yang memiliki akun centang biru di Twitter.

Ibu tiga anak dari pernikahannya dengan warga negara AS itu sudah bergabung di Twitter sejak bulan Mei 2011 atau 11 tahun lalu. Akunnya, @sheknowshoney, sudah memiliki centang biru. Ia memiliki pengikut atau follower sebanyak 52.600.

Ia mengaku mendapat centang biru Twitter lima tahun lalu saat pengikutnya masih 1.100 orang. Ia juga harus mengisi formulir dan mengajukannya ke Twitter untuk mendapat centang biru itu secara gratis dan membuktikan akun dia asli. Sebagai jurnalis, dia diminta menunjukkan karyanya. Dan dengan senang hati dia memenuhi permintaan itu. Jadi ketika centang biru dia dapat lima tahun lalu dia merasa gembira.

Tapi kegembiraan Uly itu kini rontok setelah Elon Musk menerapkan aturan berbayar untuk mengenjot pendapatan Twitter setelah Musk membelinya U$ 44 miliar atau Rp 683 triliun tanggal 28 Oktober 2022 lalu.

“ Kalau centang biru untuk verifikasi seharusnya tidak perlu berbayar. Jadi kalau semua orang sekarang bisa memiliki centang biru, buat apa? Padahal centang biru diperlukan untuk verifikasi. Misalnya akun presiden Jokowi sungguhan itu akun dia. Terkecuali ada tambahan fitur untuk mengedit, ada fitur super follow, dan bisa memonitisasi, mungkin bisa dijual,” ujar Uly saat dihubungi Dream.co.id pekan lalu.

Uly juga tidak mempersoalkan jumlah iurannya yang hanya U$ 8 atau Rp 124 ribu perbulan. Ia mengaku bisa membayarnya dan tidak bakal memberatkannya. Tapi masalahnya dia menolak membayar. Karena ini masalah prinsip. Apalagi Twitter kini dimiliki Elon Musk.

 “ Kalau U$ 8 dolar tidak masalah buat saya. Tapi masalahnya ada di Elon Musk. Dia mengacaukan Twitter. Dia dikenal sebagai pendukung Partai Republik dan pendukung Trump. Jadi ini masalah prinsip. Dengan cara dia membubarkan Divisi HAM Twitter saat memecat karyawan, juga cara dia membuat menakut-nakuti orang yang mengkritik dia. Jadi terus-terang saya tak akan membayar. Meski dengan demikian saya harus bersiap-siap kehilangan centang biru,” ujarnya.

Uly Siregar (tengah) bersama suami dan tiga anaknya

(Uly Siregar (tengah) bersama suami dan tiga anaknya/Deuche Welle)

Apalagi, katanya, dengan aturan baru itu, centang biru sudah tidak memiliki eksklusifitas lagi, karena semua orang bisa memilikinya dengan cara membeli. Jadi, bila dulu centang biru adalah sebuah pengetahuan bahwa penggunanya asli, sekarang semua orang bisa memiliknya hanya karena mampu membayar. “ Jadi. terserah. Hilang ya hilang,” katanya.

Ia juga mengaku kesal dengan Elon Musk. “ Elon Musk itu fasis. Men-suspend akun orang di Twitter yang mengritik dia. Jadi saya tidak mau membayar dia. Twitter di bawah Elon Musk selain sangat komersial, dia juga membatasi orang-orang bersuara keras terhadap dia. Orang-orang yang bersuara keras semuanya di-suspend,” ujarnya.

Sebagai jalan keluar untuk menghilangkan ketergantungan dengan Twitter, Uly juga mengaku sudah membuat akun baru di media sosial lain seperti Mastodon dan Tribal. Dia juga mengaku akan mengambil centang biru terverifikasi di Facebook dan Instagram.

Lalu, bagaimana ceritanya Elon Musk yang awalnya batal membeli Twitter, lalu berbalik jadi membeli dan kemudian menerapkan aturan baru bagi pengguna?

***

Ceritanya bermula pada suatu malam yang sejuk di San Jose, California, akhir Maret 2022 lalu. Sebuah pertemuan dadakan tengah disiapkan di sebuah penginapan Airbnb untuk menjamu orang terkaya di dunia.

Itu adalah sebuah pertemuan besar bagi Twitter. Saat itu Elon Musk baru menjadi pemegang saham terbesar di perusahaan media sosial tersebut. Rapat diadakan di tengah desas-desus bahwa Elon Musk ingin bergabung dengan dewan direksi Twitter.

Ketua Dewan Direksi Twitter, Bret Taylor, mengaku tempat itu tidak sesuai dengan harapannya. Ini adalah " tempat paling aneh untuk rapat yang saya datangi belakangan ini" , katanya kepada Musk melalui pesan singkat.

" Saya pikir mereka mencari Airbnb di sekitar bandara, kemudian ada ada traktor dan keledai," ujar Taylor.

Bagaimanapun, pertemuan itu ternyata berjalan lancar.

Beberapa hari kemudian Musk diumumkan akan bergabung dengan dewan direksi Twitter.

Itu baru permulaan. Enam bulan berikutnya terjadi tarik ulur kesepakatan terheboh yang pernah terjadi dalam sejarah Silicon Valley.

Elon Musk membawa wastafel saat masuk pertama ka kaator Twitter

(Elon MUsk membawa wastafel sesaat setelah membeli Twitter/Istimewa)

Pada awal April, Musk tampak senang dengan posisinya sebagai anggota dewan direksi di Twitter. Dia berulang kali mencuit soal bagaimana perusahaan media sosial itu dapat berubah.

Namun, pertemuan pribadi antara Musk dengan CEO Twitter, Parag Agrawal, tidak berlangsung baik. Keduanya tidak sepakat soal bagaimana cara membenahi Twitter. Musk pun frustasi.

" Membenahi Twitter dengan berdiskusi bersama Parag tidak akan berhasil," kata Musk melalui pesan singkat kepada Taylor. " Tindakan yang drastis perlu dilakukan."

Pada 14 April 2022, Musk secara terbuka menyatakan bahwa dia ingin membeli Twitter sepenuhnya.

Dia menawarkan U$ 44 miliar atau setara dengan Rp683 triliun untuk membeli Twitter. Dewan direksi Twitter awalnya menolak tawaran itu, bahkan membuat ketentuan khusus demi mencegah Musk membeli perusahaan secara paksa.

Tetapi kemudian terjadi perubahan sikap. Setelah melalui pertimbangan, dewan direksi Twitter memutuskan menerima penawaran Musk.

Keputusan itu dicuitkan Musk pada 25 April. " Yesssss," cuit Musk.

Menurut Musk, Twitter telah kehilangan arah. Dia menilai Twitter terlalu sering membatasi pembicaraan. Padahal, menurut Musk, sebagai " balai kotanya dunia" , Twitter perlu menempatkan kebebasan berpendapat di atas segala-galanya.

Musk menyatakan tidak peduli dengan " ekonomi sama sekali" dalam sebuah wawancara di konferensi TED2022 di Vancouver, Kanada.

Namun beberapa bulan setelah kesepakatan itu, nilai saham perusahaan-perusahaan teknologi jatuh. Nilai Twitter pun ikut turun. Banyak analis mulai mempertanyakan apakah Musk membayar terlalu mahal untuk mendapatkan Twitter.

Musk mulai mengajukan sejumlah pertanyaan secara publik, salah satunya, berapa banyak akun pengguna asli Twitter?

Miliarder terkaya di dunia menurut versi Forbes dan Bloomberg ini,  dengan nilai kekayaan bersih sekitar U$ 250 miliar atau Rp3.900 triliun, telah bertahun-tahun mengeluhkan banyaknya akun bot di Twitter.

Setelah tawarannya diterima, Musk berulang kali meminta Twitter memberi data mengenai berapa banyak sebenarnya pengguna asli dari platform tersebut.

Data yang dibagikan eksekutif Twitter menunjukkan bahwa kurang dari 5% pengguna aktif harian adalah bot, yang diperkirakan berdasarkan sampel acak akun-akun di Twitter. Itu tampaknya membuat Musk marah.

Musk menanggapi utas panjang Parag Agrawal, yang menjelaskan bagaimana Twitter mencapai angka itu, dengan emoji kotoran.

Parag Agrawal di kantor Twitter

(Parag Agrawal, CEO Twitter yang dipecat Musk setelah dia membeli Twitter)

Kesepakatan antara Musk-Twitter pun menjadi berantakan. Pada 8 Juli, Musk mengumumkan bahwa dia ingin menarik diri dari kesepakatan pembelian itu.

Sulit untuk memastikan apakah Musk saat itu benar-benar ingin membatalkan kesepakatan atau sedang mencoba mendapatkan harga yang lebih baik untuk Twitter.

Twitter tidak menerima itu dan menyatakan perjanjian dengan Musk terikat oleh hukum dan membatalkannya bukanlah suatu pilihan.

Persoalan ini pun berujung pada gugatan di pengadilan, di mana kedua belah pihak menyewa pengacara mahal. Persidangan telah ditetapkan pada 17 Oktober 2022 di Delaware untuk memutuskan apakah Musk harus tetap membeli perusahaan itu.

Dalam dokumen pengadilan, Twitter berargumen bahwa mereka telah memberi banyak informasi soal berapa banyak pengguna sebenarnya di platform itu.

Di sisi lain, Musk berpendapat Twitter bisa memiliki bot berkali-kali lipat lebih banyak dibanding yang mereka akui secara terbuka. Musk bahkan menuduh Twitter melakukan penipuan.

Kritikan yang disampaikan secara terbuka itu pun mulai berdampak buruk bagi Twitter. Sebagian besar pendapatan Twitter berasal dari iklan, sehingga para pengiklan mulai bertanya-tanya berapa banyak iklan yang ditampilkan kepada pengguna sungguhan, bukan bot.

Proses ini pun menjadi sangat mengganggu, bahkan di kantor pusat Twitter. Sejumlah karyawan menyukai gagasan Musk menjadi CEO mereka. Di sisi lain, banyak yang secara pribadi, beberapa bahkan secara terbuka, mengatakan bahwa pembelian Twitter akan berujung bencana bagi moderasi konten dan visi perusahaan.

Namun ketika Musk, Twitter, majelis hakim, hingga jurnalis bersiap untuk mengikuti persidangan yang tampaknya tidak terhindarkan, perubahan besar lainnya terjadi.

Entah bagaimana, setelah melontarkan banyak tuduhan terhadap Twitter, Musk tiba-tiba mengumumkan bahwa kesepakatan itu kembali berlaku.

" Membeli Twitter adalah akselerasi untuk membuat X, aplikasi segalanya," kata dia.

Apa yang telah mengubah pikiran Musk? Mungkin dia mengira akan kalah di pengadilan.

Beberapa hari sebelum keputusannya berubah, Musk harus segera menghadapi deposisi (kesaksian di luar pengadilan) oleh pengacara Twitter.

Mungkin dia ingin menghindari proses yang melelahkan itu dan pemeriksaan silang yang akan mengungkap banyak hal.

Apapun alasannnya, Twitter tidak serta merta merayakan keputusan baru Musk itu. Setelah kesepakatan pertama berjalan tidak mulus, Twitter menjadi lebih berhati-hati dan tampak tidak bereaksi.

Taylor mencuit bahwa perusahaan itu " berkomitmen menyelesaikan kesepakatan berdasarkan harga dan persyaratan yang disetujui bersama Musk."

Twitter juga meminta agar kasus mereka pengadilan ditunda, bukan dibatalkan.

