Rontok 1,88%, IHSG Terkulai Lemas ke Level 6.031,28
Kenalan dengan 'Neon Moon II', Kapal Sampah dari Coldplay di Cisadane
Suara-Suara di DPR Soal Ijazah Gibran
Huawei Gandeng LinkAja, Pembayaran QRIS Bisa Lewat Smartwatch HUAWEI WATCH GT 7 Series
Gandeng Bilal Indrajaya, Lyodra Beri Pesan Tak Menyerah pada Album Terkunci Di Kamu
7 Jenis Tanaman yang Bisa Mengundang Ular ke Halaman Rumah, Bukan karena Baunya
Kenapa Tikus Suka Bersarang di Mesin Mobil, dan Cara Mengusirnya untuk Selamanya
Dua Seniman Indonesia Raih Grand Prize MR.D.I.Y. Regional Art Competition 2026
© Pexels.com/Mikhail Nilov
DREAM.CO.ID - Seorang anak duduk di depan meja dengan kertas gambar yang penuh coretan. Tangannya berpindah dari pensil ke krayon, lalu berhenti sejenak karena melihat sesuatu di luar jendela. Beberapa menit kemudian, ia kembali menggambar dengan ide yang sama sekali berbeda dari rencana awal. Bagi orang dewasa, perilaku seperti ini mungkin terlihat sebagai sulit berkonsentrasi. Namun, dalam situasi tertentu, kemampuan perhatian yang mudah berpindah justru dapat membantu seseorang menemukan ide dan hubungan yang tidak terpikirkan sebelumnya.
Gagasan inilah yang sedang mendapat perhatian dalam penelitian mengenai attention-deficit/hyperactivity disorder (ADHD) dan kreativitas. Riset dari neuroscientist Constructor University, Dr. Radwa Khalil, menunjukkan adanya kemungkinan hubungan antara pola perhatian yang berkaitan dengan ADHD dan kemampuan menghasilkan gagasan kreatif. Penelitian tersebut diterbitkan dalam jurnal iScience dan membahas bagaimana jaringan otak yang berperan dalam mengatur perhatian juga berhubungan dengan proses berpikir kreatif.
ADHD Tidak Hanya soal Sulit Berkonsentrasi
ADHD selama ini lebih sering dibicarakan melalui berbagai kesulitannya. Orang dengan ADHD dapat mengalami masalah dalam mempertahankan perhatian, mengendalikan impuls, mengatur aktivitas, atau menyelesaikan tugas yang membutuhkan konsentrasi dalam waktu lama. Kondisi tersebut dapat memengaruhi kehidupan sekolah, pekerjaan, maupun hubungan sosial.
Namun, Khalil mengajak peneliti melihat ADHD dari sudut yang lebih luas. Salah satu konsep yang dibahas adalah defocused attention, yakni kondisi ketika perhatian tidak sepenuhnya terkunci pada satu objek atau tujuan. Jika seseorang harus menyelesaikan tugas rutin dengan aturan yang ketat, perhatian yang terlalu mudah berpindah tentu dapat menjadi hambatan.
Situasinya bisa berbeda ketika seseorang diminta mencari banyak kemungkinan, membuat gagasan baru, atau menghubungkan berbagai informasi yang tampaknya tidak berhubungan. Perhatian yang lebih luas justru dapat memberikan lebih banyak bahan untuk dieksplorasi.
Khalil menggambarkannya seperti sorotan lampu. Jika perhatian diibaratkan lampu sorot, kebanyakan orang mungkin mengarahkannya secara sempit pada satu objek. Sementara itu, pola perhatian tertentu yang berkaitan dengan ADHD dapat membuat “ sorotan” tersebut lebih luas sehingga informasi di sekitar objek utama ikut tertangkap. Dalam kondisi yang tepat, informasi tambahan itu dapat menghasilkan kombinasi ide baru.
Hubungan tersebut berkaitan dengan apa yang disebut free-associative thinking, yaitu kecenderungan pikiran bergerak dari satu gagasan ke gagasan lain secara lebih bebas. Proses semacam ini dapat menghasilkan hubungan yang tidak biasa dan menjadi bagian penting dari kreativitas.
Menariknya, kemampuan yang sama juga dapat muncul sebagai pikiran yang mudah mengembara atau terdistraksi. Karena itu, satu pola kognitif dapat memberikan hasil berbeda bergantung pada konteksnya. Ketika tugas membutuhkan fokus panjang dan ketelitian, gangguan perhatian dapat menjadi masalah. Ketika tugas membutuhkan eksplorasi ide, fleksibilitas tersebut mungkin justru berguna.
Temuan penelitian lain pada 2026 memberikan gambaran serupa. Studi terhadap 299 peserta menemukan bahwa individu dengan gejala ADHD yang lebih kuat cenderung lebih banyak menggunakan creative insight, yakni pemecahan masalah melalui munculnya pemahaman atau ide secara tiba-tiba, dibandingkan pendekatan analitis yang dilakukan secara bertahap. Namun, penelitian itu juga menemukan pola berbentuk U dalam kemampuan menyelesaikan masalah, sehingga hubungan ADHD dan kreativitas tidak dapat disederhanakan menjadi “ semakin tinggi ADHD, semakin kreatif”.
Penelitian sebelumnya juga menunjukkan hasil yang beragam. Tinjauan terhadap 31 studi menemukan adanya bukti peningkatan divergent thinking—kemampuan menghasilkan banyak kemungkinan atau ide—terutama pada individu dengan tingkat gejala ADHD yang tinggi tetapi belum tentu memenuhi diagnosis klinis ADHD. Artinya, hubungan antara ADHD dan kreativitas masih bergantung pada jenis kreativitas, karakteristik individu, dan tugas yang digunakan untuk mengukurnya.
Temuan tersebut membuka kemungkinan yang lebih menarik. Khalil dan koleganya mengusulkan agar aktivitas kreatif seperti seni, musik, tari, menulis, hingga permainan dapat diteliti sebagai cara membantu orang dengan ADHD mengarahkan perhatian yang lebih luas ke aktivitas yang terstruktur.
Ketika seseorang tenggelam dalam kegiatan kreatif, perhatian yang sebelumnya mudah berpindah dapat memperoleh sasaran. Anak yang sulit mempertahankan perhatian saat mengerjakan tugas sekolah, misalnya, mungkin mampu berkonsentrasi lebih lama ketika menggambar, memainkan alat musik, membuat cerita, atau mengerjakan aktivitas yang benar-benar menarik baginya.
Para peneliti bahkan mengajukan kemungkinan bahwa aktivitas tersebut bukan sekadar pengalih perhatian. Kegiatan kreatif mungkin ikut melatih jaringan otak yang berkaitan dengan pengendalian perhatian. Namun, gagasan ini masih membutuhkan penelitian lebih lanjut dan belum dapat dianggap sebagai pengganti terapi ADHD yang sudah terbukti.
Penting untuk tidak menarik kesimpulan bahwa ADHD merupakan kondisi yang secara otomatis membuat seseorang lebih kreatif. ADHD tetap dapat menimbulkan berbagai kesulitan nyata dan membutuhkan penanganan sesuai kebutuhan individu.
Yang berubah adalah cara melihatnya. Selama ini, perhatian yang mudah berpindah sering hanya dianggap sebagai kekurangan yang harus dikendalikan. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa dalam konteks tertentu, karakteristik tersebut mungkin juga berkaitan dengan kemampuan mengeksplorasi lebih banyak kemungkinan dan menemukan hubungan yang tidak biasa.
Para peneliti sendiri menekankan bahwa hubungan antara perhatian dan kreativitas masih belum sepenuhnya dipahami. Karena itu, mereka mendorong penelitian jangka panjang yang melibatkan ahli saraf, psikolog, klinisi, terapis seni, dan bidang lain untuk mengetahui kapan pendekatan kreatif benar-benar memberikan manfaat.
Dengan demikian, pertanyaan mengenai ADHD tidak lagi hanya berkisar pada apa yang tidak dapat dilakukan seseorang. Pertanyaan berikutnya adalah bagaimana karakteristik cara kerja perhatian tersebut dapat diarahkan agar membantu seseorang belajar, bekerja, memecahkan masalah, dan menghasilkan sesuatu yang kreatif tanpa mengabaikan kesulitan yang memang membutuhkan dukungan.
Advertisement
Rontok 1,88%, IHSG Terkulai Lemas ke Level 6.031,28

Kenalan dengan 'Neon Moon II', Kapal Sampah dari Coldplay di Cisadane

Kasus Ijazah Gibran, Sudah Selesai atau Belum?

Menilik 5 Green Movement Seru di Synchronize Festival

Deal Lepas 10,08 Miliar, Low Tuck Kwong Tambah Porsi Lego Saham Bayan Resources ke Jhonlin Baratama
