Rabu, 21 Oktober 2026 Cari

Sebelum Wafat, Putri Kiai Madura Cuci Kafan Pakai Air Zamzam

Reporter : Syahid Latif
Rabu, 10 Februari 2016 15:29
Sebelum Wafat, Putri Kiai Madura Cuci Kafan Pakai Air Zamzam
Dalam wasiat itu tertulis kain kafan tersebut telah dicuci dengan air Zamzam. Tertulis pula sejumlah ayat Alquran tentang kematian dalam wasiat itu.

Dream - Tak ada yang tahu kapan ajal datang. Tapi, banyak orang berusaha bersiap. Seperti yang dilakukan oleh Nyai Khotibatul Ummah binti KH A Warits Ilyas, putri pengasuh Pondok Pesantren Annuqqayah, Sumenep, Madura.

Neng Oot --demikian Nyai Khotibatul Ummah karib disapa-- wafat pada Sabtu 6 Februari silam, akibat mengalami pendarahan setelah melahirkan.

Setelah Neng Oot meninggal, keluarga menemukan kain kafan dan wasiat yang ditulis tangan. Dalam wasiat itu tertulis kain kafan itu telah dicuci dengan air Zamzam. Tertulis pula sejumlah ayat Alquran tentang kematian dalam wasiat itu. Seolah telah bersiap.

Keponakan Neng Oot, Muhammad Al-Faiz, mengatakan, kisah saudaranya itu mirip dengan Salahuddin al-Ayyubi, sultan Dinasti Ayyubiah. Dalam satu versi sejarah dikisahkan, Salahuddin al-Ayyubi selalu membawa peti-peti terkunci ke tengah medan perang.

Peti-peti itu dijaga, hingga orang-orang terdekatnya mengira bahwa di dalamnya terdapat harta dan permata berharga. Namun, setelah Salahuddin mengembuskan nafas terakhir dan peti-peti itu dibuka, ketika itulah orang-orang sadar bahwa dugaan mereka selama ini salah.

Peti-peti itu hanya berisi sepucuk wasiat, kain kafan, dan setumpuk tanah. Dalam wasiat itu tertulis: " Aku mau dikafani dengan kain kafan ini, yang telah harum oleh air Zamzam dan juga telah mengunjungi Kabah serta pusara Rasulullah. Sedangkan tanah ini, berasal dari bekas perang. Buatlah batu bata darinya dan jadikan bantalku di dalam kuburanku."

Konon, sesuai wasiatnya, dari tanah itu dibuatlah 12 batu besar yang kini bersemayam di bawah kepala Salahuddin di dalam kuburannya.

" Demikianlah, kesadaran seseorang untuk mempersiapkan kematiannya, baik persiapan lahir maupun batin, tidak lain merupakan rahmat Tuhan yang amat besar," kata Muhammad Al-Faiz.

" Sangat boleh jadi rahmat itu adalah rangkaian awal dari rahmat selanjutnya dalam dimensi yang lebih kekal. Kafa bil mauti wa'idhan. Cukuplah kematian memberi kita pelajaran, meniscayakan sebuah pertanyaan, ‘Apa yang sudah saya persiapkan?’" tambah dia. (Ism, Sumber: NU Online)

Beri Komentar