Pengacara Musk mengatakan bahwa Twitter " tidak akan menerima 'ya' sebagai jawaban" .

Pada Jumat, 28 Oktober 2022,, Ross Gerber, yang merupakan salah satu investor Twitter sekaligus CEO Gerber Kawasaki Investments di California, mengonfirmasi kepada BBC bahwa Elon Musk telah menyelesaikan pengambilalihan Twitter senilai US$44 miliar. " Saya pikir pengadilan telah mendorongnya melewati batas," kata Gerber.

" Terus terang, ini telah menjadi semacam bencana sejak awal. Tentu saja dimulai dengan mendekati Twitter secara sangat agresif dan benar-benar memaksa Twitter ke meja perundingan ... kemudian menjadi gusar dan bertengkar di depan publik mengenai sesuatu yang bagi saya adalah topik yang sudah sangat diketahui," tambahnya.

Setelah Elon Musk mengambil alih Twitter, CEO Parag Agrawal dan Kepala Keuangan Ned Segal langsung dipecat.

***

Setelah proses panjang selama hampir enam bulan, Elon Musk akhirnya resmi mengakuisisi Twitter. Tak lama setelah resmi memiliki salah satu media sosial terbesar itu, Elon Musk langsung memecat beberapa petingginya.

Dalam gebrakan pertama, Elon Musk juga langsung menyingkirkan sekitar separuh dari 7.500 karyawan Twitter. Bidang yang paling terkena dampak rasionalisasi Elon Musk adalah bagian moderasi, keselamatan dan kepercayaan produk, kebijakan, komunikasi, kurasi tweet, AI, data sains, riset, pembelajaran mesin, dan aksesibilitas.

Pemecatan 3.700 lebih karyawan Twitter khususnya bagian moderasi konten membuat Komisaris Tinggi PBB untuk HAM, Volker Türk, mendesak Elon Musk untuk memastikan hak asasi manusia masih menjadi pusat perhatian Twitter. Sebab tim yang bertanggung jawab atas HAM termasuk di antara mereka yang terkena dampak pemecatan.

" Twitter bagian dari revolusi global yang telah mengubah cara kita berkomunikasi," kata Türk dalam surat itu. " Tapi saya menulis dengan keprihatinan dan ketakutan tentang alun-alun publik digital kami dan peran Twitter di dalamnya."

Musk selama ini mengklaim dirinya sebagai absolut kebebasan berbicara. Ia berjanji akan membuat perubahan besar, termasuk kemungkinan membatalkan pembekuan akun Twitter bekas Presiden Donald Trump.

Belakangan, Elon Musk, resmi mengumumkan bahwa akun mantan Presiden AS Donald Trump akan kembali diaktifkan di Twitter. Pengumuman tersebut disampaikan Musk di Twitter pada Sabtu 20 November 2022 setelah dia menggelar jajak pendapat mengenai pengaktifan lagi akun Trump. Sebelumnya, akun Trump dinonaktifkan oleh Twitter setelah insiden penyerbuan Gedung Capitol AS pada 6 Januari 2021.

Dalam jajak pendapat yang digelar Musk, sebanyak 51,8 persen memilih ya sedangkan sisanya memilih tidak. “ Rakyat telah berbicara. Trump akan dipulihkan. Vox Populi, Vox Dei (suara rakyat, suara tuhan),” tulis Musk.

Artis Hollywood pun memutuskan untuk berhenti menggunakan Twitter. Supermodel Gigi Hadid menjadi figur publik yang baru saja mengumumkan nonaktif akun Twitter, karena merasa media sosial itu akan menjadi tempat pelampiasan kebencian dan fanatisme. Padahal Gigi memiliki 10 juta pengikut di Twitter.

Gigi Hadid

(Gigi Hadid)

Perempuan berusia 27 tahun itu mengumumkan di Instagram bahwa dia menonaktifkan akun Twitter-nya pada Jumat, 4 November 2022, di tengah PHK massal, termasuk pemecatan tim hak asasi manusia.

