Cara Menyiapkan Mental Sebelum Melakukan Downsizing atau Downgrading, Hal Apa yang Harus Jadi Prioritas?
5 Latihan Tanpa Beban yang Bisa Membantu Membentuk Otot Setelah Usia 50 Tahun
6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang
Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Dream - Membahagiakan seorang ibu. Itulah keinginan yang ingin diwujudkan oleh Ana Hanza Nursyarofah peserta Dream girls 2015 asal Tasikmalaya. Dan keinginan itu mulai Dia lakoni satu-persatu semenjak kepergian ayahnya.
Berikut kisah inpiratif dari Ana. Jika kalian suka, beri vote untuk Ana DI SINI
Aku dan Ceritaku
Aku pernah merasakan kasih sayang ayah. " Pernah." Setidaknya itu yang terjadi sebelum Yang Kuasa memanggilnya lebih cepat. Apakah kalian tahu rasanya merindukan seseorang yang tak mungkin untuk bisa dijumpai lagi?
Aku yakin, beberapa di antara kalian pasti pernah merasakannya. Dulu, aku hanyalah seorang gadis kecil yang manja. Meskipun kedua orangtuaku mengajari untuk selalu mandiri seperti tidur tanpa ditemani atau beberapa hal sederhana lainnya, aku selalu merasa dimanja. Mungkin karena aku adalah anak tunggal? Entahlah, yang aku tahu, saat itu, perhatian mereka sepenuhnya hanya untukku. Apapun yang aku inginkan harus kudapatkan.
Hanya dengan sedikit rengekan, simsalabim, persis seperti jin milik aladin atau seorang ibu peri, mereka akan langsung memenuhi apapun permintaanku. Namun, itu dulu, sebelum semuanya berubah drastis, sebelum ayahku dipanggil Yang Kuasa.
Beliau meninggal ketika usiaku masih 10 tahun, saat aku baru kelas 5 SD. Mungkin aku masih kecil, tapi aku masih ingat jelas bagaimana sakitnya itu. Bahkan, putus cinta ratusan kali tak akan mampu menandingi sakit itu. Sejak saat itu kehidupanku berubah. Ibuku berusaha bangkit dari keterpurukan, menjadi ibu sekaligus ayah untukku.
Setelah lulus dari SD, ibu mendaftarkanku ke sebuah SMP yang kuinginkan. Beliau berkata " Laahaula, semoga ada rizkinya untuk tetap menyekolahkanmu hingga lulus nanti. Dan semoga tak putus di tengah jalan."
Dan alhamdulillah di tahun ke tiga aku mendapatkan beasiswa dari sekolahku. Syukron, Allah. Setidaknya ibu tidak perlu mengeluarkan uang untuk daftar ulang dan membeli buku-buku LKS ataupun membayar iuran perbulannya. Lulus SMP dengan hasil yang cukup memuaskan, aku bertanya pada ibu, " Bu, boleh aku lanjut ke SMA?"
Ibu dengan berat hati menjawab, " Sepertinya ibu tak bisa menyekolahkanmu lebih tinggi lagi, Nak. Mungkin bisa saja ibu memaksakan mendaftarkanmu ke sekolah SMA, tapi ibu tak bisa menjamin untuk ke depannya. Bagaimana jika di tengah jalan kamu putus sekolah?" Sejenak aku terdiam, tak bisa menjawab.
Aku hanya ingin menangis. Dalam hati berkata, " Yaa Allah, kenapa Kau ambil ayahku lebih cepat? Kenapa tidak nanti saja setelah aku kuliah? Setelah aku wisuda? Agar ada yang membiayaiku sekolah? Atau nanti saja setelah aku sukses? Kenapa yaa Allah?" Astaghfirullah.
Aku bisa saja memaksa ibu untuk mendaftarkanku sekolah SMA, lalu mencari beasiswa seperti ketika SMP. Tapi tak tega rasanya jika terus-terusan membebani ibuku. Ibuku menyuruhku untuk masuk pesantren saja, dengan sedikit menghiburku, " Mesantren saja dulu, mungkin tahun depan bisa masuk SMA."
Aku pun masuk pesantren, di sana kudapatkan banyak pengalaman. Sempat terpilih menjadi sekretaris OSIP (Organisasi Santri Intra Pesantren). Sempat menjadi juara kedua lomba ceramah dan juara kedua lomba qiro'atul kutub yang sempat diselenggarakan di sana.
Setahun di pesantren tak membuatku merasa cukup dengan ilmu yang kudapatkan di sana. Aku masih punya keinginan untuk sekolah, masih sangat ingin sekolah seperti teman-temanku yang lain. Namun perekonomian keluargaku masih tak membaik, kulihat ibu masih sama saja seperti sebelumnya. Sempat ada uwa, kakak dari almarhum ayah menawariku sekolah dengan syarat harus ikut bersamanya di luar kota. Aku mulai galau. Antara melanjutkan sekolah atau tetap di sini, di pesantren, tak jauh dari ibu.
Akhirnya aku putuskan untuk tetap di sini saja, masuk pesantren dan tetap bersama ibu. Tak tega rasanya jika harus kutinggalkan beliau di sini sendiri. Aku yakin dan tetap istiqomah berdo'a semoga nanti ada jalannya aku bisa bersekolah tanpa harus kutinggalkan ibu.
Aku pun mencari kesibukan lain disela-sela kegiatan pesantrenku. Kursus menjahit kemudian ku ikuti. Beberapa bulan ikut kursus aku mulai berpikir, kenapa aku tidak kerja saja? Mencoba mencari uang sendiri untuk aku gunakan sekolah nanti. Aku putuskan untuk kerja.
Di saat anak-anak seusiaku masih meminta uang kepada orang tua mereka, aku di sini harus sudah mulai mencari kerja dengan mengandalkan ijazah SMP-ku. Alhamdulillah aku diterima bekerja di sebuah toko pakaian yang tak mementingkan ijazah untuk masuknya. Setengah tahun aku bekerja di sana, aku dapat kabar baik dari pesantren tempatku mencari ilmu. Di sana diadakan program dari pemerintah, kejar paket C yang setara SMA.
Syukron Yaa Rabb, Engkau telah menjawab do'aku. Aku bisa bersekolah dengan uang hasil kerjaku sendiri. Ya meskipun hanya kesetaraan paket C. Aku sangat mensyukurinya. Terlebih aku bisa membuat ibu bangga dengan nilai ujian kelulusanku. Aku mendapat nilai tertinggi diantara rekan-rekan yang mengikuti program paket C di pesantrenku.
Sekarang, tinggal ku fokuskan keinginanku yang lainnya, yaitu bekerja dan membahagiakan ibu. Karena beliaulah yang telah mengajariku tentang pahit manisnya sebuah kehidupan dengan perjuangan besar di dalamnya. Jika bukan aku yang membahagiakannya, siapa lagi?
Aku harus bisa membuat ibu bangga. Beliau sangat layak bahagia. Semoga dengan mengikuti Dream girls ini aku bisa membuat ibu bahagia. Yaa Allah, jadikan aku wanita yang bisa menjadi qurratul 'uyun untuk ibuku dan suamiku kelak. Aamiin Yaa Rabb.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia


5 Latihan Tanpa Beban yang Bisa Membantu Membentuk Otot Setelah Usia 50 Tahun

6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang