Ilustrasi
Dream - Pada hari Minggu kemarin, sebuah asteroid seukuran rumah melewati Bumi. Salah satu pecahan asteroid itu diyakini telah menciptakan kawah selebar 39 kaki (20 meter) di Nikaragua.
Jika meteor kecil saja bisa membuat lubang besar, bagaimana jika asteroid induknya yang menghantam bumi?
Untuk mensimulasikan bagaimana sebuah asteroid raksasa menghantam Bumi dan mengetahui dampaknya, para ilmuwan di NASA dan Science Foundation Washington Nasional (NSF) mendirikan proyek The Killer Asteroid.
Proyek ini didirikan untuk menghitung seberapa jauh dan luas penyebaran kerusakan oleh batu ruang angkasa jika bertabrakan dengan planet kita. Menggunakan plugin browser Google Earth pengguna bisa memilih salah satu jenis proyektil, baik komet atau asteroid, serta ukurannya (kecil, sedang, besar).
Pengguna kemudian dapat memilih 15 lokasi di mana benda angkasa itu akan jatuh. Atau pengguna dapat memilih proyektil dan lokasi secara acak. Setelah menekan 'Go', animasi simulasi akan mulai menampilkan kejadian tabrakan dengan disertai keterangan tentang dampaknya.
Sebagai contoh, sebuah komet besar menabrak Atlanta di Georgia akan melemparkan puing-puing ke udara, cukup untuk menggelapkan langit.
Peta tersebut juga menunjukkan beberapa jenis proyektil bisa mengakibatkan kepunahan, seperti yang selama ini diduga terjadi pada dinosaurus. Namun jangan khawatir, hal itu hanya terjadi setiap miliaran tahun atau lebih.
Jika sebuah asteroid berukuran sedang menghantam London maka penduduk di Southend on Sea, Reading, Brighton hingga Cambridge akan menderita luka bakar tingkat pertama.
Warga Slough, Dartford dan Leatherhead pakaiannya akan terbakar. Bangunan terbuat dari baja akan hancur sejauh barat Hounslow dan kawahnya akan memusnahkan seluruh kehidupan di pusat kota London.
Semua perkiraan itu didasarkan pada perhitungan yang dibuat Profesor Robert Marcus dan timnya di Purdue University, London. Kalkulator online-nya memungkinkan pengguna menyesuaikan ukuran dan kecepatan proyektil.
Dalam membuat perhitungan tersebut, Profesor Marcus menggunakan ukuran asteroid 2014 RC sebagai perbandingan. Dia juga membuat estimasi tentang kecepatan, sudut dan kepadatan asteroid saat menabrak Bumi.
Asteroid akan mulai pecah pada ketinggian 207.000 kaki (63.100 meter), disusul dengan ledakan udara masif yang akan terjadi sekitar 1,17 menit setelah tabrakan. Intensitas suara akan berkisar 51dB, atau sekeras suara lalu lintas paling padat jika didengar dari jarak 1 kilometer.
Asteroid 2014 RC dilaporkan melintas dalam jarak terdekatnya dengan Bumi pada sekitar 07:18 BST (14:18 EST) di atas Selandia Baru pada Minggu kemarin.
Satu meteorit, yang diyakini merupakan pecahan dari asteroid 2014 RC, menciptakan kawah selebar 39 kaki (20 meter) di Nikaragua. Meteorit itu dikatakan telah meluncur ke daerah berhutan dekat bandara sekitar tengah malam. Tabrakannya begitu keras sehingga tercatat pada alat pengukur gempa Strauss.
Asteroid 2014 HC tidak menabrak Bumi, tetapi orbitnya akan membawanya kembali ke lingkungan planet kita di masa depan.
Menurut NASA, pergerakan asteroid di masa depan akan diawasi secara ketat, tetapi belum ada ancaman terhadap Bumi yang diidentifikasi.
Advertisement

Perempuan di Balik McDonald’s Indonesia: Dua Kisah, Satu Komitmen untuk Tumbuh dan Berdampak
Hj.Erni Makmur Berdayakan Perempuan Kalimantan Timur Lewat PKK


Kandungan Komposisi Susu dalam Produk Nutrisi Anak Makin Menjadi Perhatian

Nestlé MILO Dukung Pengembangan Program Basketball For Good di Indonesia

Nestlé MILO Dukung Pengembangan Program Basketball For Good di Indonesia

Kandungan Komposisi Susu dalam Produk Nutrisi Anak Makin Menjadi Perhatian
