Cara Menyiapkan Mental Sebelum Melakukan Downsizing atau Downgrading, Hal Apa yang Harus Jadi Prioritas?
5 Latihan Tanpa Beban yang Bisa Membantu Membentuk Otot Setelah Usia 50 Tahun
6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang
Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Bentuk Kesombongan
Dream - Menunaikan ibadah haji membutuhkan perjuangan yang sangat besar. Selain butuh uang banyak, antrean untuk bisa ke Tanah Suci cukup panjang.
Meski begitu, antusiasme masyarakat untuk mengobati kerinduan melihat Kabah sangat tinggi. Mereka pun ikhlas mengumpulkan uang sedikit demi sedikit hingga bisa untuk ongkos pergi haji.
Namun demikian, ada sebagian dari saudara kita yang ternyata punya motivasi lain dalam menunaikan ibadah haji. Salah satunya, agar dipanggil Pak Haji atau Bu Haji.
Lantas, bagaimana menyikapi hal ini?
Dikutip dari laman Rumaysho, tujuan utama melaksanakan haji adalah kemabruran. Haji sendiri termasuk dalam amalan jihad. Seperti tercantum dalam hadis riwayat Bukhari, dari 'Aisyah RA.
Wahai Rasulullah, kami memandang bahwa jihad adalah amalan yang paling afdhol. Apakah berarti kami harus berjihad?“ Tidak. Jihad yang paling utama adalah haji mabrur”, jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Haji mabrur pun mendapat balasan yang luar biasa, yaitu surga. Seperti tertuang dalam hadis Bukhari dan Muslim, dari Abu Hurairah RA, Rasulullah Muhammad SAW bersabda, " Dan haji mabrur tidak ada balasan yang pantas baginya selain surga."
Sementara terkait haji mabrur, Imam An Nawawi dalam kitab Syarh Shahih Muslim memberikan penjelasan demikian.
" Pendapat yang paling kuat dan yang paling terkenal, haji mabrur adalah haji yang tidak ternodai oleh dosa, diambil dari kata-kata 'birr' yang bermakna ketaatan. Ada juga yang berpendapat bahwa haji mabrur adalah haji yang diterima. Di antara tanda diterimanya haji seseorang adalah adanya perubahan menuju yang lebih baik setelah pulang dari pergi haji dan tidak membiasakan diri melakukan berbagai maksiat. Ada pula yang mengatakan bahwa haji mabrur adalah haji yang tidak tercampuri unsur riya'. Ulama yang lain berpendapat bahwa haji mabrur adalah jika sepulang haji tidak lagi bermaksiat. Dua pendapat yang terakhir telah tercakup dalam pendapat-pendapat sebelumnya."
Pendapat Imam An Nawawi menyiratkan keikhlasan dalam melaksanakan haji. Sementara gelar 'Haji' bisa termasuk riya' dan condong pada bentuk kesombongan.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia


5 Latihan Tanpa Beban yang Bisa Membantu Membentuk Otot Setelah Usia 50 Tahun

6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang