Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Neng Oot (kiri) (NU Online)
Dream - Tak ada yang tahu kapan ajal datang. Tapi, banyak orang berusaha bersiap. Seperti yang dilakukan oleh Nyai Khotibatul Ummah binti KH A Warits Ilyas, putri pengasuh Pondok Pesantren Annuqqayah, Sumenep, Madura.
Neng Oot --demikian Nyai Khotibatul Ummah karib disapa-- wafat pada Sabtu 6 Februari silam, akibat mengalami pendarahan setelah melahirkan.
Setelah Neng Oot meninggal, keluarga menemukan kain kafan dan wasiat yang ditulis tangan. Dalam wasiat itu tertulis kain kafan itu telah dicuci dengan air Zamzam. Tertulis pula sejumlah ayat Alquran tentang kematian dalam wasiat itu. Seolah telah bersiap.
Keponakan Neng Oot, Muhammad Al-Faiz, mengatakan, kisah saudaranya itu mirip dengan Salahuddin al-Ayyubi, sultan Dinasti Ayyubiah. Dalam satu versi sejarah dikisahkan, Salahuddin al-Ayyubi selalu membawa peti-peti terkunci ke tengah medan perang.
Peti-peti itu dijaga, hingga orang-orang terdekatnya mengira bahwa di dalamnya terdapat harta dan permata berharga. Namun, setelah Salahuddin mengembuskan nafas terakhir dan peti-peti itu dibuka, ketika itulah orang-orang sadar bahwa dugaan mereka selama ini salah.
Peti-peti itu hanya berisi sepucuk wasiat, kain kafan, dan setumpuk tanah. Dalam wasiat itu tertulis: " Aku mau dikafani dengan kain kafan ini, yang telah harum oleh air Zamzam dan juga telah mengunjungi Kabah serta pusara Rasulullah. Sedangkan tanah ini, berasal dari bekas perang. Buatlah batu bata darinya dan jadikan bantalku di dalam kuburanku."
Konon, sesuai wasiatnya, dari tanah itu dibuatlah 12 batu besar yang kini bersemayam di bawah kepala Salahuddin di dalam kuburannya.
" Demikianlah, kesadaran seseorang untuk mempersiapkan kematiannya, baik persiapan lahir maupun batin, tidak lain merupakan rahmat Tuhan yang amat besar," kata Muhammad Al-Faiz.
" Sangat boleh jadi rahmat itu adalah rangkaian awal dari rahmat selanjutnya dalam dimensi yang lebih kekal. Kafa bil mauti wa'idhan. Cukuplah kematian memberi kita pelajaran, meniscayakan sebuah pertanyaan, ‘Apa yang sudah saya persiapkan?’" tambah dia. (Ism, Sumber: NU Online)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya