Huawei Gandeng LinkAja, Pembayaran QRIS Bisa Lewat Smartwatch HUAWEI WATCH GT 7 Series
Gandeng Bilal Indrajaya, Lyodra Beri Pesan Tak Menyerah pada Album Terkunci Di Kamu
7 Jenis Tanaman yang Bisa Mengundang Ular ke Halaman Rumah, Bukan karena Baunya
Kenapa Tikus Suka Bersarang di Mesin Mobil, dan Cara Mengusirnya untuk Selamanya
Dua Seniman Indonesia Raih Grand Prize MR.D.I.Y. Regional Art Competition 2026
3 Suplemen yang Diam-Diam Bisa Mengganggu Tidur, Salah Satunya Sering Dikonsumsi
MK Sudah Putus, Drama Ijazah Gibran Belum Tamat
Kasus Ijazah Gibran, Sudah Selesai atau Belum?
© Pexels.com/Greta Hoffman
DREAM.CO.ID - Bekas gulai, rendang, kari, atau sambal tomat sering meninggalkan jejak di wadah plastik: aroma yang enggan hilang dan noda merah atau kuning yang tetap membandel meski sudah dicuci berkali-kali. Wadah kaca yang menyimpan makanan serupa, sebaliknya, cenderung kembali bersih dan nyaris tak berbau.
Perbedaan ini bukan soal sabun cuci piring yang kurang ampuh, melainkan struktur molekul dari kedua material tersebut. Plastik dan kaca sama-sama tampak padat dan mulus, tetapi susunan molekulnya sangat berbeda, perbedaan inilah yang membuat plastik seolah " mengingat" makanan yang pernah disimpan di dalamnya.
Plastik Bukan Spons Berlubang
Anggapan bahwa plastik menyerap bau karena memiliki lubang-lubang kecil seperti spons ternyata kurang tepat secara ilmiah. Sebagian besar plastik tersusun dari polimer, rantai molekul panjang yang terdiri dari ribuan atom dan saling bertumpuk membentuk material padat. Susunan ini tidak selalu rapat merata, sebagian wilayah tersusun teratur dan rapat, sementara bagian lain lebih longgar dan tidak beraturan. Bagian longgar inilah yang memungkinkan molekul tertentu masuk dan bergerak di antara rantai polimer.
Bau kari yang tertinggal di wadah plastik, dengan kata lain, bukan terjebak dalam lubang, melainkan larut ke dalam material dan berdifusi di antara rantai polimernya.
Prinsip kimia " like dissolves like" , zat dengan sifat serupa lebih mudah bercampur membantu menjelaskan fenomena ini. Plastik seperti polietilena dan polipropilena yang umum dipakai untuk wadah makanan bersifat nonpolar atau " berminyak" . Molekul aroma dari kari, rempah, minyak, dan jeruk juga bersifat nonpolar, sehingga keduanya mudah berinteraksi.
ScienceABC mencontohkan limonena, molekul penghasil aroma khas jeruk, yang lebih mudah berinteraksi dengan lingkungan nonpolar dibanding air, sehingga dapat masuk ke dalam material plastik. Rantai polimer yang terus bergerak menciptakan ruang sementara bagi molekul ini untuk bergerak lebih jauh lewat proses difusi, inilah sebabnya wadah plastik tetap berbau meski sudah dicuci, karena sabun dan air hanya menjangkau permukaan sementara sebagian molekul aroma sudah masuk ke dalam dinding plastik.
Penelitian yang membandingkan wadah kaca, polietilena, dan polikarbonat menemukan bahwa kaca menunjukkan ketahanan paling tinggi terhadap retensi kontaminan dan paling mudah dibersihkan, sementara sejumlah wadah plastik tetap menyimpan senyawa volatil yang memengaruhi makanan berikutnya.
Persoalan yang sama berlaku untuk noda. Likopen, pigmen merah pada tomat, memiliki struktur molekul besar yang mudah berinteraksi dengan lingkungan nonpolar seperti plastik. Ketika saus tomat bersentuhan dengan wadah plastik, sebagian pigmen masuk ke materialnya dan tetap tertinggal setelah dicuci. Kurkumin, pewarna kuning pada kunyit, mengalami proses serupa karena sifatnya yang menyukai lingkungan berminyak.
Tidak semua makanan meninggalkan noda dengan intensitas sama, kopi atau teh, misalnya, memiliki senyawa pewarna dengan sifat berbeda sehingga tidak semudah likopen atau kurkumin meresap ke plastik.
Kaca tersusun dari silika, dengan atom silikon dan oksigen yang membentuk jaringan tiga dimensi kaku, tanpa rantai polimer panjang yang terus bergerak seperti pada plastik. Molekul makanan karena itu jauh lebih sulit menembus material kaca dan cenderung tetap berada di permukaan, sehingga lebih mudah dijangkau air dan sabun saat dicuci. Institute of Food Technologists mencatat kaca dan logam sebagai material dengan interaksi paling rendah terhadap makanan dalam konteks pengemasan.
Persoalan yang Juga Dihadapi Industri Makanan
Fenomena ini bukan sekadar urusan dapur rumahan. Industri pangan mengenal istilah " flavor scalping" , hilangnya aroma atau rasa makanan karena berpindah ke material kemasan. Limonena pada jus jeruk, misalnya, dapat berpindah ke kemasan berbasis polietilena dan mengurangi karakter aroma minuman selama penyimpanan.
Membiarkan wadah terbuka dan terkena udara membantu molekul bau berdifusi keluar secara perlahan, sementara air panas bisa mempercepat prosesnya. Untuk noda, sinar matahari dapat memudarkan warna dengan merusak struktur molekul pigmen, meski pigmennya tidak sepenuhnya keluar dari plastik.
Perbedaan ini tidak berarti seluruh plastik buruk untuk menyimpan makanan, jenis plastik sangat beragam dan diatur keamanannya oleh badan pengawas seperti FDA sesuai tujuan penggunaannya. Jadi, ketika wadah bekas rendang masih berbau beberapa hari kemudian, itu bukan soal kurang rajin mencuci, plastik memang menyimpan jejak molekuler dari makanan yang pernah ada di dalamnya, sementara kaca jauh lebih mudah melepaskannya.
Advertisement
Kasus Ijazah Gibran, Sudah Selesai atau Belum?

Menilik 5 Green Movement Seru di Synchronize Festival

Deal Lepas 10,08 Miliar, Low Tuck Kwong Tambah Porsi Lego Saham Bayan Resources ke Jhonlin Baratama

IHSG Dibuka Menguat, Investor Pantau Laporan Cadev RI

MK Tak Temukan Bukti Gibran Punya Ijazah Setara SMA, Tapi Tak Bisa Batalkan Status Wapres


Kenapa Pekerjaan Baru di Usia 30-an Bisa Membuat Kita Merasa Bodoh Lagi?

Setir Mobil Tiba-Tiba Berat Diputar? Ini 4 Penyebab dan Cara Mengeceknya


Pepaya vs Mangga, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah dan Pencernaan?

Huawei Gandeng LinkAja, Pembayaran QRIS Bisa Lewat Smartwatch HUAWEI WATCH GT 7 Series

Gandeng Bilal Indrajaya, Lyodra Beri Pesan Tak Menyerah pada Album Terkunci Di Kamu

7 Jenis Tanaman yang Bisa Mengundang Ular ke Halaman Rumah, Bukan karena Baunya