Huawei Gandeng LinkAja, Pembayaran QRIS Bisa Lewat Smartwatch HUAWEI WATCH GT 7 Series
Gandeng Bilal Indrajaya, Lyodra Beri Pesan Tak Menyerah pada Album Terkunci Di Kamu
7 Jenis Tanaman yang Bisa Mengundang Ular ke Halaman Rumah, Bukan karena Baunya
Kenapa Tikus Suka Bersarang di Mesin Mobil, dan Cara Mengusirnya untuk Selamanya
Dua Seniman Indonesia Raih Grand Prize MR.D.I.Y. Regional Art Competition 2026
3 Suplemen yang Diam-Diam Bisa Mengganggu Tidur, Salah Satunya Sering Dikonsumsi
MK Sudah Putus, Drama Ijazah Gibran Belum Tamat
Kasus Ijazah Gibran, Sudah Selesai atau Belum?
© Gunarta, CC BY-SA 4.0 Via Wikimedia Commons
DREAM.CO.ID - Sekilas, motif Mega Mendung pada batik Cirebon tampak seperti kumpulan awan yang disusun berlapis-lapis. Garisnya melengkung, bertingkat, dan pada bagian tertentu membentuk ujung yang meruncing. Jika diperhatikan lebih jauh, bentuk tersebut mengingatkan pada ornamen awan yang banyak ditemukan dalam seni tradisional China. Kemiripan itu bukan tanpa alasan. Sejumlah kajian sejarah seni menyebut Mega Mendung sebagai salah satu contoh akulturasi budaya China dan Cirebon.
Dilansir dari penelitian Irwan Maolana Yusup, gagasan visual Mega Mendung diduga diadopsi dari keramik China atau benda-benda seni yang dibawa dari China ke Cirebon. Benda-benda tersebut kemudian dipadukan dengan kebudayaan lokal sehingga menghasilkan bentuk baru yang memiliki karakter khas Cirebon.
Cirebon pada masa lalu merupakan wilayah pesisir yang terbuka terhadap pertemuan berbagai kebudayaan. Hubungan dengan masyarakat China berlangsung melalui perdagangan dan interaksi sosial. Dalam berbagai kajian mengenai sejarah Mega Mendung, pengaruh tersebut juga dikaitkan dengan kisah Sunan Gunung Jati dan Ratu Ong Tien, putri China yang disebut menikah dengan tokoh penting Cirebon tersebut pada abad ke-16.
Kisah tersebut menjadi salah satu bagian penting dalam penjelasan mengenai masuknya berbagai benda seni China ke lingkungan keraton Cirebon. Keramik, porselen, dan kain sutra dengan beragam ornamen menjadi sumber inspirasi bagi seniman setempat. Penelitian Yusup menyebut benda-benda yang dibawa dari China tersebut kemudian dipadukan dengan budaya Cirebon dan menghasilkan perpaduan visual yang terlihat pada sejumlah motif, termasuk Mega Mendung.
Awan merupakan salah satu ragam hias yang telah lama digunakan dalam seni China. Penelitian Yayah Rukiah menjelaskan bahwa ornamen awan yang dikenal dalam seni China kemudian masuk ke Nusantara dan mengalami perubahan bentuk. Dalam proses tersebut, garis-garis yang menjadi unsur pembentuk awan diolah menjadi bentuk dekoratif yang lebih sesuai dengan karakter seni setempat.
Jejak pengaruh tersebut juga terlihat dari perbedaan bentuk awan China dan Mega Mendung. Sejumlah kajian menyebut bentuk awan dalam tradisi seni China cenderung menggunakan garis melingkar atau membulat. Sementara itu, Mega Mendung Cirebon berkembang dengan garis yang lebih memanjang, bergelombang, dan memiliki ujung lancip. Dengan kata lain, seniman Cirebon tidak sekadar menyalin ornamen yang datang dari luar, tetapi mengolahnya menjadi bentuk baru.
Proses perubahan inilah yang membuat Mega Mendung lebih tepat dipahami sebagai hasil akulturasi daripada sekadar motif China yang dipindahkan ke Indonesia. Penelitian Yusup menggunakan pendekatan ikonografi untuk menunjukkan bahwa bentuk asli dari sumber budaya dapat mengalami stilisasi, yakni perubahan menjadi bentuk dekoratif baru tanpa sepenuhnya menghilangkan ciri sumbernya. Dalam kasus Mega Mendung, unsur China bertemu dengan kebudayaan Cirebon dan menghasilkan identitas visual tersendiri.
Makna simboliknya juga ikut berkembang. Dalam kajian mengenai pengaruh budaya China, simbol awan dikaitkan dengan gagasan tentang dunia atas dan keberkahan dalam pemikiran Tao. Ketika masuk ke lingkungan budaya Cirebon, makna tersebut tidak diterima begitu saja, tetapi mengalami penyesuaian dengan konteks budaya lokal. Kajian tentang Mega Mendung dalam Jurnal Teknologi juga mencatat bahwa motif tersebut mengalami perubahan bentuk ketika diterapkan dalam kebudayaan Cirebon.
Karena itu, kemiripan Mega Mendung dengan ornamen awan China justru memperlihatkan bagaimana sebuah bentuk seni dapat berpindah melalui hubungan antarmasyarakat, lalu berubah ketika bertemu dengan lingkungan budaya baru. Awan yang menjadi ragam hias dalam seni China kemudian diolah oleh seniman Cirebon menjadi motif dengan garis, bentuk, warna, dan pemaknaan tersendiri. Dari proses panjang itulah Mega Mendung berkembang menjadi salah satu identitas visual paling kuat dari batik Cirebon.
Advertisement
Kasus Ijazah Gibran, Sudah Selesai atau Belum?

Menilik 5 Green Movement Seru di Synchronize Festival

Deal Lepas 10,08 Miliar, Low Tuck Kwong Tambah Porsi Lego Saham Bayan Resources ke Jhonlin Baratama

IHSG Dibuka Menguat, Investor Pantau Laporan Cadev RI

MK Tak Temukan Bukti Gibran Punya Ijazah Setara SMA, Tapi Tak Bisa Batalkan Status Wapres


Kenapa Pekerjaan Baru di Usia 30-an Bisa Membuat Kita Merasa Bodoh Lagi?

Setir Mobil Tiba-Tiba Berat Diputar? Ini 4 Penyebab dan Cara Mengeceknya


Pepaya vs Mangga, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah dan Pencernaan?

Huawei Gandeng LinkAja, Pembayaran QRIS Bisa Lewat Smartwatch HUAWEI WATCH GT 7 Series

Gandeng Bilal Indrajaya, Lyodra Beri Pesan Tak Menyerah pada Album Terkunci Di Kamu

7 Jenis Tanaman yang Bisa Mengundang Ular ke Halaman Rumah, Bukan karena Baunya