Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Dr. Sanket Mehta Pertaruhkan Nyawa Demi Pasien Covid-19 Di Sebelahnya. (Foto: Times Of India)
Dream - Karena Covid-19 menyerang paru-paru, orang yang berada dalam kondisi kritis perlu diintubasi atau dipasang tabung endotrakeal melalui mulut atau hidung untuk menghubungkan udara luar dengan kedua paru.
Baru-baru ini seorang dokter yang positif Covid-19 di India memasang alat intubasi yang sedang dipakainya kepada pasien lanjut usia yang sakit kritis akibat penyakit yang sama.
Dr Sanket Mehta, seorang ahli anestesi, dirawat di Rumah Sakit BAPS di Adajan karena dinyatakan positif Covid-19. Dia dirawat di ICU dengan intubasi karena mengalami sesak napas dan tingkat oksigen yang rendah.
Pada tanggal 9 Agustus lalu, seorang pasien berusia lanjut dilarikan ke ICU karena Covid-19. Pasien bernama Dinesh Purani itu dalam kondisi kritis. Pria berusia 71 tahun itu juga perlu diintubasi.
Sayangnya, para dokter harus mengikuti protokol kesehatan Covid-19. Mereka mungkin membutuhkan waktu 15-20 menit untuk menangani pasien kritis yang baru datang itu.
" Dokter kami mungkin membutuhkan waktu 15-20 menit untuk mencapai ruang ICU setelah memakai pakaian APD lengkap," kata Dr Parshottam Koradia, CEO Rumah Sakit BAPS.
Tetapi para dokter dan staf RS BAPS terkejut ketika melihat Dr Mehta, yang hanya berjarak dua tempat tidur dari Purani, melepaskan alat intubasinya.
Dengan kekuatan yang tersisa, Dr Mehta berjalan menuju tempat tidur Purani dengan susah payah. Dia kemudian melakukan intubasi terhadap Purani yang sedang kritis.
Menurut para dokter, intubasi pada pasien yang kritis perlu dilakukan dalam waktu tiga menit atau pasien bisa mengalami kerusakan otak yang parah.
Dr Koradia mengatakan, Dr Mehta telah dirawat selama 10 hari dalan usahanya melawan Covid-19. Dia tidak dapat berbicara banyak karena lemah dan kesulitan bernapas.
" Dr Mehta sendiri membutuhkan oksigen sekitar enam liter per menit, tetapi dia bertaruh nyawa dengan melepas alat bantu pernapasannya untuk Purani," tambah Dr Koradia.
Dr Mehta sebelumnya bekerja di RS BAPS beberapa tahun yang lalu. Tetapi dokter berusia 37 tahun itu membuka praktik pribadi sebagai ahli anestesi tamu di rumah sakit swasta.
Sumber: World of Buzz
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya