Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi
Dream - Perjuangan seorang ibu tak akan ada yang dapat menandinginya. Kisah mengharukan datang dari seorang ibu yang memiliki anak laki-laki. Kepergian sang ayah, membuat ibu harus berjuang demi menghidupi anaknya.
Tibalah hari pertama masuk sekolah. Anak kesayangannya itu kini duduk di sekolah menengah atas. Setiap bulannya, murid-murid diwajibkan membawa satu kantong beras yang akan diberikan pada kantin sekolah.
Penyakit rematik yang dialami sang ibu memaksa berhentinya ibu dari pekerja sebagai buruh tani. Kondisi yang tak lagi memungkinkannya melakukan aktivitas di sawah. Untuk berjalan saja, ibu merasa sangat kesulitan. Melihat kondisi ibu, anaknya merasa sangat tak tega hingga ia memutuskan untuk berhenti sekolah. Namun keputusannya itu ditolak dan membuat sang ibu marah besar.
Oleh si ibu, dibawanya satu kantong beras ke sekolah. Pengawas di sekolah yang bertugas menyalurkan beras menolak beras pemberian ibu. " Kami tidak bisa menerima beras ini, bu" , kata pengawas. " Tolonglah terima beras ini" , ucap ibu sambil memohon.
Bukan hanya sekali, ibu mendapat penolakan saat memberikan beras. Hingga bulan ketiga beras itu masih ditolak. Alasannya beras itu beras campuran. Akhirnya ibu menceritakan mengapa beras yang ia berikan tidak sama jenisnya. Pengakuan ibu membuat pengawas meneteskan butiran air mata.
" Maaf, saya mendapatkan beras ini saat mengemis di kampung sebelah, dibantu tongkat penyanggah ini saya menelusuri kampung sebelah. Hal itu yang membuat mengapa beras yang saya berikan tak sama jenisnya" , ungkapnya.
Pengakuan ibu akan perjuangannya memberikan sumbangan beras. Membuat kepala sekolah memberikan sebuah beasiswa bagi anak laki-lakinya hingga lulus dan berhasil masuk perguruan tinggi Qing Hua dengan nilai 627 point.
Perjuangan ibu demi membahagiakan anak laki-lakinya mendapat apresiasi yang luar biasa. Ingatlah! kasih ibu sepanjang masa, sepanjang jaman dan sepanjang kenangan.
Penasaran dengan kisah perjuangan ibu yang mengemis beras? Yuk simak kisahnya di sini http://bit.ly/YVuHcW
Kirimkan kisah nyata inspiratif disekitamu atau yang kamu temui, ke komunitas@dream.co.id, dengan syarat dan ketentuan sebagai berikut:
1. Lampirkan satu paragraf dari konten blog/website yang ingin dipublish
2. Sertakan link blog atau sosmed
3. Foto dengan ukuran high-res
Ayo berbagi traffic di sini!
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya