Kenalan dengan 'Neon Moon II', Kapal Sampah dari Coldplay di Cisadane
Suara-Suara di DPR Soal Ijazah Gibran
Huawei Gandeng LinkAja, Pembayaran QRIS Bisa Lewat Smartwatch HUAWEI WATCH GT 7 Series
Gandeng Bilal Indrajaya, Lyodra Beri Pesan Tak Menyerah pada Album Terkunci Di Kamu
7 Jenis Tanaman yang Bisa Mengundang Ular ke Halaman Rumah, Bukan karena Baunya
Kenapa Tikus Suka Bersarang di Mesin Mobil, dan Cara Mengusirnya untuk Selamanya
Dua Seniman Indonesia Raih Grand Prize MR.D.I.Y. Regional Art Competition 2026
3 Suplemen yang Diam-Diam Bisa Mengganggu Tidur, Salah Satunya Sering Dikonsumsi
© Pexels.com/Paullo Crvo
DREAM.CO.ID - Selama berabad-abad, kondisi iklim di Samudra Hindia dan Samudra Pasifik tropis bergerak dalam hubungan yang relatif erat. Perubahan di Pasifik biasanya ikut memengaruhi kondisi di Samudra Hindia, membentuk pola hujan, suhu, dan sirkulasi atmosfer di kawasan tropis. Namun, hubungan yang telah berlangsung setidaknya selama 400 tahun itu kini menunjukkan perubahan yang tidak biasa.
Penelitian baru dari Woods Hole Oceanographic Institution (WHOI) menemukan bahwa hubungan iklim antara kedua samudra dapat terganggu oleh letusan gunung berapi besar. Namun, perubahan yang terjadi pada era modern tampak jauh lebih tidak biasa. Para peneliti menemukan indikasi bahwa pemanasan global dan emisi manusia kini mulai mengubah hubungan alami antara Samudra Pasifik dan Samudra Hindia.
Studi yang diterbitkan dalam jurnal Nature Communications tersebut menggabungkan catatan iklim masa lalu dengan simulasi model iklim. Para peneliti menggunakan arsip iklim alami berupa karang, lingkaran tahun pohon, dan stalagmit untuk merekonstruksi kondisi iklim di kedua samudra hingga awal 1600-an.
Langkah ini penting karena catatan instrumental yang digunakan para ilmuwan untuk mengamati iklim modern baru mencakup waktu kurang dari satu abad. Rentang tersebut terlalu pendek untuk memastikan apakah perubahan hubungan antara kedua samudra saat ini benar-benar tidak biasa atau sekadar bagian dari siklus alami yang lebih panjang.
Rekonstruksi iklim menunjukkan bahwa Samudra Hindia dan Pasifik tetap memiliki hubungan yang cukup kuat selama sebagian besar dari empat abad terakhir. Salah satu periode yang paling menonjol terjadi antara 1810 dan 1850.
Pada periode tersebut, hubungan antara kedua wilayah samudra melemah secara signifikan. Para peneliti mengaitkannya dengan serangkaian letusan gunung berapi tropis berukuran besar yang tampaknya mengurangi pengaruh normal Samudra Pasifik terhadap kondisi iklim di Samudra Hindia.
Simulasi komputer yang mencakup periode 1.000 tahun juga mendukung temuan tersebut. Besarnya gangguan terhadap hubungan kedua samudra bergantung pada ukuran letusan gunung berapi serta kondisi iklim yang menjadi latar belakang ketika letusan terjadi.
Namun, gangguan akibat aktivitas vulkanik tersebut tampaknya bersifat sementara. Perubahan yang terjadi pada masa kini menunjukkan karakter berbeda.
Sejak dekade 1980-an, para ilmuwan telah mengamati bahwa hubungan antara Samudra Pasifik dan Samudra Hindia melemah. Samudra Hindia semakin sering menunjukkan perilaku yang tidak sesuai dengan apa yang biasanya diperkirakan berdasarkan kondisi di Pasifik.
Dengan menggabungkan data modern, rekonstruksi iklim masa lalu, dan model iklim, para peneliti kini memiliki dasar yang lebih kuat untuk menilai perubahan tersebut. Hasilnya menunjukkan bahwa kondisi modern tergolong “ luar biasa” dibandingkan variasi yang terlihat dalam catatan beberapa abad sebelumnya.
Menurut Caroline Ummenhofer, ilmuwan senior di WHOI sekaligus salah satu penulis penelitian, pemanasan global dan emisi manusia kini mengalahkan pengaruh alami Pasifik terhadap Samudra Hindia.
Temuan ini penting karena Samudra Hindia merupakan penyimpan panas yang sangat besar. Ketika perilakunya semakin tidak bergantung pada perubahan di Pasifik, pola iklim di kawasan tersebut dapat menjadi lebih sulit diprediksi berdasarkan hubungan historis antara kedua samudra.
Hubungan antarsamudra selama ini membantu ilmuwan memahami dan memperkirakan perubahan pola hujan, suhu, serta sirkulasi atmosfer dalam skala luas. Jika hubungan tersebut berubah, prediksi yang dibangun berdasarkan pola masa lalu berpotensi menjadi kurang akurat.
Delia Oppo, peneliti emeritus WHOI yang turut terlibat dalam penelitian, mengatakan hasil tersebut menunjukkan pentingnya memahami perilaku Samudra Hindia secara lebih mandiri, bukan hanya sebagai wilayah yang merespons perubahan di Pasifik.
Penelitian ini sekaligus memperlihatkan bahwa perubahan iklim tidak hanya berarti kenaikan suhu rata-rata bumi. Pemanasan akibat aktivitas manusia juga dapat mengubah hubungan antarwilayah dalam sistem iklim yang selama berabad-abad dianggap relatif stabil.
Jika sebelumnya letusan gunung berapi besar dapat mengganggu hubungan Samudra Hindia dan Pasifik untuk sementara waktu, kini pemanasan global tampaknya mendorong perubahan yang lebih mendasar. Bagi ilmuwan iklim, perubahan tersebut menjadi alasan penting untuk tidak hanya mempelajari setiap samudra secara terpisah, tetapi juga memahami bagaimana hubungan di antara keduanya berubah ketika bumi terus menghangat.
Advertisement
Kenalan dengan 'Neon Moon II', Kapal Sampah dari Coldplay di Cisadane

Kasus Ijazah Gibran, Sudah Selesai atau Belum?

Menilik 5 Green Movement Seru di Synchronize Festival

Deal Lepas 10,08 Miliar, Low Tuck Kwong Tambah Porsi Lego Saham Bayan Resources ke Jhonlin Baratama

IHSG Dibuka Menguat, Investor Pantau Laporan Cadev RI


Kenapa Pekerjaan Baru di Usia 30-an Bisa Membuat Kita Merasa Bodoh Lagi?

Setir Mobil Tiba-Tiba Berat Diputar? Ini 4 Penyebab dan Cara Mengeceknya


Pepaya vs Mangga, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah dan Pencernaan?

Kenalan dengan 'Neon Moon II', Kapal Sampah dari Coldplay di Cisadane


Huawei Gandeng LinkAja, Pembayaran QRIS Bisa Lewat Smartwatch HUAWEI WATCH GT 7 Series