Seberapa Dalam Lautan Bumi? Titik Terdalamnya Bisa Menenggelamkan Gunung Everest
3 Tanda Tubuh Cukup Serat Tanpa Harus Menghitung Setiap Gram
Kenapa Orang Tua Selalu Bilang Anak Zaman Sekarang Makin Buruk? Ini Kata Penelitian
Burnout Orang Tua Bisa Memicu Pengasuhan yang Keras, Kenali Tanda-Tandanya Sejak Dini
Tandyo Budi Revita: Petarung dari Pajang di Pucuk TNI AD
Bisa Nggak Wahyu Ningsih Jadi CEO Microsoft?
5 Makanan Olahan yang Bisa Dikonsumsi Setiap Minggu untuk Membantu Menjaga Kolesterol
Megalodon Pernah Jadi Raja Lautan, Mengapa Predator Raksasa Ini Akhirnya Punah?
Dokter Mangku Sitepu, Mengabdi 24 Tahun Mengobati Kaum Tidak Mampu Di Jakarta (Merdeka.com)
Dream - Kesehatan bagi sebagian masyarakat Jakarta masih tergolong barang mewah. Ketika sakit, mereka harus pasrah dengan layanan pengobatan seadanya.
Apalagi untuk kaum miskin Ibu Kota. Mengakses fasilitas kesehatan menjadi semacam masalah besar yang hampir tak mampu mereka raih.
Di tengah kondisi demikian, Klinik Pratama Bhakti Sosial Kesehatan Tarsisius hadir untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Ibu Kota terkait kesehatan, utamanya untuk kaum miskin. Klinik berlokasi di Jalan Kebayoran Lama, Jakarta Selatan memberikan pelayanan kesehatan berbiaya murah untuk masyarakat tidak mampu.
Adalah Mangku Sitepu, dokter yang menggagas berdirinya klinik tersebut. Dia sudah 24 tahun mengabdi dan melayani masyarakat di klinik tersebut tanpa meminta imbalan.
Mangku berkisah, klinik tersebut berdiri berawal dari kegiatan bakti sosial yang dia jalankan bersama keempat rekannya, Mereka adalah Iwan Darmansyah, farmakolog lulusan Universitas Indonesia, Pastur Bertens yang merupakan Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Atmajaya Jakarta, Gunawan yang seorang pengusaha asal Semarang, dan Wijanarko yang pernah menjadi Staf Pribadi Presiden Soekarno.
Mereka berlima menggelar bakti sosial berupa pengobatan gratis. Setiap kegiatan selesai dijalankan, mereka mengadakan evaluasi.
Dalam evaluasi tersebut, Mangku mengingat salah satu rekannya yaitu Iwan Darmansyah punya pandangan dampak bakti sosial baru akan terasa jika dilakukan secara berkesinambungan. Sementara apa yang sudah mereka lakukan dinilai tidak seperti yang diharapkan Iwan.
" Kalau berobat gratis sekadar kasih obat, bagaimana seterusnya orang yang sakit saat kita tidak lakukan kegiatan?" kata Mangku mengenang perkataan Iwan.
Kebetulan, kelima orang ini merupakan jemaat dari satu tempat ibadat yang sama. Keinginan mereka untuk melanjutkan kegiatan akhirnya difasilitasi dengan bangunan di Kebayoran Baru yang kemudian dijadikan klinik pada September 1995.
Saat-saat awal beroperasi, klinik tidak menetapkan tarif layanan. Semua kebutuhan mulai dari obat-obatan, kursi, meja, dibeli dengan uang pribadi serta dari dana donasi.
Beruntung, salah satu penggagas klinik itu, Gunawan, punya cukup banyak uang. Apalagi, dia merupakan seorang pengusaha obat-obatan yang kemudian memasok klinik itu.
" Saya pernah belajar di Denmark. Di sana, kalau obat 6 bulan jelang expired date, itu diberikan ke mereka yang tidak mampu. Saya ceritakan ini ke dia, dan dia mau partisipasi. Karena sesungguhnya setiap individu yang sehat pasti punya hasrat alturism," kata Mangku.
Mangku ingat betul saat itu ada ratusan pasien yang datang untuk berobat. Hal itu membuat Mangku dan seluruh rekannya kewalahan. Meski begitu, rasa lelah segera mereka hapus dengan kembali mengingat tujuan berdirinya klinik tersebut.
Klinik tersebut kemudian menetapkan tarif berobat sebesar Rp2.500. Penyebabnya, muncul kabar ada beberapa pasien nakal yang menjual kembali obat yang didapat dari klinik.
Tarif tersebut bertahan hingga 2003 atau selama delapan tahun. " Uang Rp2.500 itu sama sekali bukan untuk kami," kata Mangku.
Tahun demi tahun berlalu, jumlah pasien mengalami penurunan. Terlebih setelah BPJS Kesehatan diberlakukan secara nasional.
" Rata-rata tinggal 75 pasien per praktik," kata Mangku.
Faktor lain yang turut mengurangi jumlah pasien adalah besaran tarif. Sejak 2003 hingga 2015, klinik menetapkan kebijakan kenaikan tarif berobat dari Rp2.500 menjadi Rp10 ribu.
Mangku mengatakan jika pasien tidak sanggup membayar tarif, hal itu bukanlah masalah. Mereka akan tetap dilayani karena para dokter, perawat dan manajemen klinik tidak diupah dari tarif tersebut.
Mangku mengaku dia bersama kawan-kawannya memang tidak mengambil keuntungan dari klinik tersebut. Semua berjalan hanya berdasar jiwa sosial dan semangat altruism.
Lagipula, mereka memiliki kondisi finansial cukup lantaran punya pendapatan dari luar klinik. Toh, mereka juga tidak setiap hari berpraktik di klinik itu.
Lebih lanjut, Mangku menyatakan tak akan pensiun dari klinik itu demi membantu masyarakat tidak mampu. Semangat itu juga tidak berubah meski kini hanya dia dan Pastur Bertens yang masih ada, sementara tiga lainnya telah meninggal dunia.
(Sah, Sumber: Merdeka.com/Yunita Amalia)
Advertisement

Diagnosis ADHD dan Autisme Meningkat Tajam, Studi Besar Ungkap Perubahan Siapa yang Terdiagnosis

Kuku Tiba-Tiba Memerah? Perubahan Kecil Ini Bisa Jadi Tanda Penyakit Tersembunyi

Orang Tua Baru Rentan Burnout, Riset Menunjukkan Kerja Sama Pasangan Bisa Jadi Penangkalnya

Megalodon Pernah Jadi Raja Lautan, Mengapa Predator Raksasa Ini Akhirnya Punah?

Seberapa Dalam Lautan Bumi? Titik Terdalamnya Bisa Menenggelamkan Gunung Everest

3 Tanda Tubuh Cukup Serat Tanpa Harus Menghitung Setiap Gram

Kenapa Orang Tua Selalu Bilang Anak Zaman Sekarang Makin Buruk? Ini Kata Penelitian