Kuli Bangunan Cetak Ahli Nuklir di UGM

Reporter : Ahmad Baiquni
Kamis, 4 Juli 2019 17:00
Kuli Bangunan Cetak Ahli Nuklir di UGM
Amnidi tak pernah membayangkan anaknya, Eko bisa kuliah di UGM.

Dream - Mungkin butuh keberanian besar bagi Amnidi, 54 tahun, untuk bermimpi memberikan pendidikan setinggi mungkin pada buah hatinya. Apalagi sampai anaknya bisa kuliah di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.

Nyatanya, hal yang muskil itu tetap bisa terwujud. Sang putra, Rahmat Eko Saputro, 18 tahun, kini tercatat sebagai mahasiswa Prodi Teknik Nuklir Fakultas Teknik UGM.

Hebatnya, Amnidi tidak perlu mengeluarkan biaya sedikitpun. Seluruh biaya kuliah Eko sudah terpenuhi lewat beasiswa Bidikmisi.

" Kayak enggak percaya bisa sampai seperti ini, saya yang buruh bangunan dan hanya lulusan SMP akhirnya bisa melihat Eko masuk kuliah," ujar Amnidi, dikutip dari ugm.ac.id, Kamis 4 Juli 2019.

Amnidi menceritakan kisah hidupnya yang harus berjuang di tengah keterbatasan ekonomi. Bersama istrinya, Ermida, 46 tahun, tinggal di sebuah rumah di Kavling Lama Batu Aji Permai Blok D No.25, Kelurahan Sungai Lekong, Kecamatan Sagulung, Batam, Kepulauan Riau.

Sebelum menempati rumah itu, Amnidi dan keluarganya tinggal di rumah liar terbuat dari kayu di Muka Kuning Kampung Ace, Batam. Sayangnya, banjir besar menerjang merobohkan rumah kayu itu pada 2006 dan memaksanya mengungsi.

Selama tinggal di pengungsian, Amnidi membangun rumahnya secara bertahap di atas lahan selebas 10x10 meter. Rumah itulah yang saat ini ditempati Amnidi. " Saya bangun sendiri rumah ini sedikit demi sedikit," kata dia.

1 dari 6 halaman

Upah yang Tak Cukup

Menyekolahkan anak, apalagi sampai perguruan tinggi, bukanlah perkara sepele bagi Anmidi. Upahnya sebagai buruh bangunan sebesar Rp3 juta tiap bulan hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga

Sebagai buruh bangunan, pekerjaan Amnadi tentu sangat mengandalkan proyek pembangunan. Dia terpaksa menganggur jika tidak ada proyek.

Bahkan dia juga pernah bekerja tanpa bayaran. Sebabnya, mandor yang menggajinya kabur dan membawa lari uang proyek.

" Pernah ikut proyek tapi mandornya kabur jadinya duit nggak keluar dan nggak bayaran. Risiko kerja ikut orang seperi itu," kata dia.

Masa terberat yang dialami Amnidi yaitu ketika menganggur dua bulan lamanya, sementara harus membiayai si bungsu yang akan masuk jenjang SMP. Meski begitu, dia tidak putus asa dan sepenuhnya yakin pada ketetapan Tuhan.

2 dari 6 halaman

Bangga Pada Anak

Di tengah kondisi sulit, Eko yang merupakan anak sulungnya meraih Juara I Olimpiade Astronomi 2018 tingkat Provinsi Kepulauan Riau. Anaknya lalu menjadi wakil provinsi untuk berlaga di tingkat nasional.

" Menang lomba Eko dapat uang saku dan itu digunakan untuk membiayai keperluan adiknya masuk SMP," ucap Amnidi menahan haru.

Semenjak SD, kata Amnidi, Eko adalah anak yang berprestasi. Sulungnya itu selalu meraih peringkat 1 di kelas pada SD dan SMP serta selalu masuk 3 besar di SMA.

Tak hanya itu, Eko juga sering mengikuti sejumlah lomba dan kerap menjadi juara. Di antaranya juara 3 lomba puisi pada Porseni Kota Batam 2015, juara 1 debat agama Islam tingkat Provinsi Kepulauan Riau 2018, juara 3 nasional kompetisi riset ITB 2018, dan juara 1 Olimpiade Astronomi 2018 tingkat Provinsi Riau.

Tidak ada harapan lain bagi Amnidi selain anaknya bisa kuliah lancar dan lulus tepat waktu. Dia hanya bisa mendoakan agar buah hatinya meraih kesuksesan.

3 dari 6 halaman

Tekun Belajar

Di kampus UGM, Eko mengaku punya keinginan untuk bisa kuliah sejak kecil. Keinginan itu menjadi semangat tersendiri bagi Eko.

Dia pun terpacu untuk tekun belajar dan meraih prestasi. Mimpinya pun terwujud setelah namanya masuk dalam daftar calon mahasiswa UGM jalur SNMPTN Undangan.

" Ingin kuliah sudah sejak SMP dan orangtua sebenarnya mendukung. Kendalanya kami ini hanya dari keluarga yang biasa-biasa saja sementara biaya kuliah sangat besar," kata dia.

4 dari 6 halaman

Tak Minder Profesi Orangtua

Meski berasal dari keluarga yang sangat sederhana, Eko tidak patah arang. Dia terus berjuang meraih mimpi dan tak pernah malu lahir sebagai anak dari buruh bangunan.

" Saya tidak pernah minder meski bapak buruh bangunan. Justru sangat bangga bapak yang buruh bangunan bisa menyekolahkan saya sampai ke UGM, ini luar biasa," ucap dia.

Eko membuktikan bagaimana perjuangan tak kenal menyerah akhirnya berujung pada hasil memuaskan. " Jangan pernah menyerah menggapai mimpi, kalau kita sungguh-sungguh pasti akan ada jalan," kata Eko bersemangat.

5 dari 6 halaman

Dulu Bocah Pemulung, Kini Jadi Mahasiswi Cantik Kampus Ternama

Dream - Akhir Mei lalu jadi momen penuh bangga bagi Sophy Ron. Gadis asal Kamboja ini merayakan kebahagiaan diterima menjadi mahasiswi di University of Melbourne, Australia.

Tidak ada yang menyangka gadis lulusan Trinity College ini dulunya adalah bocah pemulung. Sophy bahkan hampir kehilangan mimpi bisa menempuh pendidikan.

Dikutip dari World of Buzz, Senin 17 Juni 2019, Sophy melewatkan masa kecilnya di Tempat Pembuangan Sampah (TPS) Kota Phnom Penh. Dia bekerja sebagai pemulung sejak kecil hingga berusia 11 tahun.

 Sophy Ron

Waktunya habis untuk memungut sampah. Dia hampir tidak punya kesempatan merasakan bangku sekolah.

6 dari 6 halaman

Membanggakan

Berkat Cambodian Children's Fund (CCF), Sophy akhirnya bisa tersenyum bangga. Dia akhirnya bisa mewujudkan mimpi untuk menempuh pendidikan setinggi-tingginya lewat beasiswa dari lembaga donor tersebut.

Dulu, Sophy menghabiskan tujuh hari sepekan untuk duduk dan memilah-pilah sampah. Dia pun terpaksa menghirup asap beracun demi membantu kedua orangtuanya mengumpulkan uang untuk kebutuhan hidup.

Gadis ini dan keluarganya harus bertahan dengan hidup yang keras. Tidak jarang mereka makan makanan sisa yang didapat dari tumpukan sampah.

 Sophy Ron

Beri Komentar
ANGRY BIRDS 2, Animasi Lucu dengan Pesan Tersembunyi - Wawancara Eksklusif Produser John Cohen