MUI: Prokes di Tempat Ibadah Bukan Sekadar Aturan, Tapi Panggilan Keagamaan

Reporter : Ahmad Baiquni
Jumat, 29 Oktober 2021 18:00
MUI: Prokes di Tempat Ibadah Bukan Sekadar Aturan, Tapi Panggilan Keagamaan
Prokes di tempat ibadah dilandasi kesadaran dan ketaatan pada ajaran agama.

Dream - Ketua Bidang Fatwa Majelis Ulama Indonesia, KH Asrorun Niam Sholeh, menyatakan, kondisi pandemi saat ini telah melandai. Masyarakat sudah dibolehkan melakukan kegiatan keagamaan di tempat ibadah namun dengan protokol kesehatan yang ketat.

Niam menyatakan prokes bagi umat beragama tidak bisa dipandang sekadar aturan. Lebih dari itu, merupakan panggilan keagamaan bagi setiap orang untuk menjaga diri dan saudaranya agar tidak tertular Covid-19.

" Kalau dalam perspektif Islam, ketika ada orang melaksanakan sholat tetapi menyebabkan orang lain terpapar atau menyebabkan orang lain khawatir (terpapar) itu saja sudah tidak diperkenankan. Di situlah panggilan keagamaan," ujar Niam dalam webinar disiarkan kanal FMB9ID.

Niam menegaskan prokes dalam menjalankan aktivitas ibadah bukan sekadar tanggung jawab sebagai warga negara menjalankan aturan Pemerintah.

" Itu adalah panggilan keagamaan atas dasar kesadaran dan ketaatan," kata dia.

 

1 dari 6 halaman

Ritual Keagamaan Bukan Pemicu Klaster Covid-19

Niam juga menyinggung sebenarnya aktivitas keagamaan skala besar seperti Hari Raya tidak memicu munculnya klaster Covid-19. Karena umumnya ritual keagamaan menyeimbangkan tanggung jawab praktik keagamaan dengan tanggung jawab menjaga keselamatan jiwa.

" Bukan Hari Raya sebenarnya yang menjadi faktor klaster Covid, melainkan sesi berliburnya, rekreasi kemuadian keluar ke ruang-ruang publik," kata dia.

Menurut dia, aktivitas keagamaan seperti Sholat Jumat, Idul Fitri, Idul Adha, ataupun ke gereja rata-rata berjalan dengan prokes yang ketat. Masyarakat sudah sangat memahami hal ini sehingga penyebaran bisa dikendalikan.

" Yang tidak terkontrol itu mereka yang rekreasi," kata dia.

Lebih lanjut, Niam mengatakan prokes harus menjadi normalitas baru dalam kegiatan keagamaan di tengah menurunnya Covid-19. Dia pun mengingatkan agar masyarakat terus menjalankan kebiasaan bersih meski nantinya pandemi sudah berlalu.

" Jangan sampai kemudian nanti pada saat pandemi Covid-19 berlalu komitmen menjaga kebersihan hilang, jadi jorok, atau tidak mencuci tangan," ucap dia.

2 dari 6 halaman

MUI: Jika Covid-19 Melandai, Wajib Rapatkan Saf Sholat

Dream - Pandemi membuat manusia harus beradaptasi di semua lini kehidupan, termasuk dalam menjalankan ibadah. Misalnya, saf sholat yang diberi jarak untuk mencegah penularan Covid-19.

Meski demikian, Wakil Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI), Anwar Abbas, menyebut saf sholat harus kembali dirapatkan bila di suatu wilayah kasus positif Covid-19 sudah melandai atau bahkan tidak ada sama sekali.

" Seandainya menurut para ahli di daerah tersebut memang Covidnya sudah melandai dan bahkan sudah tidak ada, ya wajiblah kita untuk merapatkan saf," ujar Anwar dalam webinar yang disiarkan TVMUI.

Namun demikian, ketentuan ini harus dijalankan dengan mengikuti petunjuk para ahli dan pemerintah. Jika belum ada instruksi yang menyatakan daerah aman, maka penerapan saf rapat lebih baik ditunda.

" Kalau para ahli masih ragu dan pemerintah masih ragu, belum aman, ya jangan dulu," kata dia.

3 dari 6 halaman

Menjaga Diri Bagian dari Ajaran Islam

Menurut Anwar, Islam mengajarkan umatnya menjaga diri dari bahaya. Dalam konteks saat ini, Covid-19 bersifat bahaya karena dapat memicu kematian.

Karena itu, seorang Muslim wajib mencegah dirinya dari potensi tertular Covid-19. Caranya dengan tetap menjalankan protokol kesehatan secara ketat.

" Jadi tetap jaga jarak, sepanjang pengetahuan saya, menjaga diri," ungkap dia.

4 dari 6 halaman

Endemi Covid-19 Bisa Terjadi Januari 2022 Jika Mulus Lewati Libur Tahun Baru

Dream – Koordinator PPKM Darurat untuk Jawa-Bali, Luhut B Panjaitan optimistis Indonesia bisa mencapai kondisi endemik Covid-19 pada Januari 2022 mendatang. Namun keyakinan itu sangat bergantung pada upaya penanganan libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2022.   

Sebelumnya Luhut juga mengimbau masyarakat tetap patuh pada protokol kesehatan meski data Satgas Penanganan Covid-19 menunjukkan penurunan kasus Covid-19 periode 5-17 Oktober 2021. Kewaspadaan ini dibutuhkan karena kemungkinan munculnya gelombang ketiga pandemi Covid-19.

Menurut Luhut, status pandemi menjadi endemi itu diperoleh dari paparan sejumlah para ahli. Indonesia bisa mencapai tahap tersebut jika mampu melewati momen llibur Nataru dengan baik.

" Kalau kita bisa melampaui Nataru ini dengan baik pada Januari, saya pikir sudah masuk pada endemi," ujar Luhut dalam keterangan pers, Senin 18 Oktober 2021.

5 dari 6 halaman

Lewati Nataru dengan Tepat

Sementara itu, Presiden Joko Widodo telah meminta para menterinya untuk melakukan mitigasi apabila terjadi gelombang ketiga akibat Libur Nataru. Upaya tersebut diperlukan karena lonjakan kasus Covid-19 bisa terjadi jika mobilitas masyarakat meningkat saat Nataru.

Presiden juga mengingatkan potensi penularan masih bisa terjadi karena efek imunitas pasca vaksinasi sebagian besar sudah mulai menurun.

" Kami akan melakukan beberapa kali rapat untuk persiapan itu. Terutama, mendorong penggunaan Peduli Lindungi," terang Luhut yang juga menjabat Ketua Tim Gerakan Nasional Bangga Buatan Indonesia (BBI) itu.

Diakui Luhut banyak masyarakat yang sudah mulai lelah menghadapi masa-masa pembatasan selama pandemi Covid-19. Namun dengan perkembangan yang ada, Luhut masih yakin Indonesia akan segera bisa keluar dari pandemi Covid-19.

6 dari 6 halaman

Penjajakan Obat Covid-19 Alternatif

Lebih lanjut, Menko Kemaritiman dan Investasi itu juga mengungkapkan pemerintah saat sedang melaksanakan penjajakan beberapa alternatif obat Covid-19.

Diketahui, Menko Marves Luhut dan Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin sedang berada di Amerika Serikat untuk melakukan pertemuan dengan Merck mengenai obat Molnupiravir.

Tidak hanya Molnupiravir dari Merck, Luhut juga menyebut saat ini terdapat obat Proxalutamide yang sedang dalam tahap uji klinis ketiga di Indonesia dan sedang berproses di Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Alternatif obat lain yakni, AT-527 yang dikembangkan oleh Roche and Athea.

" Ketiga obat tersebut menunjukkan potensi untuk menjadi obat Covid-19," jelas Koordinator PPKM Jawa-Bali tersebut.

Beri Komentar