7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?
4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele
Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?
(Sumber: Mirror.co.uk)
Dream - Beberapa waktu lalu dunia dihebohkan dengan sebuah gaun bergaris-garis dengan warna 'tidak menentu'. Sebagian menyebut gaun tersebut berwarna putih dengan garis-garis keemasan, dan sebagian lagi menyebut berwarna biru bergaris hitam. Sampai saat ini masih terjadi perdebatan mengenai warna gaun mini tersebut.
Tertarik dengan perdebatan soal warna semu itu, seorang ilmuwan bernama Michael Abrash mengungkapkan teorinya.
Kepala ilmuwan di perusahaan virtual reality Oculus, yang sekarang jadi milik Facebook, itu mengatakan bahwa dunia ini sebenarnya adalah sebuah kenyataan semu atau virtual reality.
Hal itu diungkapkan Abrash pada saat konferensi Facebook F8 yang bertempat di San Francisco pada Maret lalu.
Abrash mengatakan berkat film The Matrix ia kini percaya adanya virtual reality.
" Meskipun dibuat dengan teknologi yang mungkin tidak ada dalam beberapa dekade, The Matrix mengajarkan tentang bagaimana virtual reality itu nantinya," katanya.
Menjadikan penglihatan sebagai contoh, Abrash menjelaskan manusia tidak bisa melihat sinar inframerah atau ultraviolet karena hanya memiliki tiga sensor warna. Selain itu, manusia juga memiliki titik buta di setiap mata. Ini menunjukkan bahwa data visual yang kita terima sangat sedikit.
Mengacu pada heboh gaun biru-hitam/putih-emas, Abrash menjelaskan bahwa sistem visual kita mencoba menebak warna terbaik dan mengkomunikasikannya ke pikiran kita.
" Cara otak mengkompensasi data terbatas yang diterimanya adalah dengan mempertahankan model dunia nyata yang terus-menerus ter-update saat ada data baru datang dan model itulah, bukan dunia nyata, yang Anda alami dan percayai secara implisit."
Contoh ilusi lainnya adalah pil di tangan yang tampak berwarna merah dan biru. Abrash mengatakan warna kedua pil itu sebenarnya sama abu-abu.
Warna merah dan biru yang dilihat mata hanyalah rekaan otak berdasarkan sisa informasi di sekitarnya. Dan meski ketika seseorang tahu kedua pil itu berwarna abu-abu, mereka masih melihatnya sebagai pil warna merah atau biru.
Jadi, warna biru dan merah yang nampak sebetulnya adalah cara otak kita memproses informasi yang diterima.
(Sumber: Mirror.co.uk)
Advertisement
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?