“ Untuk waktu yang lama, tetapi terutama dengan kepemimpinan barunya,” tulis Hadid tentang Musk, “ ini menjadi semakin menjadi tempat pembuangan kebencian dan kefanatikan, dan bukan tempat yang saya inginkan untuk menjadi bagian  dari itu."

Dia menambahkan permintaan maaf kepada 10 juta penggemarnya di Twitter, menulis bahwa dia senang terhubung dengan mereka.

" Saya tidak bisa menganggapnya sebagai tempat yang aman bagi siapa pun, atau platform sosial yang lebih baik daripada membahayakan," kata dia melanjutkan.

Masalahnya, petaka belum selesai. Para pengiklan besar ramai-ramai berhenti memasang iklan di Twiiter karena khawatir media sosial itu menjadi luapan kebencian dan memecah belah. Padahal 92 persen pendapatan Twitter yang sebesar U$ 5 miliar atau Rp 78 triliun pada tahun 2021, berasal dari iklan.

Karena itulah untuk mengurangi ketergantungan pendapatan pada iklan yang menyumbang 92 % pemasukan Twiiter, Musk menerapkan aturan baru:  centang biru berbayar seharga U$ 8 per bulan. Sebab, jika tidak, Musk khawatir Twitter akan menuju ambang kebangkrutan

***

Namun saat centang biru berbayar diluncurkan, yang terjadi kemudian adalah kekacauan. Sehingga Twitter buru-buru menutup kembali layanan ini.

Menurut The New York Times, setelah Elon Musk sebagai pemilik baru Twitter, mengubah layanan berlangganan untuk memberi pengguna tanda akun centang biru terverifikasi seharga U$ 8 atau Rp 124 ribu per bulan, pengguna jahil mulai menyalahgunakan program itu.

Akun Twitter dengan tanda centang menyamar sebagai perusahaan seperti Eli Lilly dan PepsiCo, mengirim pesan palsu tentang insulin gratis dan keunggulan Coca-Cola. Satu akun dengan tanda centang berpura-pura menjadi Tesla, perusahaan mobil listrik  Musk, dan membual tentang penggunaan pekerja anak.

Pada Kamis malam, gangguan di Twitter tampaknya telah menjadi terlalu berat bagi Musk.

“ Kami perlu segera meluncurkan label resmi untuk pengiklan besar karena peniruan identitas,” tulis seorang manajer teknik Twitter dalam pesan internal yang dilihat oleh The New York Times. " Permintaan dari Elon."

Twitter, yang disebut alun-alun kota global, dengan sekitar 240 juta pengguna, dalam beberapa hari terakhir telah berubah kacau, setelah sejumlah  akun palsu yang berpura-pura menjadi merek terkenal dan mengirim tweet yang mengganggu.

Pada Kamis malam, Twitter Blue, layanan berlangganan yang dibayar orang untuk mendapatkan tanda centang biru, tampaknya dijeda. Tanda centang biru telah lama menjadi simbol otentifikasi yang kuat bagi selebriti, perusahaan, dan politisi. Itu sebelumnya gratis dan diberikan hanya setelah Twitter memverifikasi identitas pemegang akun.

Musk dan Twitter tidak mengomentari status Twitter Blue. Tetapi miliarder berusia 51 tahun itu tampak tidak menyesal tentang perubahan dan aktivitasnya di platform. Dia mengatakan dalam sebuah tweet Jumat pagi bahwa Twitter " mencapai tertinggi sepanjang masa dari pengguna aktif hari ini."

Kekacauan itu adalah dampak terbaru dari kepemilikan Twitter oleh Musk. Sejak menyelesaikan pengambilalihannya, Musk telah memberhentikan sekitar setengah dari 7.500 karyawan Twitter, mengatakan kepada para pemasang iklan bahwa dia akan terlibat dalam " termonuklir & rasa malu" jika mereka menghentikan iklan mereka dan memperingatkan bahwa perusahaan dalam kondisi buruk sehingga mengalami arus kas negatif dan bisa membuat Twitter di ambang kebangkrutan.

