Kamis, 8 Oktober 2026 Cari

Anak Laki-Laki dan Perempuan Harus Diasuh Berbeda? Ini Penjelasan Psikologi Anak

Reporter : Abidah
Minggu, 6 September 2026 06:00
Anak Laki-Laki dan Perempuan Harus Diasuh Berbeda? Ini Penjelasan Psikologi Anak
Sebenarnya orang tua tidak perlu membedakan secara ketat antara laki-laki dan perempuan, yang penting besarkan saja sebaiknya.

DREAM.CO.ID - Ketika seorang anak laki-laki menangis setelah jatuh, orang dewasa mungkin spontan berkata, " Sudah, jangan menangis." Sementara ketika anak perempuan melakukan hal yang sama, ia lebih mungkin dipeluk dan ditanya apa yang membuatnya sedih. Perbedaan kecil seperti ini sering dianggap sebagai bagian dari cara alami mengasuh anak laki-laki dan perempuan. Namun, ada pertanyaan yang lebih menarik: apakah anak memang berbeda sejak lahir, atau orang dewasa yang membuat mereka tumbuh berbeda?

Jawabannya tidak sesederhana memilih antara faktor bawaan atau pola asuh. Perkembangan anak merupakan hasil pertemuan antara faktor biologis dan pengalaman hidup. Genetik, perkembangan otak, hormon, keluarga, sekolah, teman sebaya, dan budaya semuanya dapat berperan. American Academy of Pediatrics menjelaskan bahwa bahkan saudara kandung yang tumbuh dalam keluarga yang sama dapat berkembang menjadi pribadi yang berbeda karena pengalaman, lingkungan, teman, guru, dan cara mereka memahami pengalaman tersebut.

Anak Laki-Laki dan Perempuan Memang Bisa Berbeda

Sejumlah penelitian menemukan perbedaan rata-rata antara anak laki-laki dan perempuan dalam beberapa aspek perkembangan. Misalnya, perkembangan fisik dan bahasa dapat berlangsung dengan kecepatan yang berbeda pada setiap anak. Perbedaan perkembangan otak juga ditemukan dalam beberapa penelitian, meskipun hasilnya tidak berarti semua anak laki-laki memiliki kemampuan tertentu dan semua anak perempuan memiliki kemampuan yang berlawanan.

Masalahnya muncul ketika perbedaan rata-rata tersebut digunakan untuk memberi label kepada setiap anak. Anak laki-laki dianggap pasti lebih aktif, suka berkompetisi, dan tidak mudah menangis. Anak perempuan dianggap lebih lembut, pandai berbicara, dan lebih peka terhadap perasaan orang lain.

Padahal, kenyataan jauh lebih beragam. Ada anak laki-laki yang senang berbicara dan membaca, ada pula yang sangat sensitif terhadap perasaan orang lain. Sebaliknya, ada anak perempuan yang sangat menyukai permainan kompetitif, olahraga, atau kegiatan yang dianggap " maskulin" . American Psychological Association mengingatkan bahwa banyak klaim mengenai perbedaan laki-laki dan perempuan sering kali dibesar-besarkan dan tidak selalu menunjukkan perbedaan yang stabil.

1 dari 4 halaman

Pola Asuh Bisa Memperbesar Perbedaan

Cara orang tua memperlakukan anak juga ikut membentuk perkembangan mereka. Anak laki-laki, misalnya, kadang mendapat pesan bahwa menangis adalah tanda kelemahan. Mereka mungkin lebih sering didorong untuk berani, mandiri, atau kuat secara fisik.

Sebaliknya, anak perempuan dapat lebih sering diajak berbicara mengenai perasaan dan hubungan dengan orang lain. Masalahnya, jika pola tersebut terlalu kaku, anak dapat belajar bahwa ada emosi atau perilaku tertentu yang " tidak boleh" mereka tunjukkan hanya karena jenis kelaminnya.

Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Behavioral Neuroscience menemukan bahwa ayah dalam penelitian tersebut cenderung berinteraksi dengan anak laki-laki dan perempuan dengan cara berbeda. Ayah dari anak perempuan lebih sering bernyanyi, berbicara mengenai emosi, dan memberikan perhatian terhadap ekspresi wajah anak. Sementara ayah dari anak laki-laki lebih banyak melakukan permainan fisik dan menggunakan bahasa yang berkaitan dengan pencapaian. Para peneliti juga menekankan bahwa penelitian tersebut tidak dapat memastikan apakah perbedaan itu berasal dari faktor biologis atau norma sosial yang dipelajari orang tua.

