Cara Menyiapkan Mental Sebelum Melakukan Downsizing atau Downgrading, Hal Apa yang Harus Jadi Prioritas?
5 Latihan Tanpa Beban yang Bisa Membantu Membentuk Otot Setelah Usia 50 Tahun
6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang
Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Dream - Perceraian suami-istri dalam usia pernikahan 4-9 tahun meningkat pesat di Singapura dalam dua dekade terakhir. Namun temuan yang mengejutkan, pasangan muslim justru mengambil porsi terbesar.
Mengutip laman straittimes, Minggu, 26 April 2015, tren perceraian dini pasangan muslim di Singapura ini terlihat sejak 1999. Data terakhir pada 2013, sebanyak 14 persen pasangan muslim tak bisa menikmati pernikahan tahun kelima.
Jumlah ini lebih banyak dibandingkan pasangan yang bisa mempertahankan pernikahan antara 5-9 tahun.
Sebaliknya, pasangan nonmuslim yang terpaksa bercerai di usia pernikahan antara 5-9 tahun justru hanya 9,2 persen. Sementara mereka yang menikah di bawah suai pernikahan 5 tahun berjumlah 5,1 persen.
Pasangan hidup yang terpaksa bercerai menilai tren perceraian dini ini menunjukan, besarnya jumlah masyarakat muslim yang menikah dini atau menikah lagi.
Sebagai informasi, pasangan muslim Singapura yang menikah di usia kurang dari 21 tahun mencapai 5,2 persen untuk wanita dan 1,2 persen untuk pengantin pria. Angka ini lebih tinggi dibandingkan masyarakat non muslim masing-masing 1,6 persen dan 0,4 persen.
Seorang pengacara perkawinan, Abdul Rahman mengatakan dirinya menangani pasangan muslim yang berniat bercerai usai menikah pada usia 23 tahun.
" Pernikahan mereka menghadapi risiko berpisah lebih cepat karena kesulitan keuangan atau faktor emosional," katanya. (Ism)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

5 Latihan Tanpa Beban yang Bisa Membantu Membentuk Otot Setelah Usia 50 Tahun

6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?