Salah satu solusi Musk adalah mendorong lebih banyak pendapatan berlangganan, termasuk menagih U$ 8 per bulan untuk Twitter Blue dan membiarkan mereka yang membayar mendapatkan tanda centang biru.

Satu akun penipu dengan tanda centang biru yang menyamar sebagai perusahaan farmasi Eli Lilly, men-tweet pada hari Kamis bahwa perusahaan farmasi itu akan memberikan insulin gratis kepada pelanggannya. Saham Eli Lilly langsung jatuh lebih dari 5 persen pada perdagangan pagi hari Jumat dan masih turun lebih dari 4 persen pada penutupan.

Akun Ely Lili palsu mengumumkan insulin akan dibagikan gratis

(Akun Ely Lili palsu mengumumkan insulin akan dibagikan gratis/Twitter(

Akun Twitter @EliLillyandCo itu memposting, “ Kami sangat senang mengumumkan insulin gratis sekarang.” Pada saat itu, akun tersebut memiliki salah satu tanda centang biru di sebelah namanya yang menunjukkan bahwa Twitter telah memverifikasi keasliannya sebagai Eli Lilly and Company yang asli.

Menurut Forbes, membagikan insulin gratis mungkin terdengar seperti berita bagus bagi lebih dari tujuh juta orang di AS yang menggunakan insulin secara teratur setiap hari untuk penyakit diabetes. Lagi pula, gratis adalah harga yang sangat bagus untuk obat insulin yang harganya melonjak selama dekade terakhir hingga lebih dari U$ 1.000 atau Rp 15,6 juta per bulan untuk beberapa orang yang tidak memiliki asuransi kesehatan.

Yah, semuanya tidak benar-benar selesai pada akhirnya. Ternyata @EliLillyandCo sebenarnya adalah akun Eli Lilly palsu. Akun Twitter Eli Lilly and Company yang asli, @LillyPad, mencoba untuk menjernihkan suasana hari itu karena perusahaan farmasi tidak akan memberikan produknya secara gratis:

Akun Ely Lili palsu (atas) dan yang asli (bawah)

(Akun Ely Lili palsu (atas) dan yang asli (bawah)/Twitter)

Kebetulan, sehari setelah akun palsu Eli Lilly mengeluarkan tweet insulin palsu mereka, harga saham Eli Lilly turun 4,37% atau U$ 16,08 menjadi U$ 352,30 seperti yang ditunjukkan oleh aktivis kreatif dan politik bertanda centang biru Rafael Shimunov:

Untuk menindak peniru, Twitter mengatakan akun palsu itu tidak akan dapat berlangganan Twitter Blue. Perusahaan juga secara singkat memblokir pengguna dari mengubah nama tampilan mereka di platform pada hari Rabu. Beberapa pengguna yang telah mengubah nama mereka untuk membuat lelucon menemukan bahwa mereka tidak dapat mengubah nama mereka kembali.

Log Twitter internal yang dilihat oleh The New York Times menunjukkan bahwa lebih dari 140.000 akun telah mendaftar untuk Twitter Blue baru pada hari Kamis.

Pada hari Jumat, agen publikasi teater Playbill juga mengatakan akan berhenti memposting ke akun Twitter-nya, yang memiliki 412.000 pengikut. Dikatakan mereka akan memfokuskan upaya media sosialnya di Facebook, Instagram, dan TikTok.

“ Dalam beberapa minggu terakhir, Twitter telah memperluas toleransinya terhadap kebencian, hal negatif, dan informasi yang salah,” Phil Birsh, CEO Playbill, dan Alex Birsh, kepala operasinya, mengatakan dalam sebuah pernyataan. “ Sebagai outlet berita yang disegani untuk komunitas Broadway, kami merasa kami tidak dapat lagi terus menggunakan platform di mana batas antara berita aktual dan retorika berbahaya menjadi kabur tanpa bisa dikenali.”

***

Akun Twitter palsu memang telah meledak di seluruh platform Twitter setelah pemilik baru Elon Musk memperkenalkan akun centang biru berbayar.

Banjir akun peniru, termasuk profil palsu untuk mantan Presiden Amerika Serikat George W Bush dan bintang NBA LeBron James, mengikuti keputusan Musk untuk menawarkan tanda centang biru  kepada pengguna mana pun untuk berlangganan bulanan U$ 8 per bulan.

Tak lama setelah Twitter meluncurkan layanan berlangganan pada hari Rabu 9 November 2022, akun centang biru yang berpura-pura menjadi Bush men-tweet " Saya rindu membunuh orang Irak" disertai dengan emoji wajah sedih.

(Akun plasu George Bush menyatakan rindu membunuh orang IrakAkun plasu George Bush menyatakan rindu membunuh orang Irak

(Akun plasu George Bush menyatakan rindu membunuh orang Irak/Twitter)

Sebuah akun yang meniru mantan Perdana Menteri Inggris Tony Blair me-retweet postingan tersebut, menambahkan: " Sama."

Akun Tony Blair palsu menggapi postingan akun Geroge Bush palsu

(Akun Tony Blair palsu menggapi postingan akun Geroge Bush palsu/Twitter)

Akun palsu juga meniru tokoh olahraga terkemuka termasuk pemain depan Los Angeles Lakers LeBron James, dengan profil palsunya mengumumkan bahwa dia telah meminta Lakers untuk pindah ke tim lain.

Akun plasu LeBron James, pemain LA Lakers yang menyatakan dia ingin pindah dari Lakers

(Akun plasu LeBron James, pemain LA Lakers yang menyatakan dia ingin pindah dari Lakers/Twitter)

Profil palsu juga bermunculan dari mantan Presiden AS Donald Trump dan raksasa game komputer Jepang Nintendo, yang memposting gambar karakter ikonik Mario yang mengacungkan jari tengahnya ke kamera.

Akun plasu Nintendo, Mario, mengacungkan jari tengah

(Akun plasu Nintendo, Mario, mengacungkan jari tengah/Twitter)

Sementara akun Bush, Blair, Trump, Nintendo dan LeBron James kemudian ditangguhkan, akun penipu lainnya tetap aktif pada hari Jumat, termasuk profil Tesla palsu, yang men-tweet berita " breaking" bahwa " Tesla kedua telah menghantam World Trade Center."

Musk, yang membeli Twitter bulan lalu seharga $44 miliar, menulis di Twitter pada Kamis malam bahwa di masa depan " akun yang terlibat dalam parodi harus menyertakan 'parodi' dalam nama mereka, bukan hanya di bio."

“ Lebih tepatnya, akun melakukan peniruan parodi. Pada dasarnya, menipu orang itu tidak baik,” cuitnya.

Kekacauan Twitter kemungkinan akan menambah kekhawatiran pengiklan tentang masa depan platform media sosial yang berpengaruh di bawah kepemimpinan Musk.

Pengiklan besar termasuk General Motors, Audi dan General Mills telah menangguhkan iklan di Twitter karena mereka menunggu kejelasan tentang perubahan kebijakan moderasi situs.

Pada hari Kamis, Komisi Perdagangan Federal Amerika Serikat mengatakan sedang mengawasi Twitter dengan " keprihatinan yang mendalam" setelah sejumlah eksekutif privasi dan kepatuhan berhenti, menimbulkan pertanyaan tentang kemampuan perusahaan untuk mematuhi perintah peraturan.

Di bawah sistem verifikasi lama Twitter, pengguna dan akun terkenal yang dianggap sebagai kepentingan publik dapat mengajukan tanda centang biru untuk memverifikasi identitas mereka secara gratis.

Musk mengkritik aturan tersebut, yang awalnya diperkenalkan untuk mencegah akun meniru tokoh publik, sebagai " sistem tuan dan budak" dan telah memberikan perubahan besar yang telah dia lakukan sebagai cara untuk mendemokratisasikan platform Twitter.

Setelah marak akun palsu, akun centang biru berbayar itu pun ditunda Musk sampai waktu yang belum ditentukan.  Terakhir dia mengatakan akan mengaktifkan kembali tanggal 28 November 2022.

Sebelumnya, Elon Musk mengungkapkan bahwa Twitter bisa saja bangkrut tahun 2023 mendatang. Menurut sumber yang dekat dengan hal ini, Elon Musk mengatakan hal tersebut pada pertemuan perdana dengan karyawan Twitter pasca-akuisisi.  

Kantor pusat Twitter

(Kantor pusat Twitter/Guardian)

Musk mengatakan bahwa bila dihitung-hitung, Twitter bakal memiliki arus kas negatif tahun depan. Artinya, perusahaan memiliki lebih banyak uang yang dibelanjakan ketimbang uang yang didapatkan.

Melihat kondisi itu, Musk mengatakan bahwa " kebangkrutan bukan hal yang tidak mungkin, jika Twitter tidak bisa menghasilkan lebih banyak uang daripada uang yang dibelanjakan" .

Seretnya arus kas Twitter tampaknya didorong oleh beberapa faktor. Salah satunya, faktor sejumlah pengiklan yang kabur setelah Twitter diambil alih oleh Musk. Kondisi ini membuat Twitter merugi sekitar U$ 4 juta atau Rp 62,4 miliar setiap harinya.

Makanya, Elon Musk mengambil langkah pemutusan hubungan kerja  terhadap sekitar 3.700 karyawan Twitter. Angka ini mencerminkan hampir 50 persen dari total 7.500 karyawan Twitter secara global.

Tak hanya pengiklan, utang juga jadi persoalan. Menurut Forbes, saat ini Twitter dilaporkan memiliki utang sebesar U$ 18,5 miliar atau Rp 288 triliun.

Dari angka itu, U$ 13 miliar atau Rp 202 triliun merupakan utang pinjaman yang diambil Musk untuk mendanai akuisisi Twitter senilai U$ 44 miliar atau Rp 683 triliun.

Kini, setelah pembelian Twitter, Elon Musk membebani Twitter dengan pembayaran bunga sebesar U$ 1,2 miliar dollar AS atau Rp 18,7 triliun dalam 12 bulan ke depan.

Meme kematian Twitter di bawah Elon Musk

(Meme kematian Twitter di bawah Elon Musk/Twitter)

Pembayar bunga itu melebihi arus kas yang dimiliki Twitter, yang baru-baru ini diungkapkan berjumlah U$ 1,1 miliar dollar AS atau Rp 17,1 triliun pada akhir Juni 2022.

Tak heran, bila Musk mengungkit soal potensi kebangkrutan. Makanya, Elon Musk kini tengah memutar otak untuk mendatangkan lebih banyak uang ke kantong perusahaan. Salah satunya adalah dengan menjual centang biru seharga U$ 8 atau Rp 124 ribu per bulannya.

Namun, akun centang biru juga kini bermasalah. Setelah ditinggal pemasang iklan, digugat class action oleh ribuan mantan karyawan, kini cara Musk memonetisasi akun centang biru juga bermasalah dengan maraknya akun centang biru palsu. Tak heran tagar #RIPTwitter sempat jadi tren di seluruh dunia pekan lalu. Agaknya, kisruh Twitter dan Elon Musk belum akan berakhir dalam waktu dekat. (eha)

Sumber: BBC, The New York Times, The Washington Post, Forbes, Fortune, Al. Jazeera, Bloomberg,

Beri Komentar