Artinya, orang tua bisa tanpa sadar memperkuat perbedaan yang sebelumnya mungkin hanya kecil.

 

2 dari 4 halaman

Jangan Terlalu Cepat Menolong Anak Perempuan

Ada pula bentuk pola asuh yang tampak penuh perhatian tetapi justru dapat menghambat kemandirian anak. Misalnya, orang tua terlalu cepat membantu anak perempuan ketika ia kesulitan memasang sepatu, menyelesaikan tugas, atau menghadapi masalah.

Niatnya tentu baik. Namun, anak membutuhkan kesempatan untuk mencoba, gagal, memperbaiki kesalahan, lalu mencoba kembali. Pengalaman tersebut membantu anak membangun rasa percaya diri dan kemampuan memecahkan masalah.

Prinsip yang sama sebenarnya berlaku untuk anak laki-laki. Jangan karena dianggap harus mandiri, mereka justru dibiarkan menghadapi semua masalah sendirian. Mandiri bukan berarti tidak membutuhkan bantuan. Anak tetap perlu mengetahui bahwa meminta pertolongan merupakan hal yang wajar ketika memang diperlukan.

 

3 dari 4 halaman

Tidak Perlu Membuat Anak Masuk Kotak

Perbedaan antara anak laki-laki dan perempuan juga sering terlihat di sekolah. Ada penelitian yang menemukan bahwa anak perempuan memiliki keunggulan dalam nilai sekolah secara umum, termasuk pada sejumlah mata pelajaran bahasa, tetapi perbedaannya tidak berarti anak laki-laki tidak mampu berprestasi dalam bidang tersebut. Sebuah analisis besar yang mencakup lebih dari 500.000 siswa justru menunjukkan bahwa perbedaan nilai antara laki-laki dan perempuan sangat dipengaruhi mata pelajaran dan konteks pendidikan.

Karena itu, pendekatan seperti " anak laki-laki tidak suka membaca" atau " anak perempuan tidak cocok dengan matematika" justru dapat menjadi masalah. Ketika anak terus-menerus mendengar label tertentu, mereka dapat mulai menganggap label tersebut sebagai bagian dari dirinya.

Penelitian psikologi bahkan menunjukkan bahwa cara orang dewasa berbicara mengenai kemampuan anak dapat memengaruhi bagaimana anak memahami stereotip gender.

 

4 dari 4 halaman

Jadi, Haruskah Anak Laki-Laki dan Perempuan Diasuh Berbeda?

Ada beberapa kebutuhan individual yang tentu perlu disesuaikan dengan karakter dan tahap perkembangan anak. Namun, dalam hal-hal mendasar, anak laki-laki dan perempuan sama-sama membutuhkan kasih sayang, rasa aman, kesempatan belajar, batasan yang jelas, penghargaan, serta ruang untuk menjadi dirinya sendiri.

Anak laki-laki perlu belajar mengenali emosinya, bukan hanya belajar menjadi kuat. Anak perempuan perlu diberi kesempatan mengambil risiko yang aman, mencoba sendiri, dan belajar dari kegagalan, bukan selalu dilindungi.

Pada akhirnya, pertanyaan yang lebih penting bukan " Bagaimana cara mengasuh anak laki-laki dibandingkan anak perempuan?" , melainkan " Apa yang dibutuhkan anak ini untuk berkembang dengan baik?"

Sebab, dua anak dengan jenis kelamin yang sama pun bisa memiliki temperamen, kemampuan, minat, dan kebutuhan yang sangat berbeda. Genetik dapat memberikan titik awal, tetapi pengalaman ikut membentuk perjalanan mereka. Seperti dijelaskan American Academy of Pediatrics, nature dan nurture tidak bekerja secara terpisah. Keduanya terus berinteraksi sepanjang perkembangan anak.

Karena itu, mengasuh anak tidak perlu menjadi usaha untuk membuat anak laki-laki " lebih laki-laki" atau anak perempuan " lebih perempuan" . Tugas orang tua jauh lebih sederhana sekaligus lebih penting: membantu anak tumbuh menjadi manusia yang mampu memahami emosinya, menghargai orang lain, percaya pada kemampuannya, dan mandiri tanpa kehilangan rasa aman.

Beri Komentar