Irjen Ferdy Sambo Jadi Tersangka Pembunuhan Brigadir J

Reporter : Editor Dream.co.id
Selasa, 9 Agustus 2022 18:50
Irjen Ferdy Sambo Jadi Tersangka Pembunuhan Brigadir J
"Tadi pagi dilaksanakan gelar perkara dan Timsus telah memutuskan untuk menetapkan sodara FS sebagai tersangka," kata Sigit di Gedung Bareskrim Polri, Jakarta.

Dream - Irjen Ferdy Sambo menjadi tersangka kasus pembunuhan ajudannya, Brigadir J atau Nofriansyah Yosua Hutabarat. Status tersangka Ferdy Sambo diumumkan langsung oleh Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo, Selasa 9 Agustus 2022.

" Tadi pagi dilaksanakan gelar perkara dan Timsus telah memutuskan untuk menetapkan sodara FS sebagai tersangka," kata Sigit di Gedung Bareskrim Polri, Jakarta.

Namun, Jenderal Sigit belum menyebutkan pasal yang dijeratkan kepada Ferdy Sambo. " Terkait pasal apa yang disangkakan nanti akan dijelaskan secara khusus Kabareskrim dan beberapa hal yang disampaikan pak Irwasum," tambah dia.

 

1 dari 8 halaman

Brigadir J ditemukan meninggal dengan sejumlah luka tembak di Kompleks Perumahan Polri Duren Tiga, Jakarta Selatan, Jumat sore, 8 Juli 2022.

Sebelumnya, Polri telah menetapkan Bharada E, Brigadir RR, dan KM sebagai tersangka kasus tewasnya Brigadir J. Bharada E atau Richard Eliezer merupakan sopir Putri Candrawathi, sedangkan Brigadir RR atau Ricky Rizal merupakan ajudan istri Ferdy Sambo, Putri Candrawathi.

Bharada E dijerat Pasal 338 Juncto Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP Juncto Pasal 56 KUHP. Ancaman hukuman Pasal 338 KUHP maksimal 15 tahun kurungan penjara.

Sementara, Brigadir RR dijerat dengan Pasal 340 KUHP tentang Pembunuhan Berencana subsider Pasal 338 juncto Pasal 55 dan Pasal 56 KUHP.

2 dari 8 halaman

'Bharada E Diperintah Atasan: Tembak, Tembak, Tembak!'

Dream - Misteri kematian Brigadir J alias Nofriansyah Yoshua Hutabarat sedikit demi sedikit terungkap. Terbaru, Bharada E atau Richard Eliezer yang sudah ditetapkan sebagai tersangka mengaku diperintah atasannya untuk menembak Brigadir J.

Kabar ini diungkap oleh Pengacara Bharada E, Muhammad Boerhanuddin, yang juga dituangkan ke dalam Berita Acara Pemeriksaan (BAP) penyidik tim khusus (timsus). Bharada E sempat menirukan perintah atasannya dengan kata, ‘tembak tembak tembak’.

" Iya dia disuruh nembak perintah atasannya di bawah tekanan juga, 'tembak tembak tembak," kata Muhammad Boerhanuddin, Senin, 8 Agustus 2022.

3 dari 8 halaman

Boerhanuddin belum mengungkap siapa sosok di balik atasan yang memberi perintah Bharada E. Termasuk apa yang diungkap.

" Saya enggak bisa sebut nama. Sementara petunjuknya sih dari atasan dia di tempat dia bertugas itu," ujar dia.

Boerhanuddin hanya menyebut, figur atasan yang dimaksud Bharad E ada di lokasi kejadian saat insiden tewasnya Brigadir J.

" Ada di lokasi memang (atasannya)," ujar dia.

4 dari 8 halaman

Selain itu narasi baku tembak polisi yang selama ini diinformasikan, Boerhanuddin mengatakan berdasarkan pengakuan Bharada E, tidak terjadi baku tembak saat di lokasi.

" Tidak ada memang, kalau informasi tidak ada baku tembak. Pengakuan dia tidak ada baku tembak," ujar dia.

Adanya proyektil peluru dari senjata Brigadir J yang ditemukan dilokasi kejadian, dikatakan Boerhanuddin hanyalah sebagai alibi yang memberikan kesan seperti saling baku tembak.

" Senjata almarhum yang tewas dipakai untuk tembak kiri-kanan jari kanan itu. Jadi kesannya saling baku tembak," ujar dia

" Menembak itu dinding arah-arah itunya," sambung dia.

5 dari 8 halaman

Meskipun kliennya telah menembak Brigadir J, Boerhanuddin memastikan, Bharada E tidak melakukan penganiayaan terhadap korban.

" Bharada E sudah nembak, keluar tidak tahu lagi proses terhadap almarhum itu gak tau lagi. Bharada E tidak menganiaya, tidak ada. Dia tidak tahu lagi proses apa-apa gimana," terang dia.

Sebagai informasi, Bharada Richard Eliezer Pudihang Lumiu atau Bharada E ditetapkan sebagai tersangka dam mulai ditahan pada Rabu, 3 Agustus 2022.

Dengan yang menjeratnya yakni Pasal 338 KUHP juncto Pasal 55 dan Pasal 56 KUHP. 

Sumber: Merdeka.com

6 dari 8 halaman

Terkuak, Bharada E Tembak Kepala Brigadir J dari Jarak 2 Meter

Dream - Ketua Komnas HAM, Ahmad Taufan Damanik, mengatakan bahwa Bharada E mengaku menembak Brigadir J dari jarak dekat. Bharada E menembak kepala Brigadir J dari jarak berbeda-beda.

" Iya, itu pertama sekitar enam meter, tapi ketika terakhir dia menembak Josua (Brigadir J) itu jaraknya dua meter bagian kepala," ucap Taufan, dikutip dari merdeka.com, Sabtu 6 Agustus 2022.

Namun, tambah Taufan, itu baru pengakuan Bharada E. Menurut dia, Komnas HAM belum bisa menyimpulkan peristiwa yang sesungguhnya.

" Iya, itu pengakuan dia tapi saya bilang enggak bisa kita sebagai penyelidik simpulkan itu. Bahwa sekarang penyidik jadikan dia tersangka tapi kan penyidik akan cari barang bukti," ujarnya.

7 dari 8 halaman

Taufan menjelaskan bahwa proses pembuktian pembunuhan terhadap Brigadir J akan ditentukan di pengadilan.

" Kalau dia menemukan barbuk (barang bukti) pendukung lain yang semakin memastikan, ya bawa ke pengadilan. Hakim nanti akan menguji bener enggak itu kan, tapi untuk mentersangkakannya memang wajar," ucapnya.

Komnas HAM telah memeriksa seluruh ajudan Irjen Pol Ferdy Sambo, dio antaranya Bharada E, Bripka R, dan Brigadir D. Ada pula asisten rumah tangga Ferdy Sambo yang ikut diperiksa.

Komnas HAM juga telah mendapat beberapa bukti insiden di rumah dinas Irjen Ferdy Sambo. Salah satunya, soal karakteristik luka tembak yang berasal dari jarak dekat.

" Kalau dari karakter luka, jaraknya memang tidak terlalu jauh. Tetapi ada beberapa karakter jarak yang berbeda-beda. Itu dari hasil pendalaman kami," kata Komisioner Komnas HAM, Choirul Anam, Selasa 26 Juli 2022.

8 dari 8 halaman

Anam menambahkan, polisi menyebut ada proyektil yang bersarang di tubuh Brigadir J. Fakta itu didasarkan pada temuan tujuh jumlah luka masuknya proyektil berbeda dengan luka keluarnya proyektil.

" Ada pertanyaan, kenapa kok jumlah lukanya masuk dan keluar berbeda? Jumlah luka masuk dan keluar berbeda karena memang ada yang masuk dan keluarnya memang pelurunya masih bersarang di tubuh. Sehingga jumlahnya berbeda," ujar dia.

Komnas HAM telah mendapat data luka di jasad Brigadir J dari hasil pemeriksaan tim forensik yang dipimpin Kapusdokkes Polri, Irjen Pol Asep Hendradiana, yang berlangsung pada Senin 25 Juli lalu.

Komnas HAM mendapatkan laporan dokumen mulai dari luka jenazah dari sesudah maupun sebelum autopsi. Dari penampakan sejumlah luka tembak di tubuh Brigadir J yang dikonfirmasi dengan keterangan keluarga.

" Kaki, bandingkan foto lebam yang pas hari minggu dengan foto jenazah yang diotopsi. Artinya angka kematian masih sangat pendek, itu kelihatan sekali. Jadi itu kunci dalam konteks autopsi adalah melibat jenazah sebelum di autopsi," ucapnya.

" Dan itu kami sudah lihat dengan detail, dan sangat mendalam. Ditunjukan bagaimana cara kerjanya dan pakai alat apa dan sebagainya, termasuk kami juga ditunjukan karena itu foto ya. Kameranya pakai kamera profesional yang memang untuk kerja-kerja forensik, pasti hasilnya berbeda," tambah dia.

Beri Komentar
Jangan Lewatkan
More